Mar
20

Aparat abdi masyarakat atau abdi pejabat?

Filed Under (Ek Sos Pol) by dotindo on 20-03-2007

Pertama, saya ingin menyatakan turut berduka untuk Wakapolwiltabes Semarang yang menjadi korban penembakan. Meski saya pribadi tidak kenal beliau, sudah pasti peristiwa penghilangan nyawa seseorang sangat disesalkan.

Respon Polisi saat ini adalah pemeriksaan besar-besaran atas sistem prosedur di mereka, dan meningkatkan pengamanan internal.

Pertanyaannya, tepatkah tindakan ini?

Mungkin tepat jika kita melihat bahwa mereka cukup responsif terhadap kejadian yang ada dan mencegah terulangnya kejadian yang sama.

Namun, layakkah tindakan ini?

Kenapa setelah yang menjadi korbannya adalah Wakapolwiltabes, baru dilakukan pembenahan? Kenapa ketika kemarin-kemarin muncul berita penembakan oleh polisi masyarakat sipil (salah satu yang aku ingat: ada yang menembak perempuan {mantan pacarnya yang kemudian sudah menikah} sekaligus dengan suaminya. Masih ada cerita-cerita lain lagi.), tidak muncul tindakan yang seperti itu?

Aku jadi khawatir, bukankah kepolisian itu aparat negara, dibiayai oleh negara (hasil pengumpulan uang dari masyarakat), sehingga pelayanan seharusnya kepada negara (masyarakat)? Jika ternyata lebih mendahulukan agenda pejabat, apakah ini tidak terhitung penyelewengan fasilitas negara?

Meskipun masyarakat mendapat manfaat, namun mungkin manfaat masyarakat akan lebih besar jika agenda lain lebih diutamakan.

Kalau ternyata pola mendahulukan pejabat ini lebih diutamakan, masyarakat yang agak nekat dan sedikit bisa berpikir mungkin akan melakukan tindakan yang mengerikan. Misalnya:

  • Korban lumpur Lapindo mungkin akan membuat bendungan di sekitar rumah Abu Rizal Bakrie, dan mengisi dengan lumpur hingga rumahnya tenggelam. Tujuannya supaya Menko Kesra lebih perhatian setelah merasakan jadi korban lumpur.
  • Keluarga korban perkosaan dan pembunuhan yang patah hati, mungkin akan membeli majalah playboy, dan setelah membacanya kemudian mencari anak ketua MA, memperkosa dan membunuhnya. Tujuannya supaya pengadilan tidak sembarangan lagi terhadap media yang merangsang syahwat.
  • Korban perampokan oleh preman di jalanan, mungkin akan mencari sasaran pejabat yang lewat, dan di lampu merah merah pejabat tersebut dirampoknya. Tujuannya supaya aparat segera membersihkan perampok jalanan.
  • Dll, dll. Intinya adalah, membuat suatu kondisi kritis yang menghantam para pejabat, sebagaimana kondisi kritis itu menghantam masyarakat umum.

Haruskah menunggu situasi seperti itu terjadi? Adalah suatu kebodohan besar jika hal-hal diatas terjadi. Bodoh buat pelakunya dan bodoh buat semuanya karena sampai menimbulkan pemikiran seperti itu. Agar tidak terjadi, please para pejabat.. segera bertindak ketika masalah muncul. Jadikanlah masyarakat itu sama dengan diri kalian. Jika ada masyarakat yang tidak nyaman, anggaplah bahwa diri kalian yang tidak nyaman. Dan segera selesaikan itu.

Aku berharap para pejabat yang memiliki kewenangan negara memiliki perasaan seperti itu. Semoga suatu saat itu terjadi, Amien…



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: