Barusan aku membaca buku Freakonomics, karya Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner yang katanya sih international best seller (FYI: Steven D. Levitt adalah peraih John Bates Clark Medal, penghargaan untuk ekonom terbaik di usia dibawah 40 tahun). Aku membeli buku itu bukan karena tahu itu buku bagus, cuman karena penasaran aja kok sebegitu hebohnya buku itu. Setelah membacanya, memang menarik. Cukup nakal. Satu hal yang jelas adalah : buku itu memperlihatkan kemampuan analisa Steven D. Levitt.
Buku itu bukan berbicara tentang berbagai analisa ekonomi, tapi lebih memperlihatkan berbagai fenomena ekonomi. Secara umum dikataannya, dia ingin menunjukkan bagaimana seseorang memperoleh apa yang didapatkannya.
Aku lebih menggambarkan buku itu merupakan buku statistik lengkap dengan analisanya.
Sedikit intermezzo, aku teringat dengan dosenku statistik di TI dulu, Pak Gunawan. Beliau jagoan statistik, dan aku pernah sangat-sangat beruntung mendapatkan private tutorial dari beliau. Ceritanya pada saat ada kuliah tamu, beliau duduk di sebelahku. Saat itu sebagian besar mahasiswa terpukau oleh pembicara tamu tersebut. Aku termasuk salah satunya. Kemudian beliau tiba-tiba membisikkan berbagai pertanyaan ke aku tentang statistik, seperti :
Dll.. aku lupa persisnya. Yang jelas, semua pertanyaan-pertanyaannya adalah pertanyaan statistik, tidak menyinggung materi yang dibicarakan. Tetapi dari pertanyaan-pertanyaan itu aku jadi tersadar, ternyata pembicara tamu ini berbicara secara bombastis alias melebih-lebihkan!
Aku sangat terkejut dan baru tersadar betapa ilmu statistik sangat berguna, bisa membongkar sesuatu meskipun kita tidak tahu sesuatu itu apa. Aku sampai kemudian berikrar, pokoknya sidang sarjanaku nanti pengujinya nggak boleh orang statistik (lebih spesifik lagi, jangan milih penguji Pak Gunawan:D), karena nanti kelemahan-kelemahan kita terbongkar dengan mudah (hehe.. masa lalu:D).
(Note : disini sekalian saya ingin sampaikan terimakasih yang sangat atas "kuliah privat" yang diberikan Pak Gunawan, semoga suatu saat ilmunya bisa saya abdikan dan dapat terhitung sebagai amal bagi beliau)
Nah buku Freakonomics ini memperlihatkan pemikiran persis seperti pemikiran-pemikiran Pak Gunawan! Hanya saja dia menggunakan topik-topik dan data-data di Amerika. Apakah sesuatu yang luar biasa? Mungkin untuk orang yang baru kenal dianggap luar biasa, cuman karena aku udah kenal hal ini sebelumnya dari Pak Gunawan, jadinya tidak ada sesuatu yang baru buatku, selain data-datanya.
Buku itu memperlihatkan contoh-contoh kasus dimana penulis men-demokan kemampuan analisanya. Modal berpikir buku itu sebenarnya cuman dua yaitu Logika dan Data. Penulis mencoba menganalisa sesuatu berdasarkan data-data dan menelaah bangunan analisanya dengan logika. Nah logika yang dia gunakan memang cukup berhati-hati, teliti dan membongkar banyak logika yang diyakini oleh sebagian besar orang ataupun yang belum diketahui orang (mungkin inilah yang membuat buku ini heboh:-)).
Hal ini pun juga pernah diungkap oleh Pak Gunawan. Dalam salah satu kuliah, beliau menegaskan bahwa analisa korelasi tidak bisa hanya berdasar data, tetapi juga berdasar logika. Beliau memberi contoh jika kita mencoba menganalisa korelasi pertumbuhan penjualan comro di pasar Balubur dengan pertumbuhan penjualan pesawat IPTN, mungkin kita akan menemukan korelasi yang kuat. Namun tindakan menganalisa ini adalah suatu kebodohan besar karena logikanya tidak bisa berjalan. Meskipun dibuat penjelasan bahwa para karyawan IPTN banyak makan comro, tapi itu adalah logika yang dipaksakan. Jadi sebelum dibuat analisa statistik, bangunan logikanya harus benar dulu.
Begitulah kira-kira isi buku Freakonomics. Buku ini sangat dianjurkan bagi orang yang tertarik untuk belajar membangun logika. Selamat membaca :-).