Jun
22

Konflik Peradaban

Filed Under (Ek Sos Pol) by dotindo on 22-06-2007

Aku belum baca bukunya Huntington  tentang The Clash of Civilization, cuman membaca berbagai tulisan yang mengupasnya aja. Melihat gejala-gejala yang ada saat ini, mau nggak mau aku kok jadi merasa berpikir bahwa perang peradaban memang benar-benar telah terjadi ya..

Coba lihat kejadian-kejadian berikut ini :

  • Palestina
  • Serangan 911
  • Perang Afghanistan
  • Perang Irak
  • Penghinaan Nabi Muhammad oleh koran Denmark (Jyllands Posten), yang diikuti berbagai koran di Eropa.
  • Dan yang terakhir : penghargaan “Sir” untuk jasa kesusastraan Salman Rushdie (penulis The Satanic Verses, alias Ayat-ayat Setan)

Apakah itu kejadian-kejadian yang terpisah, hanya kebetulan yang terjadi satu demi satu? Jika berpikir seperti itu, itu sama dengan kasus ada kenaikan suhu di seluruh dunia, tapi menolak kalau itu disebut pemanasan global. Alias mengingkari kenyataan! Sekali lagi ingat hukum statistik : tidak ada kebetulan yang terus menerus!

Yang menjadi pertanyaanku sekarang, bagaimana menghadapi perang peradaban ini? Haruskah kita mendiamkannya saja, atau membalasnya? Please note: sebagian besar serangan dimulai dan dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa dan keturunannya (Amerika dan Australi), yang sejak jaman dahulu memang senang berperang dan menganeksasi bangsa lain! (Silahkan baca history bangsa Eropa, mulai dari perang kastil antar bangsawan, hingga kolonialisme Portugis, Prancis, Inggris, Spanyol, Belanda, dll. Kalau masih kurang puas, lihat juga siapa yang saat ini melakukan investasi besar dalam persenjataan dan terus mengembangkan teknologi perang. Masih mau membela mereka bukan bangsa yang suka perang?).

Untuk bermain hancur-hancuran, aku sih sudah ada berbagai ide berlintasan di kepalaku. Masalahnya.. apakah hancur-hancuran itu yang akan kita lakukan? Jika kita menolak skenario hancur-hancuran, pertanyaannya kemudian : bagaimana supaya serangan yang terus menerus tersebut berhenti?

Kalau membaca sejarah Nabi, ada berbagai cara Nabi menghadapi serangan (fisik atau hinaan). Ada kasus Nabi menghadapi serangan/hinaan dengan kelembutan. Ada kasus Nabi menghadapi hinaan dengan menghindar, dan ada kasus Nabi menghadapi serangan dengan pedang. Masing-masing tentu dengan pertimbangan seorang Rasul dan petunjuk Tuhan. Itu kasus Nabi di jaman dahulu. Kembali ke pertanyaan sebelumnya, bagaimana menghadapi perang peradaban ini? Haruskah kita mendiamkannya atau  membalasnya? Atau mungkin ada strategi yang lain?

Aku belum tahu jawabannyaL



4 Comments Already, Leave Yours Too

Kreshna on 17 August, 2007 at 10:14 pm #
    

Buku The Clash of Civilization merupaka bagian dari propaganda right-wing negara-negara barat. Buku itu mempertajam STEREOTYPE rasial bahwa orang-orang ras timur itu selalu tradisional dan terbelakang, sedangkan orang-orang ras bule itu budaya -nya selalu maju dan modern. The Clash of Civilization merupakan salah satu buku favorit kaum Republikan di Amerika untuk menunjukkan bahwa budaya timur itu selalu kolot dan terbelakang, dan barat dan timur itu harus selalu berperang karena perbedaan tersebut.

Secara alamiah, yang namanya kebudayaan dan peradaban itu selalu dinamis dan saling berasimilasi satu sama lain. Orang-orang Romawi mengadopsi sebagaian dari budaya Yunani. Orang-orang asli Indonesia mengadopsi budaya Hindu dari bangsa India. Alexander The Great sendiri adalah orang Macedonia, tapi dia banyak mengasimilasi budaya Yunani, karena dia percaya bahwa budaya rasional orang Yunani bisa menyebabkan bangsa -nya menjadi maju.

Asimilasi antar budaya itu baru berhenti setelah penjajah barat datang ke negara-negara timur. Saat itu, budaya barat sudah lebih modern daripada timur, sehingga mereka memiliki persenjataan yang lebih kuat. Saat orang-orang timur masih percaya tahyul dan masih percaya kepada “kesaktian”, orang barat sudah lebih rasional dan sudah mulai memproduksi senjata api secara massal.

Tidak heran kalau bangsa barat menang, dan menjajah orang timur.

Masalahnya orang barat TIDAK MAU kalau sampai orang timur menjadi modern seperti mereka, karena kalau orang timur menjadi modern, maka celakalah negara-negara barat.

NAH, sejak saat itu mulailah orang barat menanamkan STERETYPE “budaya timur” dan “budaya barat”. Orang-orang bule terus menerus menanamkan DOKTRIN bahwa budaya timur itu harus selalu kolot dan terbelakang, supaya orang timur tidak menjadi maju.

Sebelum kedatangan orang barat, yang disebut sebagai “budaya timur” itu selalu dinamis dan saling mengasimilasi. Tapi sejak kedatangan orang barat, “budaya timur” tidak pernah mengasimilasi unsur-unsur rasional dari “budaya barat”, karena orang barat memang TIDAK MENGINGINKAN hal itu terjadi.

Salah satu contohnya adalah Indonesia ketika menjadi jajahan Belanda. Belanda yang sangat rasis itu bahkan tidak mengijinkan orang Indonesia asli untuk berpakaian seperti orang barat. Orang Indonesia hanya boleh mengenakan sarung dan blangkon. Titik.

Itu baru masalah pakaian, apalagi pendidikan dan cara berpikir.

Sekitar abad ke 19, Turki Ottoman merupakan negara maju yang ditakuti karena industri meriam –nya. Meriam-meriam Turki terkenal sangat menakutkan, terutama menjelang perang Krimea. Tetapi pada awal abad ke 20, Lawrence of Arabia sukses memecah-mecah Turki Ottoman menjadi kerajaan-kerajaan Arab tradisional yang kolot dan kembali ke jaman batu.

Bahkan paham Islam ekstrem yang kolot, yang menjadi dasar dari Taliban dan Al-Qaeda sekarang, mulai berkembang pada masa yang sama (awal abad 20). Mungkin itu juga taktik orang barat, supaya orang Islam jadi terus-menerus bodoh supaya gampang dijajah.

Bangsa Jepang adalah salah satu contoh bangsa timur yang tidak termakan oleh STEREOTYPE “budaya timur vs budaya barat” (doktrin yang dibuat oleh orang barat). Dari sejak Restorasi Meiji, bangsa Jepang berhasil mengasimilasi unsur-unsur rasionalisme dari “budaya barat”, sehingga mereka menjadi negara maju. Dan inilah yang paling ditakuti orang barat. Dari sejak awal abad 20, negara-negara barat selalu menganggap Jepang sebagai ancaman.

Dan bangsa Jepang berhasil mengasimilasi unsur-unsur rasional itu tanpa kehilangan identitasnya.

Nah, sekarang daripada kita termakan propaganda right-wing seperti The Clash of Civilization, lebih baik kita berusaha untuk menjadi modern dan maju. Kalau kita bersikeras untuk berperang dengan cara Al-Qaeda, maka monyet yang bernama George W. Bush akan berjingkrak-jingkrak kesenangan sambil terus menuding, “tuh kan, orang Islam memang bodoh dan terbelakang”. Tapi kalau kita semua bisa meniru Jepang, siapa tahu mungkin beberapa dekade lagi kita -lah yang akan menjajah negara-negara barat.


Kreshna on 17 August, 2007 at 10:19 pm #
    

Catatan: waktu Jepang kalah oleh Amerika pada akhir Perang Dunia II, Amerika memang membantu Jepang menjadi negara industri modern, TETAPI karena saat itu Amerika takut kepada ancaman komunisme Russia (Stalin). Seandainya saat itu tidak ada komunisme, mungkin Amerika sudah dengan senang hati mempengaruhi orang Jepang supaya kembali ke jaman batu.


Taufiq on 18 August, 2007 at 12:51 am #
    

Hehe.. nice comment.
Entah benar tidaknya, aku saat ini belum bisa comment. Thanks Kresh.


budi on 7 September, 2007 at 1:06 pm #
    

Clash of civilization antar budaya dan agama menurut saya tidak terlalu real (bukannya sama sekali tidak ada), yang sangat nyata saat ini sebenarnya adalah perang ekonomi. Amerika melakukan berbagai cara untuk menghancurkan Irak, Iran, Afghanistan karena motif-motif keserakahan ekonomi, bukan karena pertentangan Islam-Kristen, Barat-Timur (perhatikan tulisan-tulisan Noam Chomsky). Hal yang sama terjadi dengan negara-negara Amerika Latin, seperti Kuba, Venezuela dll, yang juga berseberangan dengan Amerika. Kita harus melakukan perang peradaban, yaitu: perang melawan agen pembodohan, pemiskinan, perusakan alam. Bentuk perangnya harus lengkap:
1. perang ideologi; melawan ideologi konsumerisme-keserakahan-hedonisme dkk.
2. perang ilmu-teknologi dalam tataran ilmiah. Asumsi bahwa ilmu-teknologi bersifat netral mulai banyak dipertanyakan. Beberapa anthropologist menyatakan bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan bukan sekedar alat yang kita pergunakan untuk mengolah alam, namun lebih jauh lagi, ilmu-teknologi membentuk persepsi dan konsep kita terhadap alam dah kehidupan. Misal: aliran science yang reduksionis membentuk pandangan alam yang bersifat mekanistik dan mati. Di buku hidden connection, fritjof chapra banyak sekali menawarkan sudut pandang baru, non-reduksionis. Ringkasnya, menurut chapra: berbagai permasalahan dunia (bioteknologi, global financial system, pemanasan global, organisasi manusia dll) hanya dapat diselesaikan jika kita mengasumsikan bahwa sistem yang kita hadapi adalah sistem hidup yang bersifat nonlinear dan kompleks, bukan sekedar sistem yang dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yg lebih sederhana- menurut kaum reduksionis.
4. Ilmu-teknologi dalam tataran praktis.
5. Seni. Melawan yang kesenian yang tidak bernilai seni- sinetron dkk.
6. Ekonomi. Contoh yang baik adalah Muhammad Yunus, Romo Mangun.
7. Perang fisik hanya jika jelas-jelas akan diserang secara fisik


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: