Coba lihat link ini :
Growing number of students use MP3 players as a study tool.
NEW YORK — Lindleigh Whetstone wears headphones as she shoves clothes into the washing machine.
Her classmate, Stepheno Zollos, wears them as he shops for groceries. An onlooker might assume the teens are listening to the latest top 40 hit, but they’re really learning Spanish.
Whetstone, 18, and Zollos, 17, are students in Kathy O’Connor’s class at Tidewater Community College in Southeastern Virginia. O’Connor got an $11,000 grant from the school to lend her students iPods so they can practice their Spanish conversations anywhere — not just sitting in front of a computer.
====
Artikel ini, tertanggal 7 Feb 2007, merupakan bukti bahwa ideku yang dulu tentang MP3 Learning memang bisa dimanfaatkan. Tinggal menunggu saatnya di Indonesia bakal seperti apa
Sedikit berbagi ilmu ah..
Kali ini aku pengen share tentang teori stress. Materi ini dulu aku dapatkan dari Bu Indri, waktu beliau ngajar tentang psikologi industri.
Untuk memahami fenomena stress, kita bisa melihat pada sebuah gelas yang diisi air (lihat gambar A). Gelas itu ibarat diri kita, dan air itu ibarat tekanan-tekanan / masalah yang menimpa diri kita. Masalah-masalah itu akan terus bertambah dan terus masuk ke dalam gelas. Apa yang terjadi kemudian? Jika kita tidak memiliki penyaluran, maka yang terjadi adalah seperti gambar B, yaitu air tumpah dari gelas. Kondisi ini sama dengan kondisi orang yang stress, dia bisa mengalami kegilaan atau bentuk-bentuk stress yang lain. Jadi masalah akan datang sedikit demi sedikit, terus menerus di tumpuk, dan pada titik yang kritis maka semua akan meledak.
Bagaimana untuk mengatasinya supaya tidak stress? Langkah pertama adalah memperbesar ukuran gelas. Artinya menguatkan diri kita. Semakin besar ukuran gelas, semakin banyak air yang masuk dan tidak tumpah. Artinya, semakin kuat seseorang, semakin dia mampu menerima beban yang orang lain tidak mampu menerima. Makanya kadang kita melihat orang yang terkena masalah kemudian menjadi murung atau bahkan bunuh diri, sementara orang lain yang mengalami beban yang lebih berat terlihat masih bisa tersenyum. Perbedaannya adalah pada ukuran gelasnya, alias kekuatan pribadinya.
Para psikolog (dari barat kalau gak salah) kemudian mengeluarkan alternatif mengatasi stress yaitu dengan membuat lubang-lubang pengaman di gelas, sehingga air tidak pernah sampai penuh, selalu bocor lebih dulu (lihat gambar C). Lobang gelas ini dalam kehidupan nyata berbentuk semisal bar tempat kita bisa menghancurkan berbagai barang, menggunakan foto orang yang dibenci sebagai sasaran tembak, dan berbagai pelampiasan stress yang lain (nggak tahu nih, apakah bersenang-senang di night club dengan musik yang hiruk pikuk dan memungkinkan orang berteriak-teriak dengan liar, termasuk sebagai lobang gelas atau tidak?). Dengan penyaluran seperti ini diharapkan air yang masuk tidak melebihi batas gelas (kapasitas diri). Kelihatannya solusi ini cukup cerdas bukan?
Tapi… ternyata ada yang jauh lebih cerdas lagi! Solusinya bukan membuat lobang pada sisi gelas, tetapi bagaimana membuat gelas tanpa dasar (lihat gambar D)! Dengan gelas tanpa dasar, air berapa banyakpun yang masuk maka tidak akan ada efek apapun bagi gelas. Semua langsung hilang. Bagaimana caranya membuat gelas tanpa dasar? Ternyata ini yang dipraktekkan oleh orang-orang yang taat beragama (note: teori ini tanpa merujuk agama manapun). Mereka selalu mengembalikan semua yang terjadi ke Tuhan, tidak ada yang tersisa buat mereka. Makanya mereka menjadi tidak akan pernah stress!
Itulah materi yang disampaikan oleh Bu Indri.
Sebagai catatan tambahan, bahwa dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah, ayat terakhir “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… “. Ayat ini sebenarnya bisa kita jadikan pegangan untuk tidak stress, karena Tuhan sudah menjamin kita tidak akan dibebani berlebih dari kemampuan kita!
Untuk yang ingin mencari referensi, boleh baca buku “Jiwa yang Tenang” karya Prof. Dasteghib. Buku ini mengajarkan tentang berserah diri. Kalau dihubungkan dengan teori ini, buku ini mengajarkan tentang bagaimana menjadi gelas tanpa dasar. Tapi nggak tahu nih buku itu masih bisa dicari or nggak. Kemarin aja aku nyarinya agak susah.. Kalau ada yang perlu, boleh deh kontak aku untuk peminjaman buku itu.
Aku teringat ketika beberapa waktu yang lalu presentasi ke BPK Penabur, saat itu menjelaskan tentang e-Learning.
Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya muncul pertanyaan yang menarik :
"Jika sudah ada e-Learning, murid bisa belajar sendiri dengan mudah, apa peranan guru?"
Hehe.. pertanyaan yang cerdas dan baru pertama kali itu aku ditanya seperti itu. Pada saat itu aku teringat pada guru para guru di Indonesia, Ki Hajar Dewantoro. Ingat ujar-ujar beliau tentang bagaimana guru mengajar :
Ing ngarso sung tulodho (di depan memberi contoh)
Ing madyo mangun karso (di tengah membangun kehendak)
Tutwuri handayani (di belakang memberi tuntunan)
Kemudian aku sampaikan, bahwa selama ini sistem pendidikan kita lebih banyak guru ada di depan. Sekarang, dengan adanya e-Learning membuat guru bisa berpindah posisi ke tengah dan ke belakang, artinya ini justru peningkatan kualitas pengajaran.
Sepertinya melihat ekspresi mereka, para guru tersebut sepakat dengan jawabanku itu. Aku rasa, jika itu benar terwujud, berarti pendidikan bisa jauh lebih baik dari saat ini. Aku lihat saat ini pendidikan tak lebih dari "pelatihan". Unsur-unsur pengertian dan penjiwaan tidak tampak pada siswa. Begitu juga nilai-nilai kejujuran, semangat berusaha, menghargai orang lain, bahkan sopan santun pun juga sulit terlihat! Big problem!
Semoga saja impian ini suatu saat terwujud, betapa guru lebih banyak berada di tengah, membangunkan kehendak para siswa sehingga mereka bisa terus maju.
Selamat tahun baru buat semuanya, semoga dunia pendidikan kita juga memasuki hari baru:-)
e-Learning memiliki banyak wajah. Salah satu yang sedang dipopulerkan saat ini adalah mobile-Learning. Temen kostku, Tamim, mahasiswa S-2 di ITB telah melakukan testing mobile learning. Di awal puasa kemarin dia membuat materi tentang berbagai hukum tentang puasa dan di pasang di internet. Ternyata ketika dia lihat, materi itu sudah didownload ribuan kali! (kalau nggak salah sekitar 8000 kali, lupa persis aku angkanya). Jumlah yang luar biasa untuk sebuah pembelajaran gaya baru.
Kemarin aku presentasi ke BPK Penabur. Saat menunggu giliran presentasi kok tiba-tiba otakku bekerja. Saat itu didepanku menggeletak MP3 Player. Kemudian pikiranku terusik, apa yang bisa dilakukan dengan alat itu? Dan.. wow! Mengapa tidak mempopulerkan MP3-Player sebagai alat pembelajaran?
Dalam pendidikan, pasti ada beberapa point dimana kita memang harus menghapal. Selama ini kebanyakan orang menghapal melalui bacaan. Kenapa tidak menggunakan suara? Bukankah hierarki efektifitas pembelajaran adalah
Membaca >> Mendengar >> Melihat >> Melakukan.
Dengan mendengar, maka pembelajaran akan cenderung lebih baik.
Aku membayangkan, suatu saat ketika akan ujian biologi, sejarah atau mata pelajaran lainnya, para siswa terlihat hening dan semua menggunakan earphone. Ternyata mereka semua sedang belajar.
Ini menurutku bukan hal yang tidak mungkin. Saat ini MP3 Player sudah banyak beredar. Atau anak-anak mendengarkan musik melalui handphone juga banyak kita temui. So, MP3-Learning ini hanyalah masalah waktu. Ketika ada pihak-pihak yang menyediakan medianya, aku yakin ini akan meledak.
Mungkin akan lebih baik lagi ketika ada pihak yang menyediakan fasilitas sharing untuk media MP3-Learning? Anybody interes???
So, mari kita lihat:)
Logika. Untuk yang kesekian kalinya aku melihat logika yang terbalik-balik. coba lihat di sini :
Link: Model-model "Playboy" 3 Dilaporkan, Samsons Juga Kena - KOMPAS CYBER MEDIA.
Ini cuplikan beritanya (kalau males baca link tersebut):
===
Sementara itu, petugas gabungan Polda Metro Jaya menggelar razia majalah Playboy yang dijual di lapak-lapak dan agen di wilayah Jakarta. Razia yang dilaksanakan Senin (17/7) itu juga melibatkan petugas dari sejumlah Polrestro dan Polsektro.
Sebanyak 900 majalah disita dalam operasi tersebut. Majalah Playboy yang disita merupakan edisi kedua dan ketiga, serta puluhan majalah lainnya, salah satunya Popular. Sejumlah penjual majalah dibawa untuk dimintai keterangan.
Kepala Satuan Remaja Anak dan Wanita (Renakta) Polda Metro Jaya AKBP Ahmad Rifai membenarkan razia tersebut. "Kami sebatas meminta keterangan mereka untuk mengetahui siapa pemasoknya," ujarnya saat dihubungi Warta Kota, Selasa (18/7).
===
Heran aku, apa manfaatnya coba Polisi mencari keterangan pemasok majalah? Kenapa nggak langsung ke induknya, perusahaan yang menerbitkan, jika memang polisi merasa itu bermasalah?
Pertanyaanku, sebenarnya Polisi ini logika berpikirnya terbalik atau memang sengaja mencari-cari alasan (untuk tujuan lain, entah apa itu)?
Aku sedih untuk dua kemungkinan itu.
Kemungkinan bahwa Polisi nggak mampu berpikir logis, ini yang aku sedihkan. Padahal dalam bayanganku berpikir logis itu cuman ibarat melangkahkan kaki ke depan aja. Apa susahnya? Hmm.. kali aku harus memikirkan bagaimana mendidik orang untuk berpikir logis?
Kemungkinan kedua, bahwa Polisi sengaja mencari-cari alasan (untuk tujuan lain, entah apa itu) aku juga sedih. Sedih kenapa Polisi menganggap masyarakat bodoh? Sedih, kenapa Polisi merendahkan logika? Kalau memang ada alasan yang mau disembunyiin, kenapa nggak mencari alasan yang lebih berkualitas? Yang nggak begitu kelihatan bohongnya gitu lho… Hmm, atau kali aku perlu memikirkan juga untuk mendidik menipu yang logis:D.
Semoga Tuhan memberkati bangsa ini untuk mampu berpikir dengan logis dan hati yang jernih, Amien..
Betapa susahnya mencari orang yang memiliki analisa tajam. Udah berkali-kali aku nyebar lowongan kerja, mencari Konsultan untuk Dot System, dan yang masuk kualitasnya belum bisa memenuhi harapanku. Akhirnya, terpaksalah aku membuat buku panduan sendiri.
Alhamdulillah bagian awal sudah dimulai. Bab pertama tentang system. Analisa System ini merupakan ilmu yang amat sangat berguna. Kalau boleh aku bilang, inilah dasarnya ilmu TI. Aku mendapatkannya pada waktu kuliah Pengantar Teknik Industri, di tingkat 1, diajarkan oleh Pak Senator hanya dalam sekian menit. Tetapi ilmu itu begitu membekas, dan kulatih terus sejak saat itu hingga saat ini. Alhamdulillah manfaatnya banyak. Setiap menghadapi sesuatu, analisaku cepat berjalan. Jadinya bisa memahami hal baru dengan cepat.
Buat yang tertarik mempelajari Analisa System, silahkan download versi pdf atau zip di link tersebut. Buat rekan-rekan yang jadi dosen TI, please ajarin siswa kalian ilmu dasar ini. Nggak lucu ada anak TI yang nggak ngerti kayak gini (meski kenyataannya aku ketemu banyak lulusan baru TI ITB yang nggak tahu juga ilmu ini). Kalau ada masukan, please contact me, untuk aku lakukan perbaikan. Semoga aja bermanfaat.
Kemarin malam aku ngobrol dengan Gina dan Noudie, sambil jalan santai habis makan di Jl. Pahlawan, bandung.
Kita ngobrol mulai dari penyebab kemajuan manusia (pada dunia Islam di jaman dulu dan di dunia barat saat ini). Sampai ujung2nya nyasar ke perbedaan Ulama Iran dan Ulama Indo.
Kesimpulan kita adalah : kalau Ulama Iran strateginya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bisa memahami ilmu, sementara Ulama Indo memilih untuk menyederhanakan ilmu supaya bisa dijalankan masyarakat (disini kita melirik pada ulama-ulama NU). Jadi ketika ilmu diatas dan masyarakat di bawah, untuk mempertemukannya Ulama Iran mengangkat level masyarakat, sementara ulama Indo menurunkan level ilmu.
Dua strategi itu kita nilai setara, karena pilihan bagaimanapun harus melihat situasi yang dihadapi. Jangan salah, menurunkan ilmu itu bukan hal yang mudah lho. Tidak banyak Ulama yang mampu membuat penyederhanaan. Semakin hebat ulama itu, maka pembicaraannya makin sederhana. Beberapa nama yang bisa kita lihat diantaranya adalah Mustofa Bisri, Hamka.
Pada saat berbicara itu, aku jadi teringat Kakekku. Tadinya aku nggak ngerti kenapa kok Kakekku (almarhum, H.A. Abdul Chamid, Kendal) disebut orang sebagai ulama besar. Semasa hidup beliau pernah menjadi anggota Rois Syuriah di PBNU (semacam MPR nya lah kalau di negara), ini adalah posisi yang tinggi, beliau pada waktu itu diatasnya Gus Dur. Aku juga melihat penghormatan orang-orang pada beliau cukup tinggi (termasuk dari ulama-ulama besar lain). Yang aku heran, perasaan aku melihat kakekku orang yang biasa-biasa sekali. Perkataannya sederhana. Aktivitasnya juga mengajar orang-orang desa dengan ilmu-ilmu yang sederhana. Buku-buku yang ditulisnya pun buku sederhana (semacam amalan sehari-hari, petunjuk sholat, dll). Sekarang aku baru nyadar, bahwa kakekku termasuk sedikit Ulama yang mampu menyederhanakan ilmu sehingga bisa tersampaikan ke petani, orang desa yang lugu-lugu.
Kembali tentang Gina, Noudie dan satu lagi Dhyni, mereka adalah partnerku diskusi soal pendidikan. Kemampuan mereka.. top deh! Cuman sayang mereka kayaknya agak kurang percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri. Padahal sebenarnya mereka udah membuktikan sendiri, bahwa mereka mampu. Saat ini di Indo sudah ada CD Multimedia Education dari Penerbit Ganeca Exact, Grafindo, Intan Pariwara, Tiga Serangkai dan Grafindo. Nah, 3 dari 5 penerbit itu, mereka sebenarnya yang ikut membidaninya. Dua jempol deh buat mereka :D. My thanks to you my friends:-).