May
30
Filed Under (Ek Sos Pol) by dotindo on 30-05-2007

Kembali ke sekian kalinya Australi melakukan penghinaan.

Kali ini terjadi pada kasus penggerebegan Sutiyoso. Mereka berlindung dibalik independensi masing-masing intitusi (ada pengadilan Koroner, ada Pemerintah Federa, dll).

Percuma lah berkilah seribu satu alasan..

Pemerintah Australi sudah tidak bisa dipercaya. Perlu berapa kali penghinaan lagi kah untuk percaya bahwa Pemerintah Australi memang bermusuhan dengan RI?

Logika dari mana coba, seorang tamu undangan, keperluan pemerintahan, kemudian datang-datang digerebeg polisi?

Disini kita bukan bicara pribadi Sutiyoso. Silahkan kalau Sutiyoso sedang jalan dalam urusan pribadi ke Australi kemudian ditangkap, itu urusan pribadi dia. Tapi saat itu dia sebagaitamu undangan Pemerintah New South Wales! Dan Sutiyoso hadir sebagai Gubernur Jakarta!

Kelakuan semau gue Australi ini setipe dengan kelakuan US. Lihat saja kasus penangkapan diplomat Iran di Irak oleh US. Seribu satu alasan dikemukakan. Apapun, semua adalah tipuan busuk!

Saat ini Pemerintah kelihatannya bingung bagaimana bersikap menghadapi Australi ini. Mau bersikap keras, khawatir hubungan antar negara tegang. Dengan kondisi ini, kurasa yang dapat bergerak adalah masyarakat. Kita bisa mengatakan ke orang-orang Australi, masyarakat Indonesia independen dari pemerintah! Yang bisa kita lakukan adalah, ganggu kenyamanan kedutaan besar. Kita nggak bisa menyerbu dan membakar Kedubes. Maka yang tepat dilakukan adalah: bajak truk sampah, dan tumpahkan isinya di depan kantor Kedubes. Dengan adanya onggokan sampah, maka aktifitas Kedubes untuk keluar masuk juga akan tersendat. Kemudian Pemda mengambil kebijakan untuk tidak membersihkan sampah itu. Done! Tamparan berbalas tamparan! Mereka sudah menyatakan penghinaan dan kebencian ke Indonesia, kita juga sudah membalasnya!

Buat KONTRAS yang mengatakan jangan berpikir nasionalisme sempit, bullshit! KONTRAS jangan menjadi anjing piaraan Australi! Ingat, yang digerebeg polisi adalah Pejabat Pemerintah Indonesia yang diundang oleh Pemerintah Australia! Bukan seorang pribadi Sutiyoso!

Semoga saja ada aktifis yang beneran bisa mencari truk sampah dan membuangnya di depan Kedubes!

May
15
Filed Under (Religion) by dotindo on 15-05-2007

Barusan aku membaca tulisan Ibnu Qayim al-Jauziyah. Beliau adalah ulama besar yang hidup pada beberapa ratus tahun lalu (meninggal pada tahun 751 H). Buku terjemahan Indonesianya ada yang berjudul “Pengobatan Komprehensif Penyakit Hati” (note: judul ini tidak sama dengan judul asli kitabnya. Ini improvisasi dari penerbit/penerjemahnya saja).

Aku tergetar ketika membaca bab “Doa dan Qadar”. Tergetar karena kebodohanku dibongkar disitu. Sebelumnya aku termasuk yang berpaham :

“Sesuatu yang sudah ditakdirkan pasti akan terjadi, baik seorang hamba berdoa ataupun tidak. Begitu juga, sesuatu yang tidak ditakdirkan terjadi pasti tidak akan terjadi, baik hamba itu meminta ataupun tidak”.

Dan Ibnu Qayim menyebutkan orang yang berpendapat ini adalah bodoh dan dunguL. Astaghfirullah hal adziem.. Aku berlindung kepada Allah dari kebodohan dan kedunguan.

Ulama besar seperti Ibnu Qayim pastilah bukan asal berkata. Tentulah pendapat beliau telah melalui pemikiran yang panjang. Dan ketika aku baca lebih lanjut, aku makin tersadar kesalahanku.

Aku termasuk orang yang berpendapat tidak ada hubungan antara sebab dan akibat (dalam kerangka ketentuan Tuhan). Misalnya aku naik kereta dan aku dari Bandung sampai ke Jakarta, maka menurutku bukan karena “aku naik kereta” maka “aku sampai Jakarta”, tetapi “aku naik kereta” dan “Tuhan membuatku sampai di Jakarta”. Ternyata pemahaman inipun ditulis oleh Ibnu Qayim dan dinyatakan satu paket dengan kesalahanku yang pertama salahL.

Ibnu Qayim menuliskan, bahwa sebab-akibat itu hukum yang memang berjalan. Orang kenyang disebabkan dia makan. Orang masuk surga disebabkan amal-amal baik yang dilakukannya. Orang masuk neraka disebabkan amal buruknya. Jadi, tidak benar sebab-akibat itu tidak ada. Nah terkait doa, doa itu ibaratnya sama dengan usaha. Doa itu ibarat kita makan kemudian kita kenyang. Doa itu bagian dari usaha yang dapat mendorong tercapainya keinginan kita.

Dengan pemahaman ini, maka hendaknya kita tidak hanya pasrah terhadap qadar, tetapi ikut menggunakan doa sebagai upaya untuk mengubah qadar. Dalam bahasa Ibnu Qayim, mengubah dari qadar satu ke qadar lainnya.

Subhanallah, ketentuan Tuhan-lah aku tersadar dari kebodohan selama ini. Dan Tuhan mewujudkannya melalui sebab akibat. Sebab aku membaca buku, akibatnya aku tersadar dari kebodohan. Aku berpindah dari qadar “tidak berilmu” ke qadar “berilmu”.

Tulisan Ibnu Qayim al Jauziyah ini sangat luar biasa. Aku baru membaca beberapa bab awal, tapi sejak awal sudah sulit untuk berhenti, karena uraiannya dari bab satu ke bab berikutnya sangat kuat keterkaitannya.

Kalau mau cari bukunya, di Gunung Agung atau Gramedia mestinya ada ya..

May
10
Filed Under (Ek Sos Pol) by dotindo on 10-05-2007

Kembali hari ini aku sedih..

Membaca kasus tanah Meruya. Memang aku nggak tahu kasus persisnya seperti apa. Hanya saja dengan track record MA selama ini, termasuk segala tingkah laku ketua MA yang arogan dan cenderung melindungi borok-borok pengadilan (mungkin Ketua MAnya sendiri juga penuh borok? Who knows?), aku kok cenderung percaya kalau MA kembali melakukan kejahatan ya..

Semoga saja kasus Meruya ini bisa menjadi titik tolak pembersihan terhadap MA. Harapanku (dugaanku?) dalam kasus ini MA akan kena batunya. Pengadilan biasa meng-urangajari satu atau dua orang, dan mereka tidak bisa melawan. Sekarang mereka mencoba mengurangajari ribuan orang secara bersamaan. Aku berharap mereka akan melakukan perlawanan besar-besaran. Hancur-hancuran sekalipun tidak masalah! Hancurkan apa yang bisa dihancurkan! Berharap setelah itu semua pihak mau belajar untuk membenahi sistem pengadilan. Bongkar seluruh kebobrokan dunia peradilan, jangan hanya kasus Meruya saja!

May
01
Filed Under (Ek Sos Pol) by dotindo on 01-05-2007

Aku kemarin baca sepintas bukunya K. H. Mustofa Bisri (judulnya Cermin Diri, atau semacamnya gitu.. lupa:p. Namanya juga baca sepintas:D). Inspiring book! Meski cuman sepintas, ada rasa yang tertinggal lah. Rasa yang bisa menggugah aku untuk terus berpikir.

Keluargaku mungkin bisa dibilang keluarga NU. Orang tua ku NU, kakekku juga NU, kumpulannya keluargaku (saudara-saudara dan teman-teman ortu) juga sebagian besar NU. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang bisa aku sumbangkan untuk NU?

Setelah berpikir lama, alternatif yang bisa disumbangkan untuk NU ada 2. Pertama disisi pendidikan. NU punya banyak Madrasah NU (SD, SMP, SMA). Cuman kalau ditanya kualitas, sepertinya sebagian besar masih sulit dibanggakan deh. Meski tetap ada 1-2 yang bagus, seperti di Pesantren Gontor (atau lainnya, aku lupa. Tapi aku pernah denger yang bagus kok). Alangkah baiknya jika aku bisa menyumbangkan dengan membenahi pendidikan di sekolah-sekolah NU tersebut. Gambaran kasarnya sudah ada lah..

Alternatif dua adalah sisi ekonomi. Mayoritas jama’ah NU adalah petani di pedesaan. Tantangannya adalah, bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Kesejahteraan petani bisa meningkat ada dua cara, pertama dengan meningkatkan pendapatan. Kedua dengan menekan biaya. Bayanganku lebih mudah jika konsentrasi pada peningkatan pendapatan. Salah satu caranya adalah membangun jalur besar distribusi, memotong mata rantai tengkulak. Dengan fasilitas teknologi informasi, bayanganku bisa memberikan harga yang lebih baik ke petani, yaitu dengan memperkecil margin antara harga akhir konsumen dan harga petani. Lembaga distribusi ini cuman mengutip biaya operasional + sedikit keuntungan (mungkin setahun cuman 5-10% diatas inflasi). Dengan demikian harga petani naik, dan harga konsumen juga turun. Pihak yang terhantam akibat ide ini adalah para tengkulak. Menurutku, tidak apalah para tengkulak ini terhantam. Sudah cukup selama ini mereka menghisap darah petani bermodalkan uang. Kalau tengkulak mau jalan bisnis, ya silahkan jalan bisnis dengan benar (tidak untung sendiri, sementara petani menderita). Aku sudah punya sih gambaran kasar untuk distribusi ini. Mulai dari teknis hingga permodalan (tapi masih harus didetilkan lho.. namanya juga gambaran kasar).

Masalah yang tersisa adalah.. kapan aku akan mulai menawarkan ideku ini untuk dijalankan? Hhh… kembali ke masalah waktu:(.

Tapi tidak apalah aku tuliskan ide ini dulu. Siapa tahu ada yang membaca dan tertarik untuk bersama-sama menjalankan (silahkan kontak aku dan tinggalkan pesan lewat friendster aja). Atau, at least suatu saat ketika aku ada waktu, aku teringat dengan ide ini yang pernah aku tulis, dan tinggal menjalankannya aja. Lihat deh nanti mana yang terjadi….