Barusan aku membaca tulisan Ibnu Qayim al-Jauziyah. Beliau adalah ulama besar yang hidup pada beberapa ratus tahun lalu (meninggal pada tahun 751 H). Buku terjemahan Indonesianya ada yang berjudul “Pengobatan Komprehensif Penyakit Hati” (note: judul ini tidak sama dengan judul asli kitabnya. Ini improvisasi dari penerbit/penerjemahnya saja).
Aku tergetar ketika membaca bab “Doa dan Qadar”. Tergetar karena kebodohanku dibongkar disitu. Sebelumnya aku termasuk yang berpaham :
“Sesuatu yang sudah ditakdirkan pasti akan terjadi, baik seorang hamba berdoa ataupun tidak. Begitu juga, sesuatu yang tidak ditakdirkan terjadi pasti tidak akan terjadi, baik hamba itu meminta ataupun tidak”.
Dan Ibnu Qayim menyebutkan orang yang berpendapat ini adalah bodoh dan dunguL. Astaghfirullah hal adziem.. Aku berlindung kepada Allah dari kebodohan dan kedunguan.
Ulama besar seperti Ibnu Qayim pastilah bukan asal berkata. Tentulah pendapat beliau telah melalui pemikiran yang panjang. Dan ketika aku baca lebih lanjut, aku makin tersadar kesalahanku.
Aku termasuk orang yang berpendapat tidak ada hubungan antara sebab dan akibat (dalam kerangka ketentuan Tuhan). Misalnya aku naik kereta dan aku dari Bandung sampai ke Jakarta, maka menurutku bukan karena “aku naik kereta” maka “aku sampai Jakarta”, tetapi “aku naik kereta” dan “Tuhan membuatku sampai di Jakarta”. Ternyata pemahaman inipun ditulis oleh Ibnu Qayim dan dinyatakan satu paket dengan kesalahanku yang pertama salahL.
Ibnu Qayim menuliskan, bahwa sebab-akibat itu hukum yang memang berjalan. Orang kenyang disebabkan dia makan. Orang masuk surga disebabkan amal-amal baik yang dilakukannya. Orang masuk neraka disebabkan amal buruknya. Jadi, tidak benar sebab-akibat itu tidak ada. Nah terkait doa, doa itu ibaratnya sama dengan usaha. Doa itu ibarat kita makan kemudian kita kenyang. Doa itu bagian dari usaha yang dapat mendorong tercapainya keinginan kita.
Dengan pemahaman ini, maka hendaknya kita tidak hanya pasrah terhadap qadar, tetapi ikut menggunakan doa sebagai upaya untuk mengubah qadar. Dalam bahasa Ibnu Qayim, mengubah dari qadar satu ke qadar lainnya.
Subhanallah, ketentuan Tuhan-lah aku tersadar dari kebodohan selama ini. Dan Tuhan mewujudkannya melalui sebab akibat. Sebab aku membaca buku, akibatnya aku tersadar dari kebodohan. Aku berpindah dari qadar “tidak berilmu” ke qadar “berilmu”.
Tulisan Ibnu Qayim al Jauziyah ini sangat luar biasa. Aku baru membaca beberapa bab awal, tapi sejak awal sudah sulit untuk berhenti, karena uraiannya dari bab satu ke bab berikutnya sangat kuat keterkaitannya.
Kalau mau cari bukunya, di Gunung Agung atau Gramedia mestinya ada ya..
Betul sekali Fiq. Dulu gua sempat concerned karena sepertinya eloe itu menganut paham fatalisme, tapi bagus sekali sekarang eloe membaca buku itu.
Sebetulnya salah satu keistimewaan manusia itu adalah kebebasan. Manusia bebas berbuat apa saja (termasuk berusaha). Tuhan hanyalah sekedar menyediakan konsekuensinya; kalau orang itu jahat maka akan masuk neraka, kalau baik maka akan masuk surga, etc.
Ada komentar yang mengatakan bahwa “the future is not written” –bahwa masa depan itu memang tidak pasti dan masih bisa berubah. Mungkin Tuhan memang sengaja membuatnya demikian, supaya kehidupan manusia ini lebih dinamis. Supaya manusia itu berdoa dan berusaha supaya masa depannya menjadi lebih baik.
Sayangnya Kresh.. sampai saat ini aku masih belum bisa benar-benar memahami tulisan Ibnu Qayim itu. Bukunya ternyata nggak selesai kubaca. Soalnya aku baca ulang lagi yang bagian awalnya. Aku masih merasa belum benar-benar faham ilmu ini. Soalnya mencerna ilmu harus dengan sepenuh jiwa. Aku nggak tahu, ketidakpahaman ini ada di kepalaku atau hatiku.
BTW, loe kurang kerjaan banget ya? Sekali comment di banyak tulisan:D
Thanks Kresh!
Memang pusing… Bukti kepusinganku:http://niatnulis.wordpress.com/2006/07/26/aku-adalah-sejenis-mesin-canggih-yang-sedang-menulis/
Sebenernya kesulitanku itu terkait dengan history-ku sendiri.
Aku pernah berusaha sekian keras, tapi ternyata gagal. Dan sebelum kegagalan itu meledak, Tuhan telah memberi peringatan padaku “meski sekeras apapun usahaku, kalau Tuhan tidak menghendaki maka PASTI tidak akan terjadi”. Peringatan ini begitu nyata, tidak bisa diabaikan. Dan ketika kegagalan akhirnya terjadi, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dan dilain waktu aku juga melihat hal lain di balik kegagalanku itu, suatu ketentuan Tuhan yang sama sekali tidak pernah terpikir olehku.
Aku juga mengalami, aku berencana A, Tuhan memberiku B. A dan B ini sangat significant buat aku.
Hal-hal ini lah yang membuatku berkesimpulan, bahwa “Jika Tuhan menghendaki terjadi, PASTI terjadi. Jika Tuhan menghendaki tidak terjadi, PASTI tidak terjadi”.
Eh, gara2 nulis ini (dan gara2 barusan ngasih comment ke bolgnya budi diatas), aku kok jadi sadar kesalahanku ya..
Kesimpulanku kan hanya “Jika Tuhan menghendaki terjadi, PASTI terjadi. Jika Tuhan menghendaki tidak terjadi, PASTI tidak terjadi”. Kenapa aku sampai perluas dengan “Jika Tuhan menghendaki terjadi, kita berdoa ataupun tidak, PASTI terjadi. Jika Tuhan menghendaki tidak terjadi, kita berdoa ataupun tidak, PASTI tidak terjadi”
Aku tanpa sengaja menambahkan kata “berdoa ataupun tidak”. Padahal sebenernya kesimpulanku pertama itu tanpa ada kata-kata doa.
So, kayaknya tidak ada kontradiksi antara keyakinanku dengan doa.
Saya termasuk yang percaya bahwa permasalahan2 tentang kehendak Tuhan, Takdir, tidak akan dapat dipahami dengan jelas dan definitif, jawabannya tidak harus ya atau tidak. Kita hanya perlu memperluas sudut pandang kita terhadap pertanyaan2 tersebut dan mempertanyakan kembali asumsi-asumsi yang tersembunyi. Contoh: kita lihat lagi kalimat/pertanyaan/permasalahan berikut:
—- Misalnya aku naik kereta dan aku dari Bandung sampai ke Jakarta, maka menurutku bukan karena “aku naik kereta” maka “aku sampai Jakarta”, tetapi “aku naik kereta” dan “Tuhan membuatku sampai di Jakarta”.—- Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah aku sampai ke Jakarta karena naik kereta ataukah aku sampai ke jakarta karena Tuhan membuatku (menghendaki aku) sampai ke Jakarta?
Berikut ini sekedar pertanyaan klarifikasi terhadap kalimat dan pertanyaan di atas:
1. Mengapa kehendak Tuhan hanya dipertanyakan dalam hal “aku sampai di jakarta”? “Aku naik kereta” dapat terjadi karena kehendakku ataukah karena kehendak Tuhan? Mengapa dalam rangkaian kejadian “tindakan/usaha” dan “tercapai/tidak-nya tujuan”, kehendak Tuhan hanya dinisbatkan kepada tercapai/tidak-nya tujuan? Bukankah tanpa Kehendak Tuhan “tindakan/usaha” tidak akan dapat terlaksana?
2. Apakah hukum/analisa sebab –akibat tidak kompatibel atau tidak relevan dengan analisa “karena kehendak Tuhan”. Jika saya mengatakan: “Saya sampai di Jakarta karena baru saja saya naik kereta”, apakah hal ini berarti saya menafikan pernyataan: “Saya sampai di Jakarta karena kehendak Tuhan” ?
Pertanyaan lain:
3. Anggapan yg umum terjadi (benar/tidak ya?) adalah jika sebuah fenomena/kejadian memiliki rangkaian sebab akibat yang masih yang dapat dijelaskan secara ilmiah atau dapat diprediksi dengan cukup akurat maka dikatakan bahwa hal ini terjadi karena hukum alam, misalnya: batu jatuh ke bawah, bumi berotasi, kerja keras berbuah sukses dll. Jika akibat yang terjadi tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah maka penjelasannya adalah karena “kehendak Tuhan”. Misal: saya sudah bekerja keras dan keinginan saya tidak tercapai maka itu karena kehendak Tuhan dll. Apakah kehendak Tuhan hanya berlaku pada sekelompok kejadian dan tidak berlaku untuk sekelompok kejadian yang lain?
4. Sebuah ilustrasi: Insinyur mesin mendesain mesin sesuai kebutuhannya. Ia membuat model matematis berdasarkan hukum-hukum mekanik dan termodinamik untuk desain tersebut. Desain ini akan menjadi dasar perilaku mesin yang akan dibuat. Kemudian ia membuat mesin tersebut. Maka mesin tersebut akan berperilaku dekat dengan rancangan awal yang dia buat. Mesin tersebut memiliki beberapa panel yang dipergunakan untuk mengatur beberapa parameter jika diinginkan misal, kecepatan, transmisi daya dll. Sepanjang yang saya ketahui (benar/tidak ya?) masih banyak orang, sadar atau tidak sadar, sering menganalogikan penciptaan alam semesta dengan penciptaan mesin seperti dalam ilustrasi di atas. Tuhan menciptakan alam dan seperangkat hukum-hukumnya dan kemudian alam dapat berjalan berdasarkah hukum-hukum tersebut. Tuhan hanya akan turun tangan jika diperlukan, misal : menciptakan gempa bumi dengan tujuan-tujuan tertentu. Atau menggagalkan kesuksesan seseorang karena sebab tertentu. Selebihnya, alam dapat bekerja dan berjalan secara mandiri. Benarkah demikian?
Comment buat Budi :
point 1: Kamu bener Bud. Aku salah, tidak melihat bahwa proses/usaha pun ada dalam ketentuan Tuhan.
Point 2: Kalimat “Saya sampai di Jakarta karena baru saja saya naik kereta” adalah MENYEDERHANAKAN (bukan menafikan) dari kalimat “Saya sampai di Jakarta karena kehendak Tuhan”.
Point 3 dan 4: Aku termasuk yakin bahwa kehendak Tuhan meliputi segalanya (note: ini pemahamanku ya.. mungkin kalau didesak lebih jauh, pemahamanku ini akan bertemu ketidak konsistenan atau memang aku yang salah menarik kesimpulan). Bahwa sesuatu itu berjalan sesuai dengan perhitungan atau tidak sesuai dengan perhitungan, itu sebenernya hanya masalah ada hal apa saja yang terlibat dalam suatu kasus. Dalam kasus dimana hasilnya tidak sesuai dengan perhitungan, yang terjadi sebenernya adalah “ada faktor lain yang sebelumnya tidak diperhitungkan, namun ternyata muncul dalam kasus tersebut”. Jadi kasus “kaca dilempar batu tidak pecah” bukan berarti ada hukum yang salah. Bisa jadi karena ada faktor ukuran batu yang tadinya tidak diperhitungkan (asumsi awal batu besar) ternyata harus diperhitungkan.
Tapi, setelah kupikir-pikir lagi
===
Tuhan menciptakan alam dan seperangkat hukum-hukumnya dan kemudian alam dapat berjalan berdasarkah hukum-hukum tersebut. Tuhan hanya akan turun tangan jika diperlukan, misal : menciptakan gempa bumi dengan tujuan-tujuan tertentu. Atau menggagalkan kesuksesan seseorang karena sebab tertentu. Selebihnya, alam dapat bekerja dan berjalan secara mandiri.
===
mungkin juga uraianmu diatas itu benar. (Kalau nggak salah di Al-Qur’an dikatakan “Tuhan MENGETAHUI semua yang terjadi di langit dan di bumi”. Dan dilain hal dikatakan bahwa manusia bisa memutuskan mengikuti kebaikan atau keburukan. Artinya ada suatu hukum alam yang sudah disetting oleh Tuhan, dan Tuhan cukup mengetahui semuanya, tapi tidak terlibat secara langsung).
Duh, agak berat euy topiknya. Buat pembaca, harap berhati-hati, karena kemungkinan kesalahan pada topik ini SANGAT besar!
Предлагаю Вам научиться зарабатывать на интернет торгах Форекс.
Практиковаться можно на демо или центовых счетах, все наглядно показано в рисунках.
Бесплатные конкурсы. Forex счета любые: USD, RUB, EURO, от 0,01 лота и от 0,1 доллара. Различные потоковые новости, в т.ч. и в программе. Отличная партнерская программа. Кредитование трейдеров. Создай свой постоянный поток денег. Компания Ринкост - отличные условия для трейдинга: http://www.rinkost.ru/partner/fordoc
Buy cheap viagra
impotence drugs
10 pills x 100mg $39.95
30 pills x 100mg $89.95
60 pills x 100mg $129.95
90 pills x 100mg $149.95
Buy cheap viagra
man impotence
10 pills x 100mg $39.95
30 pills x 100mg $89.95
60 pills x 100mg $129.95
90 pills x 100mg $149.95
Buy cheap viagra
buy finpecia
10 pills x 100mg $39.95
30 pills x 100mg $89.95
60 pills x 100mg $129.95
90 pills x 100mg $149.95
Buy cheap viagra
vigrx
10 pills x 100mg $39.95
30 pills x 100mg $89.95
60 pills x 100mg $129.95
90 pills x 100mg $149.95
Этот блог заслуживает похвалы. Обязательно напишу про него на закрытом форуме вебмастеров. Думаю, вебмастера согласятся со мной. Кстати вы можете присоединиться к сообществу вебмастеров, закрытый форум вебмасетров.