Aku tadi menuliskan ini di websitenya JIL. Nggak tahu bakal dimuat atau nggak, atau mau diedit dulu. Ini versi lengkap tulisanku itu :
===
Naudzubillah min dzalik..
Astaghfirullah hal adziem..
Saya pertama kali membuka JIL langsung membaca halaman Tentang JIL. Dan saya langsung kaget dengan isinya. Mana yang benar :
- Manusia menafsirkan Al-Qur’an, atau
- Manusia mempelajari Al-Qur’an ?
JIL berpanjang lebar menguraikan dirinya, dan semuanya ternyata berisi kesombongan dirinya. Seolah dirinya begitu hebat dengan nilai-nilai yang dianutnya. Lihat ini :
====
http://islamlib.com/id/tentangkami.php
4. Apa misi JIL?
Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.
==
Dengan seperti ini sudah jelas JIL memposisikan dirinya diatas Islam! JIL jelas tidak memilih jalan Islam (Islam = berserah diri)!
Itu dari sisi identitas yang dipublikasikan JIL.
Sekarang kita lihat pada artikel Perlunya Merombak Teologi Haji. Saya tidak bisa membayangkan ada orang yang bisa berkata semenjijikkan ini. Sekali lagi saya ber-istighfar. Bagaimana bisa orang menuliskan ide seenak udelnya sendiri (emang orang lain doyan udelnya dia apa???), tanpa logika langsung mengatakan waktu haji bisa diubah. Dan bukannya menyusun dalil pembenaran untuk idenya ini (karena memang nggak bisa mengungkapkan dalil), malah penulis menyombongkan diri dan menawarkan keuntungan materi dari ide ini. Seolah-olah orang Islam demi uang yang sedikit mau mengubah-ubah agamanya. Astaghfirullah hal adziem.. saya benar-benar jijik melihat tulisan ini.
Saya mungkin sering berkata kasar, tapi saya rasa saya tidak akan berkata yang semenjijikkan ini dan mumpublishnya dalam suatu web yang mewakili organisasi / gerakan. Dengan ini maka saya jadi semakin yakin bahwa kelompok JIL ini bukan sekedar aliran yang payah pemikirannya ataupun kelompok murtad, tapi lebih rendah dari itu.. menjijikkan!
JIL mengatakan: “Dalam Qur’an, waktu yang disebutkan adalah “bulan-bulan yang telah ditentukan” (asyhurun ma’lumat), yakni Syawwal, Zulqa’dah, dan Zulhijjah. Dengan kata lain, waktu sahnya haji adalah tiga bulan, bukan satu hari.”
Argumen JIL tersebut sepertinya cukup rasional dan masuk akal. Kalau Taufik berpendapat bahwa JIL itu salah, tolong berikan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa argument JIL itu memang salah (misalnya, bukti berupa Ayat Quran yang spesifik menunjukkan bahwa ibadah haji HARUS dilakukan pada hari tertentu). Begitulah caranya berdebat secara rasional.
Kalau hanya bisa memaki-maki dan menuduh orang lain murtad, itu namanya bukan berdebat rasional –itu namanya tanda-tanda orang yang BODOH dan FANATIK.
By the way, tahukah Taufik bahwa Islam yang kaku dan fundamentalis sebetulnya diam-diam dibentuk oleh para Orientalis dari barat (Snouck Hurgronje, Lawrence of Arabia, etc). Kenapa? Supaya orang Islam terus menjadi BODOH dan mudah dieksploitasi sumber daya minyaknya. Hal yang sama juga masih terjadi di dekade ini. Benih-benih pendirian Al-Qaeda sebetulnya ditanam oleh CIA. Amerika Serikat juga mendukung rezim Zia Ul-Haq yang fundamentalis dan menyebabkan orang Islam Pakistan menjadi bodoh. Di tahun 1970 -an, Amerika Serikat menggulingkan PM Iran Mossadeq yang terkenal berpikiran maju dan sekuler. Amerika Serikat juga bersahabat dengan Arab Saudi yang menjadi tempat asal paham Sunni Wahabbi, yang merupakan sumber dari fundamentalisme Islam. Negara-negara barat senang kalau orang Islam itu fanatik dan bodoh, dan paling cemas kalau orang Islam menjadi pintar dan rasional. Pemimpin Libya Khaddafi saja sudah mengatakan bahwa Islam fundamentalis itu merugikan orang Islam sendiri, dan menguntungkan negara-negara barat:
http://english.aljazeera.net/NR/exeres/940D71D9-31B8-4CB3-AE87-B11178A701BE.htm
Paham yang dianut oleh JIL sebetulnya merangsang rasio dan otak kita untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap “tabu” untuk dipertanyakan. Ya, kenapa tidak? Bukankah Tuhan sudah memberi manusia otak dan kecerdasan untuk berpikir? Bukankah Tuhan sudah memberi manusia hati nurani untuk menilai?
Sebetulnya Islam bukanlah agama yang kaku. Bahkan shalat –ibadah yang paling mendasar– tidak dibatasi dengan detail-detail yang kaku. Seseorang boleh shalat dengan berbaring kalau sakit, boleh shalat dijamma kalau tidak punya waktu, boleh shalat dalam hati, etc, etc. Bahkan dalam gerakan shalat saja ada variasi diantara bangsa-bangsa yang berbeda-beda.
Saya percaya bahwa agama itu memberi kemudahan. Manusia saja yang senang menyulitkan diri sendiri.
Daripada memaki-maki JIL dan menuduh mereka murtad, kenapa kita tidak mencoba untuk menganalisa Quran dengan rasio dan akal sehat. Kalau kita memang berpendapat bahwa JIL itu salah, marilah kita cari bukti-bukti yang menunjukkan bahwa ibadah haji memang HARUS dilakukan pada SATU TANGGAL TERTENTU SAJA. Mari kita analisa dan diskusikan secara rasional, dengan dasar-dasar argumen yang kuat. Begitulah cara orang rasional.
Nah, ini ada contoh kasus tentang menggunakan logika dalam agama: PUASA. Katanya kita hanya boleh berbuka puasa saat matahari terbenam. Lalu bagaimana kalau kita berpuasa di KUTUB UTARA, yang siang -nya bisa sampai 6 bulan (dan malam -nya 6 bulan juga). Apakah kita memilih untuk menggunakan AKAL SEHAT yang telah dianugerahkan Tuhan, atau kita memilih untuk menjadi ORANG BODOH dan mati karena berpuasa selama 6 bulan??
Saya percaya bahwa Tuhan tidak sekaku itu dalam prosedur-prosedur ibadah ritual. Saya percaya yang dinilai Tuhan adalah hati nurani (niat) dan tindakan.
Walaupun melakukan haji sesuai prosedur dan tanggal yang tepat, tapi kalau haji -nya dari uang hasil korupsi, kira-kira apakah haji -nya itu diterima Tuhan?
Di satu pihak, saya pernah mendengar khutbah Jumat tentang seseorang yang sudah susah payah menabung untuk naik haji. Saat baru mau berangkat, ia melewati suatu desa yang penduduknya kelaparan karena banjir. Ia lalu memberikan uangnya (yang tadinya untuk biaya berhaji) kepada penduduk desa yang kelaparan tersebut. Dan seketika itu juga Allah menerima ibadah orang itu sebagai haji yang mabrur, walaupun ia batal ke Mekkah.
Terus terang, siapa sih yang paling berhak menilai bahwa suatu ibadah haji itu sah atau tidak? Apakah kita manusia yang paling berhak menilainya?
-Kresh
PS: well maybe I’m not an atheist anymore, and I’ve been very interested in Islam since a couple of years ago. However, it still saddens me that there are Muslims who CHOOSE to be stupid. Negara-negara barat pastilah bersorak gembira melihat orang-orang Islam yang bodoh. Ya, silakan terus menjadi bodoh dan membahagiakan Amerika yang akan terus menguras minyak kalian. ![]()
PPS: mungkin saja Amerika juga diam-diam berusaha menghancurkan gerakan-gerakan rasional seperti JIL, karena kalau orang Islam mengalami “Renaissance” dan menjadi cerdas, maka celakalah negara-negara barat.
Oh, by the way, I just found something VERY interesting in the Holy Koran (Quran):
Al Baqarah 197.
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats[123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.
Sampai sejauh ini, pendapat JIL sepertinya cukup masuk akal (bahwa waktu sah -nya haji adalah beberapa bulan, bukan satu hari). Dan sampai sekarang, saya belum menemukan ayat Quran yang mengatakan bahwa ibadah haji hanya sah dilakukan pada SATU HARI TERTENTU.
Oke, mungkin jawaban yang final belum diperoleh, tapi seharusnya ANALISIS semacam inilah yang harus kita lakukan dalam menanggapi pendapat JIL, bukannya memaki-maki mereka sebagai orang murtad.
-Kresh
Thanks Kresh atas masukannya.
Ada dua point, pertama tentang JIL. Dan kedua, tentang Haji.
Tentang JIL, seperti sudah aku ungkap, dari deskripsi yang mereka tulis sendiri, Kesalahan mendasar adalah :
“JIL menilai Islam atas dasar nilai yang mereka anut”. Menurutku ini kesalahan mendasar. Seharusnya mereka mempelajari Islam (mempelajari langsung dari sumbernya : Al-Qur’an dan Hadist) dan mengambil nilai-nilai dari Islam. Bukan mereka sudah punya nilai sendiri kemudian seenaknya menafsirkan Al-Qur’an menggunakan nilai yang mereka yakini (entah benar entah salah).
Selama dasar JIL ini tidak dikoreksi, maka kesalahan demi kesalahan tinggal menunggu waktu.
Nah yang teologi haji itupun menunjukkan kengawuran mereka. Hadist itu bukan hanya apa yang diucapkan Nabi, tetapi juga tindakan. Dan ingat, hukum Islam itu tidak hanya Al-Qur’an, tetapi penjelasannya banyak dari hadist. Seperti sholat, di dalam Al-Qur’an tidak ada petunjuk tata cara sholat. Tetapi itu dari hadist. Begitu juga tentang mandi besar. Begitu juga tentang ritual haji.
Prosesi Haji yang begitu banyak aspek, dan tanggal-tanggalnya pun jelas. Tanggal 7-9 kita mesti puasa sunnah, hari Tasyriq (waktu penyembelihan dan HARAM berpuasa) pada tanggal 10-12 Dzulhiijjah, bagaimana membuat penjelasan itu?
Kemudian kata-kata “Al Hajju Arrafah”, Haji itu Arrafah, itu maksudnya apa? Kata Arrafah disini (penafsiranku, koreksi kalau salah) itu lebih menunjukkan aktifitas saat di padang Arrafah tanggal 9. Aktifitas itu yang dimaksud dengan Arrafah, bukan nama wilayah.
Yang aku maksud dengan menjijikkan adalah, dia cuman menuliskan sepotong hadist itu dengan pemahaman seenaknya dia aja, tidak menjelaskan hal-hal lain. Padahal ini hal yang umum. Dan ingat, ketika seseorang mencoba untuk melawan pemahaman umum, mestinya dia mempersiapkan semuanya dengan cermat dulu, bukan asal nyeletuk. Apalagi yang disinggung disini adalah hukum agama, dimana kita tidak bisa sembarangan berbicara.
Nah, instead of melengkapi dasar pemikiran, malah dia menawarkan keuntungan materi, dengan bahasa sangat menghina. Kresh.. aku sudah bertemu cukup banyak orang. Memang banyak orang-orang maling, termasuk berkedok ulama atau LSM. Tapi aku juga melihat betapa banyak ulama yang tulus, Lillahi ta’ala. Aku sangat-sangat tersinggung membayangkan para Ulama yang seperti ini dihina oleh orang yang jahat.
Jadi jelas, aku bilang orang ini jahat dan menjijikkan karena 2 hal :
1. Berkata sembarangan dalam hal agama (tidak mengungkapkan secara lengkap, dan diduga ini dengan sengaja)
2. Menghina para Ulama.
Melanjutkan tentang haji. Tentang cerita ada orang yang menyumbangkan semua uangnya sehingga batal haji, dan kemudian ternyata itu diterima sebagai haji mabrur, pertama: harus dicek masalah sanad (asal-usul cerita itu), bisa dipercaya atau tidak. Seandainya mengabaikan sanadnya, aku juga “cenderung” (note: aku tidak berani mengatakan “yakin” ya, sebelum tahu sanadnya) untuk percaya. Namun patut diperhatikan, bahwa masalah sosial itu dari dulu sampai akhir zaman akan tetap ada. Namun perintah haji tetap ada, maka tidak ada kata lain, Haji tetap wajib! Menghadapi masalah sosial itu justru dengan meningkatkan infaq dan shadaqah (selain zakat yang jumlahnya sudah “ditentukan”). Bukan dengan memotong budget haji untuk aktivitas sosial. Misalkan aku punya tabungan 100 juta dan aku punya budgget untuk haji, kemudian ada kejadian sosial yang aku perlu menyumbang, maka aku mesti potong dari tabunganku, bukan budget hajiku dan seolah-olah ibadah hajiku sudah terpenuhi.
Tentang dirimu kembali ke Islam, Alhamdulillah.. Dalam Islam yang paling penting adalah Taqwa. Aku tidak akan kaget jika ternyata kamu bisa menyalip aku yang mungkin kelihatan memulai lebih dulu dari kamu. Karena masalah Iman dan Taqwa adalah rahasia Tuhan. Dalam hukum-hukum Islam, akupun juga masih belajar, makanya aku nggak banyak berani bicara terang. Kecuali kalau ada yang ngomong dengan sangat ngawur dan niat menyesatkan, terpaksa lah aku ikut bicara.
Welcome brothers:-)
Fik,
Pertama, ucapan “atas dasar nilai yang kami anut” mungkin adalah gaya bahasa yang terlalu sombong. Mungkin mereka perlu memperhalus gaya bahasanya.
Tapi kalau kita membaca prinsip-prinsip JIL dengan open minded (http://islamlib.com/id/tentangkami.php), gua setuju bahwa umat Islam harus lebih rasional, lebih liberal, dan bahkan lebih sekuler (siapa bilang sekulerisme bertentangan dengan Islam? ;D ). Tapi diskusi tentang hal ini nanti saja melalui email –terlalu panjang untuk blog comment. You can contact me at kreshna_iceheart@yahoo.com if you’re interested in further discussion.
Masalah kedua, tentang perpanjangan waktu haji. OK, ini yang menarik.
Hadith itu memang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad melakukan haji pada tanggal-tanggal tertentu….
…TAPI apakah hadith tersebut menyebutkan bahwa haji DI LUAR tanggal-tanggal tersebut menjadi tidak sah? Menjadi tidak diterima Allah? Sedangkan kalau tidak salah, di Quran sendiri disebutkan bahwa waktu berhaji adalah beberapa BULAN.
Sekarang bagaimana kalau jumlah orang berhaji naik menjadi RATUSAN JUTA (penduduk dunia bertambah, orang-orang atheist seperti gua menjadi masuk Islam, he he). Apakah masih feasible untuk bersikeras supaya waktu haji “dipaksakan” ke tanggal-tanggal tersebut?
Salah satu hal yang menyebabkan gua menjadi tertarik kepada Islam adalah nilai-nilai yang universal dan berlaku sepanjang jaman –anugerah Allah kepada Muhammad.
Jika penduduk dunia bertambah, pemeluk Islam bertambah, gua percaya bahwa Islam tidaklah kaku –bahwa Islam membuka kemungkinan untuk memperluas waktu haji, misalnya. Cukup masuk akal. Kenyataannya di Quran saja kan tidak dibatasi pada tanggal-tanggal itu.
Mungkin saja maksud dari hadith itu adalah tanggal-tanggal yang baik untuk berhaji, bukan pembatasan sempit bahwa hanya tanggal-tanggal itulah yang sah.
Dan…. hal TERUTAMA yang membuat gua tertarik kepada Islam adalah bahwa Allah menghargai niat manusia; hati nurani yang melandasi tindakannya.
Khutbah Jumat yang gua dengar, tentang orang yang mengorbankan tabungan naik hajinya untuk penduduk yang kelaparan (lalu “dianggap haji” oleh Allah), TENTUNYA TIDAK BISA DIJAMIN KEBENARANNYA. Bagaimanapun itu cuma khutbah Jumat. Bagaimanapun juga, siapa sih yang tahu tentang “isi hati” Allah?
TAPI….
Tapi kalau dinilai berdasarkan HATI NURANI dan AKAL SEHAT, uraian itu cukup masuk akal.
Bukankah manusia yang menyayangi manusia lainnya, disayangi oleh Allah? Bukankah niat baik dan hati yang bersih itu disukai Allah?
Ibadah ritual adalah ibadah ritual, dan kita memang diperintahkan untuk berhaji, tapi gua percaya bahwa Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Pengampun. Bahkan perintah berhaji sekalipun “hanya bagi mereka yang mampu”.
Gua percaya bahwa Allah tidak “sekaku” itu. Tidak sesempit itu.
Gua percaya, bahwa kriteria seseorang itu baik atau tidaknya tidak hanya sekedar dinilai dari tanggal-tanggal orang itu berhaji. Tidak hanya sekedar dinilai dari kemampuan dia untuk memenuhi PROSEDUR beribadah ritual.
Bukankah hati dan niat itu juga dinilai?
OK I’m going to bed now. Send your argument, opinion, or even hate mail to kreshna_iceheart@yahoo.com. Tapi ingat yah, gua ini masih senang menggunakan kata-kata “fuck” saat berdebat, so don’t say I didn’t warn you… MUAHAHA!!
-Kresh
PS: gua bicara tentang “hati bersih”, bukan berarti hati gua sudah bersih lho… Mungkin di hati gua ini masih banyak hal-hal yang kotor (dan porno).
Tapi, gua hanya bisa berusaha untuk menjadi lebih baik. Mungkin hari ini berhasil, mungkin besok gagal, mungkin lusa berhasil lagi. That’s life. Mungkin besok gua atheist lagi? Siapa yang bisa tahu masa depan? Makanya gua juga belum berani menyebut diri gua “Islam”; yang berhak menilai hanya Allah, betul kan?
Kita manusia ini khan hanya bisa berusaha sebaik yang kita bisa, berusaha untuk lebih baik. Masalah diterima atau tidaknya, itu adalah “hak prerogatif” Allah. That’s my opinion (dan kebetulan itu juga adalah prinsip kakek gua almarhum).
-Kresh
hehe Kresh..
sama lah kita. Aku juga cuman mencoba untuk menuju bersih kok. Siapa tahu besok aku jadi tukang jagal:p, who knows?
Hidup itu memang naik turun, ibarat gelombang sinus. Cuman kalau bisa sih posisinya diatas dan sinusnya nggak sampai menyentuh angka nol:D
Tentang bahwa kita harus terbuka, aku sepakat! Tapi terbuka terhadap Islam. Bukannya kita terbuka penuh terhadap egaliter, dll tetapi malah tertutup terhadap Islam. Open minded tidak berarti kita harus menerima semua nilai. Masa mau mencampur adukkan hedonisme, foya-foya dengan nilai Islam yang melarang mubadzir?
Tentang menghargai ummat beragama lain, ini sudah ada hadist Nabi “Barang siapa memusuhi kafir dzimmi (non muslim yang tidak menyerang muslim) maka bermusuhan dengan aku”, itu kata Rasul. Kemudian untuk menuntut ilmu, aku lupa ada di Surat Al-Fath, atau Ar- Rahman atau Al-Waqiah, terdapat perintah untuk mengarungi angkasa.
Nah mau nilai-nilai apa lagi? Jika kita percaya Islam, Insyaallah segala macam nilai positif sudah ada disana. Justru yang dikembang-kembangkan manusia itu yang harus kita kaji. Sementara nilai-nilai yang ada di Al-Qur’an adalah nilai yang diturunkan dari Tuhan.
Kembali tentang haji, aku sih tidak mengatakan tertutup terhadap penafsiran itu. Tetapi, tolong lah kalau menulis itu yang lengkap. Jelaskan berbagai aspek yang lain. Bukan cuman nulis sepotong, menyembunyikan potongan besar yang lain, kemudian menghina. Itu yang aku benci. Coba kalau dia bisa menjelaskan, bahwa kalau di Bulan Dzulhijjah (ini masih di bulan yang sama) bagaimana kalau kita perluas hari? Nggak usah terlalu jauh memikirkan bulan-bulan yang lain, cukup di kata “bulan haji” saja. Aku jamin deh dia harus mabuk untuk memikirkan hukum 3 hari puasa (tgl 7,8 dan 9 Dzulhijjah) dan 3 hari HARAM berpuasa (10,11,12 Dzulhijjah). Kali nanti dia akan bikin :
Haji seri II, 3 hari sunnat puasa (tgl 15,16,17 Dzulhijjah) dan 3 hari HARAM puasa (tgl 18,19,20 Dzulhijjah).
Haji seri III, 3 hari sunnat puasa (tgl 21,22,23 Dzulhijjah) dan 3 hari HARAM puasa (tgl 24,25,26 Dzulhijjah).
dll..
Hihi.. coba aja dia buat formula, tanggung deh dia jadi badut paling tidak lucu. Dan aku jadi pengen tahu bagaimana caranya dia membolak-balikkan semua hukum-hukum itu.
BTW, gue masih ngamuk kalau lu sampe ngomong ke gue pake kata “fuck”!
hehe.. peace:D
Aku tadi buka-buka lagi, untuk perintah mengarungi bumi dan angkasa, ada di S. Ar-Rahman ayat 33 “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”.
Terus kalau mau belajar untuk “menyelewengkan” Al-Qur’an, coba baca S. Al-Waqiah ayat 60-61 “. Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui”
Nah, ayat itu bisa “dipaksakan” untuk menafsirkan bahwa kehidupan itu mengalami reinkarnasi, dan ini diakui dalam Al-Qur’an. Tapi kalau membaca ayat itunya dengan hati bersih, tentu tidak akan muncul penafsiran yang seaneh itu. Atau mau membaca lebih jauh di Al-Qur’an tentu juga tidak akan muncul kesimpulan itu.
Atau ayat lain tentang minum kham’r (zat yang memabukkan), kalau cuman membaca ayat yang sepotong doang, akan menemukan bahwa dilarang minum hanya diwaktu-waktu yang dekat sholat. Jadi kalau udah diluar waktu sholat halal minum khamr, hehe..:D. Tapi itu kalau “nekad” menafsirkan seenak perut sendiri dengan tanpa melihat ayat lain ataupun hadist lain.
BTW, gara-gara elu maksain diskusi ini, tadi pagi aku buka-buka Al-Qur’an sampe ketemu ayat sajdah 2 kali, jadi harus sujud 2 kali nih. Baru sekarang ini dua kali berturut2 dalam waktu dekat sujud tilawah.
Have a nice day kresh;)
Heh. Akhirnya kita jadi berdebat melalui blog comments, padahal biasanya debat itu dilakukan melalui web forums (paling ideal, karena bisa “quote”, bisa membuat URL reference, dan sebagainya)
By the way, friendster blog itu dibatasi sampai berapa comment, sich?
Back to the topic. Okay, let’s talk about secularism first. Banyak orang yang SALAH KAPRAH, menganggap bahwa sekularisme itu identik dengan hedonisme, free sex, dan sebagainya. Padahal sebetulnya TIDAK DEMIKIAN. Sekularisme dan Hedonisme berada pada “dimensi” yang berbeda (dimensi yang gua maksud disini adalah dimensi seperti pada Business Intelligence / Datawarehouse).
Sekularisme adalah paham kenegaraan yang memisahkan antara agama dengan politik. Kenapa dipisahkan? Karena sekularisme didasari dengan paham bahwa hak untuk beragama (atau hak untuk tidak beragama) adalah hak asasi setiap orang; agama adalah PRIVACY masing-masing individu. Negara tidak boleh mencampuri urusan agama seseorang. Misalnya saja, negara tidak berhak menghukum orang Muslim yang meminum minuman keras, karena walaupun itu dosa, tapi itu adalah urusan dia pribadi. Yang menanggung dosanya pun adalah dia sendiri (dan bukankah di agama Islam pun disebutkan bahwa setiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas tindakannya masing-masing? Tidak ada penebusan dosa, etc)
Kecuali, tentu saja, jika orang tersebut mabuk sambil mengemudikan mobil, atau mabuk sambil berteriak-teriak menganggu orang lain, maka suatu negara sekuler harus menghukum orang tersebut, karena sudah mengganggu / membahayakan orang lain.
Jadi, negara sekuler hanya mengatur hal-hal yang OBYEKTIF. Pembunuhan, pencurian, dan korupsi, misalnya, tetap dilarang oleh hukum negara sekuler. Tetapi negara sekuler tidak mengatur hal-hal yang SUBYEKTIF seperti agama. Negara sekuler tidak akan menghukum seorang Muslim yang makan babi, misalnya, karena negara sekuler menganggap bahwa itu adalah urusan pribadi dia dengan Tuhan.
Hedonisme, on the other hand, adalah gaya hidup yang berfokus kepada mengejar kesenangan, dan biasanya dilakukan secara berlebihan. Sebetulnya definisi ‘kesenangan’ itu bermacam-macam, dan main game pun termasuk kesenangan. Tapi secara umum, orang cenderung menanggap hedonisme adalah kesenangan yang bersifat pesta dan seks.
Jadi jelas, sekulerisme dan hedonisme adalah dua hal yang berbeda, sama berbedanya seperti ‘Mercedes-Benz’ dan ‘November’ (apa bedanya, hayo? Orang yang mengerti Datawarehouse / BI pasti langsung bisa menjawab).
Kesimpulannya, orang bisa saja menganut sekulerisme TANPA menganut hedonisme. Di lain pihak, orang bisa saja menganut paham negara agama, tapi tetap hedonis.
Gua mengenal orang-orang sekuler (bahkan atheist) yang MEMBENCI pola hidup hedonisme. Salah satu contohnya adalah Mike Wong (http://www.stardestroyer.net/Mike) . Sebagai seorang atheist, dia setuju dengan paham negara sekuler. Dia juga adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab, suami yang setia, bapak yang baik, dan tidak suka berpesta seks (kecuali jika hanya dengan istrinya. “Pesta” tapi hanya dua orang. He he). Dia juga tidak pernah minum alkohol, karena dia tahu bahwa banyak orang hidupnya rusak karena kecanduan alkohol.
Di lain pihak, keluarga raja Fahd (Arab Saudi) adalah penguasa-penguasa dari negara yang menganut sistem RELIGIOUS MONARCHY (monarki religius), dan mereka juga menerapkan hukum Islam (atau hukum-hukum yang mereka anggap sebagai “hukum Islam”) ke dalam hukum negara, seperti menghukum wanita yang tidak memakai Hijab. TAPI KENYATAANNYA, keluarga raja Fahd ini terkenal doyan berpesta-pora, bermewah-mewah, dan sebagainya. Malah sewaktu jutawan Adnan Kashoggi mengadakan pesta yang lebih mewah, keluarga raja Arab Saudi sampai sebal karena MERASA IRI. Mereka menganut paham monarki religius, tapi mereka juga menganut paham Hedonisme.
Jadi jelas, sekularisme hedonisme ( adalah tanda ‘tidak sama dengan’).
Tapi mengenai sekulerisme ini diskusinya bisa panjang, Fik, dan ini adalah termasuk topik yang gua senang. Mungkin lebih baik kita berdiskusi di email, atau di salah satu forum yang bisa kita temukan di internet. Terus terang, blog comment itu bukanlah tempat yang ‘nyaman’ untuk berdebat, karena tidak dilengkapi dengan fasilitas Quote (mengutip argumen lawan diskusi), fasilitas hypertext untuk merujuk ke URL tertentu, fasilitas menampilkan gambar, dan sebagainya.
Nah, sekarang tentang MASALAH YANG KEDUA, yaitu perluasan waktu haji. Fik, gua setuju bahwa analisis tentang perluasan waktu haji ini harus dilakukan secara menyeluruh, tidak bisa seenak perut. Menurut gua, analisis tentang perluasan waktu haji ini harus:
1) harus meneliti ayat-ayat Quran secara komprehensif. Mungkin kalau kita punya ‘database Quran’ dengan fasilitas search, akan lebih mudah.
2) harus melihat hadith juga.
3) harus disertai dengan akal sehat dan pemikiran rasional.
TENTUNYA, untuk menarik kesimpulan bahwa perluasan waktu haji itu boleh atau tidak, bisa memerlukan waktu berbulan-bulan dan tenaga yang tidak sedikit. Heck, seseorang mahasiswa jurusan Studi Islam bisa menjadikannya sebagai tesis.
Sampai sejauh ini, gua memang cenderung setuju dengan perluasan waktu haji. Kenapa?
1) karena gua percaya bahwa Quran itu berlaku universal dan sepanjang jaman, jadi Quran pun TIDAK KAKU, dan bisa mengakomodasi perubahan-perubahan jaman. Misalnya saja, bagaimana kalau jemaat haji bertambah menjadi puluhan juta per tahun.
2) karena sejauh yang gua temukan, Quran tidak membatasi pada hari-hari itu saja. Dan hadith itu pun hanya menyebutkan hari-hari dimana Muhammad SAW berhaji, tapi kalau tidak salah, hadith itu tidak bilang bahwa hari-hari lain itu jadi tidak sah.
3) karena gua percaya bahwa Allah tidak kaku dalam prosedur beribadah. Bahkan shalat saja boleh sambil berbaring kalau sakit, boleh disatukan (magrib dengan isya, misalnya) kalau sedang dalam perjalanan.
4) Karena di Islam sendiri dikenal metode menggunakan akal sehat (’itjihad’ atau apa namanya?). Dan kalau tidak salah, di Islam sendiri dikenal yang namanya memilih berdasarkan manfaat dan mudarat.
TAPI, itu adalah pendapat gua pribadi. Sampai sejauh ini gua memang setuju dengan perluasan waktu haji, tapi dengan catatan: SAMPAI SEJAUH INI. Seperti yang gua bilang, tetap harus diperlukan riset dan analisis yang mendalam apakah perluasan waktu haji itu boleh atau tidak.
Dear Taufik, memang gaya bahasa orang JIL itu terkesan agak sombong, dan elu boleh saja marah….
…tapi gua punya suatu permintaan: biarkanlah gagasan-gagasan semacam itu berkembang. Menurut gua, ide-ide dan gagasan semacam itu MALAH BISA MEMBUAT ORANG ISLAM MENJADI PINTAR. Kenapa? Karena ide-ide itulah yang membuat orang Islam menjadi tertantang, menjadi tertarik untuk mempelajari Quran, dan menganalisa apakah ide tersebut diperbolehkan atau tidak.
Tentu tidak semua dari ide-ide itu bisa menjadi valid (apa istilahnya kalau di agama? sahih?). Ide-ide itu HARUS melewati berbagai macam test, berbagai macam analisa dan studi. Sebagian mungkin akan GUGUR setelah diuji melalui Quran, tapi sebagian lain mungkin malah akan memperkaya pemahaman kita tentang Islam.
Dan…. hal semacam itulah yang membuat Islam menjadi dinamis. Hal semacam itu yang membuat orang Islam menjadi tertantang untuk berpikir, untuk menganalisis, untuk mempelajari Quran.
Biarkanlah pemikiran-pemikiran itu berkembang, Fik. Jangan kita men -sensor pemikiran, karena kalau kita sudah main sensor, maka kita akan menjadi masyarakat yang terbelakang.