Dec
01

Nafsu

Filed Under (Religion) by dotindo on 01-12-2006

Hari ini aku pengen menulis tentang nafsu. Nafsu, adalah binatang yang telah lama diketahui, tetapi tetap saja menjadi jembatan kehancuran manusia. Baik pribadi per pribadi maupun kelompok. Sepertinya selama manusia masih memiliki kepala, maka nafsu akan tetap ada. Kalau mau menghilangkan nafsu, maka kepala harus dicopot.

Sekarang, bagaimana caranya mencopot kepala? Cara paling mudah adalah, ditebas hingga kepala terlepas, maka terlepas pula nafsu itu (alias mati). Cara yang kedua adalah, melepas kepala (kontrol terhadap kepala) dan menggantikannya dengan yang lain. Ada beberapa cara untuk ini. Yang pertama kali aku pelajari adalah "teori kosong " dari buku-bukunya Kho Ping Ho (sepertinya dia mengambil nilai dari ajaran Khong Hu Cu. Silahkan baca deh cerita silat Kho Ping Ho, hampir selalu nilai ini disisipkannya. Yang kedia, ada buku "Jiwa yang tenang (An Nafsul Mutmainnah)", karangan Prof. Dr. Dasteghib, orang Iran. Ini buku yang luar biasa, isinya menginspirasi orang untuk mencapai jiwa yang tenang. Caranya, dengan berserah diri kepada-Nya. Begitu membaca buku ini, kesanku adalah, jika orang telah mencapai tahap jiwa yang tenang, maka orang itu akan memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia akan tetap bisa makan, minum dan tersenyum dengan tenang meski pistol berisi peluru siap ditembakkan mengancam di depan matanya. Subhanallah. Dan ini cukup dicapai dengan berserah diri pada-Nya.

Meski isinya luar biasa, ternyata sangat-sangat sulit untuk mencapai seperti itu. Entah kapan aku bisa mencapainya…

Tentang nafsu, Hamka menuliskan dalam Tafsir Al-Azhar, biangnya itu 3 yaitu : mata, perut dan kelamin. Jadi sebenarnya kalau mau berpikir mengendalikan nafsu, ya kendalikan 3 hal itu saja.

Cara mengendalikan yang sederhana adalah.. hilangkan semuanya. Kalau tidak ada mata, tidak ada perut dan tidak ada kelamin, maka nafsu tidak akan ada:D.

Sebuah cerita di waktu aku kecil lah yang memberiku ide dalam mengendalikan nafsu. Ceritanya sewaktu SD (kelas 3 atau 4, lupa) aku naik bis dengan teman-temanku ke sekolah. Ketika mau bayar ke kondektur, aku merasa sayang karena uang lembaran yang aku pegang masih baru. Kemudian temanku meminta uang itu. Kupikir dia mau menukar dengan uang yang jelek, jadi uang yang baru dia simpan dan uang yang jelek aku bayarkan. Ternyata… uangku itu langsung di remas-remas sampai kucel, kemudian dia kasihkan ke aku sambil tertawa "Nih, sekarang kamu tidak akan merasa sayang lagi, hehe…". Waktu itu kami satu rombongan tertawa bersama.. Tapi aku mencatat dalam hatiku, bahwa ini adalah salah satu cara untuk mengendalikan perasaan sayang. Ketika ada sesuatu yang memberati, solusi sederhananya adalah : hilangkan itu! Sekarang tinggal bagaimana cara cerdas menerapkan prinsip itu, karena ternyata banyak hal tidak bisa kita hancurkan :(.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: