Pertama, saya ingin menyatakan turut berduka untuk Wakapolwiltabes Semarang yang menjadi korban penembakan. Meski saya pribadi tidak kenal beliau, sudah pasti peristiwa penghilangan nyawa seseorang sangat disesalkan.
Respon Polisi saat ini adalah pemeriksaan besar-besaran atas sistem prosedur di mereka, dan meningkatkan pengamanan internal.
Pertanyaannya, tepatkah tindakan ini?
Mungkin tepat jika kita melihat bahwa mereka cukup responsif terhadap kejadian yang ada dan mencegah terulangnya kejadian yang sama.
Namun, layakkah tindakan ini?
Kenapa setelah yang menjadi korbannya adalah Wakapolwiltabes, baru dilakukan pembenahan? Kenapa ketika kemarin-kemarin muncul berita penembakan oleh polisi masyarakat sipil (salah satu yang aku ingat: ada yang menembak perempuan {mantan pacarnya yang kemudian sudah menikah} sekaligus dengan suaminya. Masih ada cerita-cerita lain lagi.), tidak muncul tindakan yang seperti itu?
Aku jadi khawatir, bukankah kepolisian itu aparat negara, dibiayai oleh negara (hasil pengumpulan uang dari masyarakat), sehingga pelayanan seharusnya kepada negara (masyarakat)? Jika ternyata lebih mendahulukan agenda pejabat, apakah ini tidak terhitung penyelewengan fasilitas negara?
Meskipun masyarakat mendapat manfaat, namun mungkin manfaat masyarakat akan lebih besar jika agenda lain lebih diutamakan.
Kalau ternyata pola mendahulukan pejabat ini lebih diutamakan, masyarakat yang agak nekat dan sedikit bisa berpikir mungkin akan melakukan tindakan yang mengerikan. Misalnya:
Haruskah menunggu situasi seperti itu terjadi? Adalah suatu kebodohan besar jika hal-hal diatas terjadi. Bodoh buat pelakunya dan bodoh buat semuanya karena sampai menimbulkan pemikiran seperti itu. Agar tidak terjadi, please para pejabat.. segera bertindak ketika masalah muncul. Jadikanlah masyarakat itu sama dengan diri kalian. Jika ada masyarakat yang tidak nyaman, anggaplah bahwa diri kalian yang tidak nyaman. Dan segera selesaikan itu.
Aku berharap para pejabat yang memiliki kewenangan negara memiliki perasaan seperti itu. Semoga suatu saat itu terjadi, Amien…
Sore ini aku baca beberapa berita, dan aku hampir nangis:(.
Sedih sekali membaca seorang janda yang suaminya baru meninggal, kemudian ditertibkan oleh Satpol PP. Dan beberapa preman yang melihat itu kemudian melawan petugas untuk membela perempuan itu. Ya Allah.. semoga suatu saat aku diberi kesempatan memimpin, dan akan menghindarkan hal-hal keji, Amien..
Sementara itu pada hari yang sama ini juga, di Jakarta perwakilan parpol berkumpul di hotel Ritz Carlton untuk mendukung Fauzi Bowo. Duit siapa yang digunakan untuk menyewa gedung untuk acara itu? Akankah ketika menjadi gubernur nanti, Fauzi Bowo akan melindungi rakyat kecil?
Aku sering sebel. Betapa banyak pejabat merasa dirinya berhak untuk hidup mewah. Atas dasar apa? Ketika rakyat yang harus menggaji dia masih hidup kekurangan, apakah layak pejabat hidup mewah?
Sekarang aku cuman berharap, teman-teman seangkatan kita suatu saat bisa melakukan perubahan, Amien..
Hanya itu yang bisa dilakukan
Jangan melupakan ilmu statistik!
Kebetulan satu boleh terjadi. Kebetulan dua boleh terjadi. Namun kebetulan yang berturut-turut terus terjadi, kalau kita percaya itu kebetulan, berarti kita bodoh! Itulah kira-kira pesan dari Pak Gunawan, dosen statistikku dulu.
Pesan itu pula yang kuingat ketika kecelakaan terus menerus terjadi. There should be something wrong, not just a random accident!
Apa kemungkinan yang mungkin dibalik semua itu ?
Sejauh ini aku baru mengidentifikasi dua kemungkinan itu.
Jika kemungkinan 1 yang terjadi, selama belum ada koreksi besar-besaran dan mendasar, sepertinya kita harus siap dengan berbagai kecelakaan dalam berbagai bentuknya. Kita tunggu saja.
Jika kemungkinan 2 yang terjadi, kita cuman bisa berharap pada aparat keamanan (semoga masih bisa diharapkan deh…). Aktifitas sabotase ini hanya akan berhenti ketika : tujuan pelaku tercapai, pelaku tertangkap, atau pelaku menghentikan aksinya di ganti aksi yang lain.
Jika kemungkinan 3 yang terjadi, nothing we can do. It’s better if we wait and increase our security level.
Mana yang akan terjadi? Mari kita lihat sama-sama.. (sambil deg-deg an, apakah kita termasuk yang akan jadi korban? Apapun, siapapun korbannya nanti, tetap harus disayangkan:()
Terinspirasi oleh buku Freakonomics (menggunakan ilmu ekonomi untuk membedah berbagai hal/ sisi kehidupan), aku kok jadi kepikiran untuk menulis juga. Aku pengen menulis penggunaan Analisa System untuk membedah berbagai hal juga.
Mungkin aku bisa memulai dari blog ya..
Bayanganku aku akan buka fasilitas untuk tanya jawab. Silahkan orang menyampaikan apa yang ingin di analisa, aku akan memberikan jawabannya. Mungkin nama blognya Klinik-Sistem.
Weleh-weleh.. kok mimpi besar aku ya:p. Kapan coba aku ada waktu?
Hehe.. tak apalah mulai dari mimpi. Siapa tahu bisa terwujud beneran. So, temen-temen kalau ada yang punya masalah-masalah, apapun (asal jangan urusan dengan emosi dan urusan dengan Tuhan ya…) boleh coba disampaikan ke aku. Ntar aku coba modelkan dengan sistem bisa atau nggak. Mau masalah di kerjaan, urusan barang tetek bengek di rumah, di jalanan, dll. Dengan analisa sistem nanti aku coba untuk identifikasikan di mana kita mesti melakukan perbaikan / menyelesaikan masalah.