Demi masa..
Sesungguhnya manusia itu merugi,
Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal sholeh, dan saling mengingatkan tentang kebenaran, dan saling mengingatkan tentang kesabaran.
(Al Qur’an, Surat Al-Ashr)
Ada dua point yang aku lihat dalam surat tersebut. Pertama tentang masa. Kedua tentang bagaimana supaya tidak rugi menghadapi masa.
Aku tertarik tentang masa (waktu). Aku merasakan betapa takdir kita berjalan diatas masa. Tuhan mengendalikan takdir kita dengan menghadirkan kejadian satu demi satu dalam masa kita masing-masing. Betapa sering kita merasa "kok waktunya nggak pas sih?". Itulah kekuasaan Tuhan. Tuhan sengaja memberikan "waktu yang tidak pas" untuk kita. Artinya, memang itu bukan takdir kita. Meski sering juga kita merasakan "kok pas waktunya!". Artinya, yang "pas waktunya" itulah takdir kita.
Cukup banyak aku mengalami kebetulan-kebetulan yang dalam probabilitas sangat-sangat kecil. Namun probabilitas yang sangat kecil itu terjadi! Hanya kebesaran Tuhan lah yang membuat itu semua terjadi.
Aku sedang banyak merenung. Entah sebenarnya merenungi masa, takdir, atau Tuhan, aku nggak tahu. Yang jelas aku merasa takjub. Terkadang merasa sayang (tapi aku mencoba mematikan perasaan ini, karena ini seperti menggugat kebesaran Tuhan), terkadang aku merasa sangat bersyukur (bagaimanapun, masih jauh lebih banyak kebaikan yang aku terima daripada kesulitan/ cobaan/ hukuman yang aku terima).
Aku sekarang mengembangkan semua indra yang ada di didiriku. Mencoba menangkap pesan-pesan Tuhan yang disampaikan padaku. Pesan yang disampaikan melalui berbagai kejadian yang ada padaku. Berharap aku tidak melakukan kesalahan membaca pesan. Berharap tidak tertinggal masa.
Bismillah, jalani aja semuanya. Semua sudah ketentuan-Nya
Aku belum baca bukunya Huntington tentang The Clash of Civilization, cuman membaca berbagai tulisan yang mengupasnya aja. Melihat gejala-gejala yang ada saat ini, mau nggak mau aku kok jadi merasa berpikir bahwa perang peradaban memang benar-benar telah terjadi ya..
Coba lihat kejadian-kejadian berikut ini :
Apakah itu kejadian-kejadian yang terpisah, hanya kebetulan yang terjadi satu demi satu? Jika berpikir seperti itu, itu sama dengan kasus ada kenaikan suhu di seluruh dunia, tapi menolak kalau itu disebut pemanasan global. Alias mengingkari kenyataan! Sekali lagi ingat hukum statistik : tidak ada kebetulan yang terus menerus!
Yang menjadi pertanyaanku sekarang, bagaimana menghadapi perang peradaban ini? Haruskah kita mendiamkannya saja, atau membalasnya? Please note: sebagian besar serangan dimulai dan dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa dan keturunannya (Amerika dan Australi), yang sejak jaman dahulu memang senang berperang dan menganeksasi bangsa lain! (Silahkan baca history bangsa Eropa, mulai dari perang kastil antar bangsawan, hingga kolonialisme Portugis, Prancis, Inggris, Spanyol, Belanda, dll. Kalau masih kurang puas, lihat juga siapa yang saat ini melakukan investasi besar dalam persenjataan dan terus mengembangkan teknologi perang. Masih mau membela mereka bukan bangsa yang suka perang?).
Untuk bermain hancur-hancuran, aku sih sudah ada berbagai ide berlintasan di kepalaku. Masalahnya.. apakah hancur-hancuran itu yang akan kita lakukan? Jika kita menolak skenario hancur-hancuran, pertanyaannya kemudian : bagaimana supaya serangan yang terus menerus tersebut berhenti?
Kalau membaca sejarah Nabi, ada berbagai cara Nabi menghadapi serangan (fisik atau hinaan). Ada kasus Nabi menghadapi serangan/hinaan dengan kelembutan. Ada kasus Nabi menghadapi hinaan dengan menghindar, dan ada kasus Nabi menghadapi serangan dengan pedang. Masing-masing tentu dengan pertimbangan seorang Rasul dan petunjuk Tuhan. Itu kasus Nabi di jaman dahulu. Kembali ke pertanyaan sebelumnya, bagaimana menghadapi perang peradaban ini? Haruskah kita mendiamkannya atau membalasnya? Atau mungkin ada strategi yang lain?
Aku belum tahu jawabannyaL
Aku kok bingung dengan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) dan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Apa bedanya dua badut ini?
Yang bikin aku heran juga, sebenernya kerjaan mereka apa sih? Bukannya denger mereka melakukan perlindungan pada anak-anak yang katanya dipekerjakan secara paksa di jermal-jermal di tengah lautan di Medan sana, atau bagaimana mereka mendorong penanganan anak-anak jalanan oleh pemerintah, yang terjadi malah kerjaannya ngikutin gosip. Kerjaannya malah ngurusin anaknya Tommy dan anaknya Tamara. Kalau kayak gini, mending jadi Komisi Perlindungan Anak Artis dan Selebritis Indonesia aja deh. Jelas, nama sesuai dengan pekerjaan!
Note : tulisan ini dibuat oleh orang yang nggak tahu Komnas PA ataupun KPAI. Hanya melihat berita-berita gosip bertebaran di media tentang Komnas PA dan KPAI.
Aku baca ini kok jadi terharu :
http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0705/31/085530.htm
Bagaimana semut mengorbankan dirinya untuk kelancaran kelompok besarnya. Subhanallah..