Melanjutkan tulisanku terdahulu, tentang budaya kosmetik. Barusan aku berbicara lebih jauh lagi dengan Gina. Dia keberatan kosmetik itu disebut sebagai budaya, tetapi lebih disebut sebagai gaya hidup.
Aku kemudian mengajukan argumen, bahwa ini sudah pada level budaya, karena ini sudah menjadi nilai-nilai yang diyakini oleh banyak orang, menyebar baik di semua tempat dan di semua strata pendidikan ataupun strata ekonomi. Budaya kosmetik ini dapat ditemukan mayoritas di semuanya!
Sebagai bukti adalah sebagai berikut :
1. Perhatikan situasi saat lebaran. Betapa banyak orang yang mudik dan bergaya untuk terlihat sukses? Coba aja baca berita-berita di berbagai media. Perhatikan juga masyarakat di kita.
Dalam fenomena lebaran ini, ada yang pamer dan ada yang dipamerin. Mereka semua menganut nilai yang sama! Karena jika yang dipamerin ternyata tidak ada efek, aku yakin upaya pamer itu tidak akan terus berjalan. Ini membuktikan bahwa sebaran budaya kosmetik tidak hanya di kota, tetapi juga mencapai masyarakat pedesaan!
2. Dari sisi strata ekonomi, budaya kosmetik juga menghinggapi mulai dari tukang becak, tukang ojeg, pedagang pasar, artis hingga pejabat! Dari level yang rendah hingga level tinggi, kita akan jumpai mayoritas berbudaya kosmetik. Hanya berbeda cara bermainnya aja kali.
3. Dari strata pendidikan, budaya kosmetik juga menghinggapi orang yang berpendidikan tinggi. Jadi mulai dari mereka yang tidak bersekolah, lulus SD, SMP, perguruan tinggi hingga master dan doktor sekalipun, kita bisa banyak jumpai budaya kosmetik. Meskipun doktornya lulusan luar negeri sekalipun, sepertinya budaya dalam negeri lebih membekas daripada budaya di tempat yang dia pelajari!
(Sekedar intermezzo : beberapa waktu yang lalu, dalam pembicaraan telepon, temenku bercerita tentang seorang teman yang “sukses”. Orang yang bercerita ke aku ini adalah orang yang berpendidikan cukup tinggi dan tidak terkategori orang miskin. Mungkin masyarakat akan mengatakan dia orang terhormat lah. Aku penasaran, dan kutanya “Emang dia kenapa kok dibilang sudah sukses?”. Dan jawabnya “Barusan dia beli rumah seharga 800 juta, dan dia punya beberapa rumah yang lain juga yang semacam itu”. Aku masih penasaran, kutanya lagi “Memang dia bisnis apa?”, ternyata dia bisnis mebel dan dieksport. Aku langsung menjawab “Kalau dia terbukti berhasil meningkatkan pendapatan karyawannya diatas rata-rata umum, OK itu dibilang sukses. Atau dia memberikan perhatian pada pendidikan anak-anak karyawannya, OK dia dibilang sukses. Atau sesuatu tindakan positif lainnya lah. Kalau cuman beli rumah harga 800 juta, apa suksesnya? Apalagi kalau ternyata untuk itu dia dengan memeras karyawannya, apakah itu sukses?”. Kira-kira begitulah percakapanku. Kejadian ini semakin menguatkan aku, bahwa masalah kosmetik ini melintasi berbagai strata. Bahkan kalau dipandang orang yang “santri/ beragama” dan “tidak santri/ beragama” mungkin juga hasilnya sama, mayoritas berbudaya kosmetik. Sadar ataupun tidak sadar)
4. Bukti dari sisi bisnis, beberapa bisnis ini memperlihatkan bukti peranan budaya kosmetik :
- Penjualan motor. Perhatikan kata-kata menteri perhubungan menjelang lebaran kemarin “Mudik dengan motor sulit dibendung karena pulang dengan mengendarai motor merupakan ukuran kesuksesan mereka”. Perhatikan kata-kata itu, artinya pembelian motor juga didorong budaya kosmetik, supaya terlihat sukses!
- Penjualan handphone. Perhatikan betapa banyak orang yang membeli handphone kualitas tinggi, dengan banyak feature, padahal mereka nggak banyak keperluan dengan feature-feature tersebut. Mereka lebih memilih yang handphone canggih karena akan menaikkan image mereka.
- Indonesian Idol, AFI dan semacamnya. Orang berebutan ikut karena itu adalah cara cepat untuk terkenal.
Jadi bisa dicatat, bahwa bisnis gaya hidup adalah bisnis yang prospektif di Indonesia. Dan itu merupakan efek dari budaya kosmetik!
Bukti-bukti diatas menurutku cukup kuat untuk mengatakan bahwa kosmetik sudah menjadi budaya bangsa Indonesia saat ini!
Dengan demikian, masalah identifikasi budaya sudah menjadi cukup jelas.
Selanjutnya adalah: Apa yang kita akan lakukan setelah menyadari ini?
Bayanganku, ada dua alternatif setelah identifikasi budaya ini :
1. Susun strategi untuk berbagai keperluan berdasar budaya ini.
Asumsi, kita menerima budaya ini apa adanya.
Diatas telah diperlihatkan beberapa contoh bisnis yang berjalan dengan mengikuti budaya kosmetik ini.
Hal lain, mungkin dalam keperluan pendidikan, pertahanan, politik, dll, mungkin kita bisa menemukan suatu clue / kunci yang memanfaatkan budaya ini.
(BTW, aku kok jadi inget Pak Harto, mantan Presiden RI. Sepertinya beliau orang yang sangat mengerti budaya Indonesia dan tahu strategi yang tepat berdasar budaya itu. Jangan-jangan segala macam korupsi, dll yang kita timpakan kesalahannya ke beliau, sebenarnya adalah kesalahan bangsa Indonesia? Dan jangan salah, mungkin pendekatan klompencapir, PKK, dll sebenarnya adalah suatu pendekatan berbasis budaya yang tepat dilaksanakan untuk Indonesia? Who knows???)
2. Pelajari plus minus budaya ini, dan susun strategi jika memang harus mengkoreksi budaya ini.
Aku sih lebih cenderung untuk tindakan ini ya.. Rasanya kok tidak tega membiarkan budaya kosmetik, budaya menipu diri dan orang lain dikembangkan. Tapi kurasa hanya orang-orang gila yang berpikiran seperti aku ini. Perubahan budaya bukanlah sesuatu yang sederhana. Aku tidak terbayang, bagaimana mesti melakukannya (meski Nabi Muhammad SAW telah memperlihatkan bagaimana merubah ummat. Tapi aku bukan nabi!).
Mungkin suatu saat, ketika tangan-tangan telah terjalin, ketika langkah terbangunkan, orang akan bersama-sama bergerak untuk melakukan perubahan budaya. Semoga saat itu tidak lama lagi. Aku hanya bisa berharap… (dan apatis???).
===
Note: tulisan ini sebenarnya aku buat kemarin di laptop, sebelum terhubung dengan internet. Kemudian aku penasaran dengan pemikiran ini, dan aku jalan-jalan ke Gramedia. Disana menemukan buku tentang Social Capital. Aku sudah membacanya sekilas, suatu saat aku coba deh bikin resumenya di sini. Secara umum, isinya sama dengan apa yang aku tulis ini. Cuman namanya juga buku, dia ditulis dengan jauh lebih lengkap dan konsep berpikir yang jauh lebih ilmiah dibandingin blog yang sekedar pikiran terlintas ini.
Bangsa kita itu sedang terjangkit dengan yang namanya krisis identitas..menurut profesorku dulu pada abad ke-17 hingga 19 Belanda memasang taktik pecah belah dan-ini yang penting- ‘penghilangan identitas ‘ bangsa..Bangsa Indonesia memang dibentuk selama 200 tahun untuk memiliki Identitas bentukan Belanda yaitu salah satunya identitas ‘kosmetik’ tersebut. Sebagai contoh pemberian gelar2 yang heboh pada golongan kerajaan, jauh melebihi kondisi eksisting kerajaannya seperti ‘Mangkubumi’ lah, ‘Paku bumi’lah dll padahal kerajaannya sudah tidak punya kuasa, wilayahnya kecil lagi..selama ratusan tahun juga mereka mengumpulkan beberapa ‘inlander/pribumi’ sebagai antek2 Belanda dengan kekayaan sebagai kompensasinya..
Jadi ada masalah identitas artificial yang saat ini kita anut bersama dengan budaya kosmetika tersebut salah satu nya..
Penelitianku mengenai Psikologi sosial, gaya hidup dan implikasinya pada desain memang memperlihatkan keterkaitan sebagai berikut:
Secara umum dan singkat orang Indonesia terbagi menjadi 4 macam kepribadian dan dampaknya bagi gaya hidupnya yaitu 1. Kepribadian/gaya hidup yang utuh 2. Kepribadian /gaya hidup yang oposite 3. Kepribadian/gaya hidup yang Pseudo/Palsu dan 4. Kepribadian/gaya hidup yang jamak/plural.
Kalau teori ini kita gabungkan dengan ‘gagasan kolektif’ masyarakat.Dimana manusia terbagi menjadi 3 penganut ‘Orientasi status’ yaitu 1. BY CONSUMPTION 2. bY DEFINITION DAN 3. BY aCHIEVEMENT maka hasilnya akan seperti ini;
Setiap orang Indonesia sedang dalam kondisi tidak stabil akibat tekanan hidup atau pengalaman pahit masa kecil maka kepribadian-gaya hidup mereka menjadi Plural atau Pseudo..sedangkan Kepribadian utuh dan oposite merupakan bawaan yang disadari..gitu lah sebetulnya penjelasan tidak bisa secara gamblang begitu..rumit banget jadi tidak lengkap kalau cuma dijelaskan di blog begini..
Solusi untuk bangsa ini masih ada kok, yaitu bila kita ‘Kembali ke nilai-nilai luhur bangsa’ dan menciptakan kondisi ekonomi/sosial yang kondusif sehingga kita dapat secara tenang dan sistematis memulai pembangunan identitas bangsa ini..Pemerintah juga harus menghentikan pembangunan pusat2 perbelanjaan secara berlebihan karena hal tersebut akan membuat masyarakat kita semakin konsumtif akibat ‘Id’manusia yang terus dipicu oleh taktik dagang yang tidak sehat seperti diskon lah, pengkondisian2 promosi lah dsb..
wah keren comment-nya Mas.
Tapi aku renungkan dulu ya.. Masih belum punya gambaran.