Aug
16

Aktualisasi Kho Ping Ho dalam kekinian

Filed Under (General) by dotindo on 16-08-2007

Judulnya.. Huh!

Jangan coba-coba tanya arti judul itu deh, aku sendiri juga nggak ngerti:D

Itu sengaja pake judul biar keliatan keren kok. Nggak tahu keren beneran atau malah ngawur:D

Intinya sih, aku pengen me-review bagaimana cerita-cerita Kho Ping Ho dibandingkan kehidupan saat ini. Ternyata dari hasil perenunganku, aktifitas-aktifitas yang diungkap di Kho Ping Ho ternyata secara prinsip juga terjadi di masa kini. Yang ada mungkin hanya perbedaan "baju"nya alias beda latar belakangnya aja. Berikut point-point temuanku :

  1. Di cerita Kho Ping Ho banyak diceritakan tentang Kai Pang (Partai Pengemis). Bagaimana tokoh-tokohnya bisa menjadi tokoh elit. Di masa kini kita juga bisa lihat Partai Buruh (dan semacamnya), dimana tokoh-tokohnya bisa juga menjadi elit dan memiliki kehidupan yang mewah, tidak seperti buruh lainnya. Hanya bedanya, kalau di cerita Kho Ping Ho untuk menjadi ketua Kai Pang dibutuhkan keahlian silat (karena jaman dulu ilmu silat jadi tolok ukur) sekarang kecerdasan/keahlian ngomong menjadi dasar untuk pemilihan ketua Partai Buruh (soalnya, sekarang bukan jaman silat lagi).
  2. Di cerita Kho Ping Ho, setiap ahli silat ketemu terus bawaannya adu silat. Nggak peduli itu silat untuk persahabatan (tukar menukar ilmu atau sekedar apresiasi) ataupun pertempuran mati-matian (pibu). Tadinya aku merasa itu aneh. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, memang dunianya seperti itu. Wajar saja. Saat ini pun kalangan yang memiliki aktifitas sejenis juga kalau ketemu selalu melakukan pertukaran (baik ataupun buruk). Misalnya seniman ketemu seniman, akan saling memperlihatkan hasil karyanya. Antar politisi kalau ketemu, ngomongnya ya politik (entah mau kerjasama atau malah saling mempecundangi). Antar orang IT juga kalau ketemu, cenderung untuk ngobrol tentang perkembangan IT, dan benchmark kemampuan masing-masing. Jadi.. aktifitas pibu ataupun pertarungan antar ahli silat sebenarnya hal yang biasa saja. Wajar itu terjadi ketika silat merupakan aktifitas yang melekat dalam kehidupan.
  3. Cinta, intrik, dll. Itu mah seperti yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Hal yang menarik dalam pandanganku adalah tentang ajaran Khong Hu Cu yang dibawakan oleh Kho Ping Ho. Pertama kali aku mempelajari "mengosongkan diri" ya dari Kho Ping Ho. Jadi manusia diajarkan untuk mengosongkan diri. Tidak ada bahagia, tidak ada sedih. Menerima semua apa adanya. Ketika sekarang aku mempelajari Islam, ternyata ajaran Khong Hu Cu ini dekat dengan Islam. Sepertinya ini yang lebih dekat ke Islam daripada Budha / Hindu / Kristen / Katolik. (Note : Ini Khong Hu Cu yang diuraikan oleh Kho Ping Ho dan aku tangkap ya… Nggak tahu kalau Kho Ping Ho salah mengungkapkan atau aku salah menangkapnya). Hanya perbedaannya, di Islam diajarkan bahwa semua itu ketentuan Allah. Semua yang kita alami, supaya dikembalikan kepada Allah. Tidak ada sedih (yang keterlaluan), tidak ada gembira (yang keterlaluan). Kalau ada kejadian buruk, kita Istighfar. Kalau ada kebaikan kita bersyukur. Kalau disetarakan, aku menyetarakan ajakan Kho Ping Ho untuk "mengosongkan diri" ini dengan tulisan "Jiwa yang tenang (An Nafsul Mutmainnah)" karya Prof. Dasteghib (orang Iran). Kalau kata Kho Ping Ho, mengosongkan diri ini susah. Aku mencoba untuk menjadi "jiwa yang tenang" ini juga sama susahnya.

Itulah beberapa point yang aku lihat dalam karya Kho Ping Ho



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: