Tahun ini, perayaah hari Iedul Adha terjadi perbedaan antara Indonesia dan Arab Saudi. Di Saudi, Iedul Adha pada tanggal 30 Des 06, sementara di Indonesia sebagian besar 31 Des 06 (nggak tahu aku, ada nggak di Indo yang menyelenggarakan Iedul Adha tgl 30 Des 06?). Aku sendiri sebenarnya lebih cenderung menyamakan dengan Saudi.
Kemarin aku sempat berbicara dengan seseorang, ada beberapa yang menarik dari kata-katanya.
1. Dikatakannya bahwa ada kemungkinan di Arab Saudi memaksakan supaya terjadinya Haji Akbar, makanya waktunya beda dengan di Indonesia. (note: Haji Akbar terjadi ketika di Arafah pada hari Jum’at, diyakini ini meningkatkan pahala selama berhaji)
2. Kita cukup makmum pada Ulama-ulama kita, dan kalau sampai dosa, ya dosa yang nanggung para Ulama itu.
Aku membantah kata-kata tersebut.
Pertama, di Saudi itu sulit untuk berdusta, apalagi mencoba memaksakan hari. Karena di sana, dalam urusan penentuan hari, saksi yang menentukan itu di sumpah di depan Ka’bah. Bagi mereka yang pernah melihat langsung Ka’bah, aku yakin pasti tahu lah betapa beratnya kalau sampai bersumpah dusta di depan Ka’bah. Aku nggak yakin ada orang yang berani berbuat itu. Dan tentunya orang yang menjadi saksi pun juga bukan orang yang sembarangan (misalkan : dia diketahui sebagai pemabuk atau penjudi atau orang tukang bohong).
Kedua, Insyaallah selama para Ulama di Indonesia menentukan hari Iedul Adha dengan semua kemampuannya, ihlas tanpa ada upaya penipuan atau kehendak lain, sekalipun keputusan yang diambil adalah salah, maka tidak ada dosa satupun bagi siapapun. Tidak ada dosa bagi Ulamanya ataupun ummat yang mengikutinya.
Ada kata-kata (lupa: entah hadist atau ujar-ujar atau ayat Qur’an) Jika Ulama mengambil ijtihad, jika benar pahalanya tujuh, jika salah pahalanya satu (kira-kira seperti itulah). Tuhan Maha Pengasih, selama kita berbuat Lillahi ta’aala, dan kita sudah melakukan sebaik mungkin, maka serahkan saja semuanya kepada Allah. Tidak perlu ada ketakutan akan dosa lagi.
Aku berharap saling percaya di antara ummat muslim meningkat, dan kepercayaan kita terhadap Tuhan dengan segala Rahman dan Rahim-Nya jauh lebih meningkat lagi.