Dec
31
Filed Under (General) by dotindo on 31-12-2006

Barusan aku membaca buku Freakonomics, karya Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner yang katanya sih international best seller (FYI: Steven D. Levitt adalah peraih John Bates Clark Medal, penghargaan untuk ekonom terbaik di usia dibawah 40 tahun). Aku membeli buku itu bukan karena tahu itu buku bagus, cuman karena penasaran aja kok sebegitu hebohnya buku itu. Setelah  membacanya, memang menarik. Cukup nakal. Satu hal yang jelas adalah : buku itu memperlihatkan kemampuan analisa Steven D. Levitt.

Buku itu bukan berbicara tentang berbagai analisa ekonomi, tapi lebih memperlihatkan berbagai fenomena ekonomi. Secara umum dikataannya, dia ingin menunjukkan bagaimana seseorang memperoleh apa yang didapatkannya.

Aku lebih menggambarkan buku itu merupakan buku statistik lengkap dengan analisanya.

Sedikit intermezzo, aku teringat dengan dosenku statistik di TI dulu, Pak Gunawan. Beliau jagoan statistik, dan aku pernah sangat-sangat beruntung mendapatkan private tutorial dari beliau. Ceritanya pada saat ada kuliah tamu, beliau duduk di sebelahku. Saat itu sebagian besar mahasiswa terpukau oleh pembicara tamu tersebut. Aku termasuk salah satunya. Kemudian beliau tiba-tiba membisikkan berbagai pertanyaan ke aku tentang statistik, seperti :

  • Itu 100% nya yang mana?

  • Rata-ratanya berapa?
  • Titik tengahnya mana?

Dll.. aku lupa persisnya. Yang jelas, semua pertanyaan-pertanyaannya adalah pertanyaan statistik, tidak menyinggung materi yang dibicarakan. Tetapi dari pertanyaan-pertanyaan itu aku jadi tersadar, ternyata pembicara tamu ini berbicara secara bombastis alias melebih-lebihkan!

Aku sangat terkejut dan baru tersadar betapa ilmu statistik sangat berguna, bisa membongkar sesuatu meskipun kita tidak tahu sesuatu itu apa. Aku sampai kemudian berikrar, pokoknya sidang sarjanaku nanti pengujinya nggak boleh orang statistik (lebih spesifik lagi, jangan milih penguji Pak Gunawan:D), karena nanti kelemahan-kelemahan kita terbongkar dengan mudah (hehe.. masa lalu:D).

(Note : disini sekalian saya ingin sampaikan terimakasih yang sangat atas "kuliah privat" yang diberikan Pak Gunawan, semoga suatu saat ilmunya bisa saya abdikan dan dapat terhitung sebagai amal bagi beliau)

Nah buku Freakonomics ini memperlihatkan pemikiran persis seperti pemikiran-pemikiran Pak Gunawan! Hanya saja dia menggunakan topik-topik dan data-data di Amerika. Apakah sesuatu yang luar biasa? Mungkin untuk orang yang baru kenal dianggap luar biasa, cuman karena aku udah kenal hal ini sebelumnya dari Pak Gunawan, jadinya tidak ada sesuatu yang baru buatku, selain data-datanya.

Buku itu memperlihatkan contoh-contoh kasus dimana penulis men-demokan kemampuan analisanya. Modal berpikir buku itu sebenarnya cuman dua yaitu Logika dan Data. Penulis mencoba menganalisa sesuatu berdasarkan data-data dan menelaah bangunan analisanya dengan logika. Nah logika yang dia gunakan memang cukup berhati-hati, teliti dan membongkar banyak logika yang diyakini oleh sebagian besar orang ataupun yang belum diketahui orang (mungkin inilah yang membuat buku ini heboh:-)).

Hal ini pun juga pernah diungkap oleh Pak Gunawan. Dalam salah satu kuliah, beliau menegaskan bahwa analisa korelasi tidak bisa hanya berdasar data, tetapi juga berdasar logika. Beliau memberi contoh jika kita mencoba menganalisa korelasi pertumbuhan penjualan comro di pasar Balubur dengan pertumbuhan penjualan pesawat IPTN, mungkin kita akan menemukan korelasi yang kuat. Namun tindakan menganalisa ini adalah suatu kebodohan besar karena logikanya tidak bisa berjalan. Meskipun dibuat penjelasan bahwa para karyawan IPTN banyak makan comro, tapi itu adalah logika yang dipaksakan. Jadi sebelum dibuat analisa statistik, bangunan logikanya harus benar dulu.

Begitulah kira-kira isi buku Freakonomics. Buku ini sangat dianjurkan bagi orang yang tertarik untuk belajar membangun logika. Selamat membaca :-).

Dec
29
Filed Under (Education) by dotindo on 29-12-2006

Aku teringat ketika beberapa waktu yang lalu presentasi ke BPK Penabur, saat itu menjelaskan tentang e-Learning.

Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya muncul pertanyaan yang menarik :

"Jika sudah ada e-Learning, murid bisa belajar sendiri dengan mudah, apa peranan guru?"

Hehe.. pertanyaan yang cerdas dan baru pertama kali itu aku ditanya seperti itu. Pada saat itu aku teringat pada guru para guru di Indonesia, Ki Hajar Dewantoro. Ingat ujar-ujar beliau tentang bagaimana guru mengajar :

Ing ngarso sung tulodho (di depan memberi contoh)

Ing madyo mangun karso (di tengah membangun kehendak)

Tutwuri handayani (di belakang memberi tuntunan)

Kemudian aku sampaikan, bahwa selama ini sistem pendidikan kita lebih banyak guru ada di depan. Sekarang, dengan adanya e-Learning membuat guru bisa berpindah posisi ke tengah dan ke belakang, artinya ini justru peningkatan kualitas pengajaran.

Sepertinya melihat ekspresi mereka, para guru tersebut sepakat dengan jawabanku itu. Aku rasa, jika itu benar terwujud, berarti pendidikan bisa jauh lebih baik dari saat ini. Aku lihat saat ini pendidikan tak lebih dari "pelatihan". Unsur-unsur pengertian dan penjiwaan tidak tampak pada siswa. Begitu juga nilai-nilai kejujuran, semangat berusaha, menghargai orang lain, bahkan sopan santun pun juga sulit terlihat! Big problem!

Semoga saja impian ini suatu saat terwujud, betapa guru lebih banyak berada di tengah, membangunkan kehendak para siswa sehingga mereka bisa terus maju.

Selamat tahun baru buat semuanya, semoga dunia pendidikan kita juga memasuki hari baru:-)

Dec
29
Filed Under (Religion) by dotindo on 29-12-2006

Tahun ini, perayaah hari Iedul Adha terjadi perbedaan antara Indonesia dan Arab Saudi. Di Saudi, Iedul Adha pada tanggal 30 Des 06, sementara di Indonesia sebagian besar 31 Des 06 (nggak tahu aku, ada nggak di Indo yang menyelenggarakan Iedul Adha tgl 30 Des 06?). Aku sendiri sebenarnya lebih cenderung menyamakan dengan Saudi.

Kemarin aku sempat berbicara dengan seseorang, ada beberapa yang menarik dari kata-katanya.

 

1.       Dikatakannya bahwa ada kemungkinan di Arab Saudi memaksakan supaya terjadinya Haji Akbar, makanya waktunya beda dengan di Indonesia. (note: Haji Akbar terjadi ketika di Arafah pada hari Jum’at, diyakini ini meningkatkan pahala selama berhaji)

2.       Kita cukup makmum pada Ulama-ulama kita, dan kalau sampai dosa, ya dosa yang nanggung para Ulama itu.

Aku membantah kata-kata tersebut.

Pertama, di Saudi itu sulit untuk berdusta, apalagi mencoba memaksakan hari. Karena di sana, dalam urusan penentuan hari, saksi yang menentukan itu di sumpah di depan Ka’bah. Bagi mereka yang pernah melihat langsung Ka’bah, aku yakin pasti tahu lah betapa beratnya kalau sampai bersumpah dusta di depan Ka’bah. Aku nggak yakin ada orang yang berani berbuat itu. Dan tentunya orang yang menjadi saksi pun juga bukan orang yang sembarangan (misalkan : dia diketahui sebagai pemabuk atau penjudi atau orang tukang bohong).

Kedua, Insyaallah selama para Ulama di Indonesia menentukan hari Iedul Adha dengan semua kemampuannya, ihlas tanpa ada upaya penipuan atau kehendak lain, sekalipun keputusan yang diambil adalah salah, maka tidak ada dosa satupun bagi siapapun. Tidak ada dosa bagi Ulamanya ataupun ummat yang mengikutinya.

Ada kata-kata (lupa: entah hadist atau ujar-ujar atau ayat Qur’an)  Jika Ulama mengambil ijtihad, jika benar pahalanya tujuh, jika salah pahalanya satu (kira-kira seperti itulah). Tuhan Maha Pengasih, selama kita berbuat Lillahi ta’aala, dan kita sudah melakukan sebaik mungkin, maka serahkan saja semuanya kepada Allah. Tidak perlu ada ketakutan akan dosa lagi.

Aku berharap saling percaya di antara ummat muslim meningkat, dan kepercayaan kita terhadap Tuhan dengan segala Rahman dan Rahim-Nya jauh lebih meningkat lagi.

Dec
21
Filed Under (Religion) by dotindo on 21-12-2006

Kemarin-kemain ini aku sempat berpikir, apa sih sesungguhnya doa itu?

Apakah benar bahwa doa itu merupakan permohonan yang kita ajukan dan pasti dikabulkan-Nya?

Dari pemikiranku tersebut aku mengambil kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :

  • Doa dikabulkan HANYA JIKA Tuhan berkenan terhadap doa itu. Bahwa orang yang suka membunuh, mencopet, kemudian berdoa supaya matahari dijatuhkan ke algojo yang akan mengeksekusi dia supaya dia batal mati dan bebas.. tentunya sangat kecil kemungkinan doa dikabulkan. Begitu juga misalkan aku berdoa supaya besok persis matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur, belum tentu dikabulkan.
  • Bahwa semua yang akan terjadi telah tertulis di "Lauhul Mahfudz" (kitab yang terjaga yang ada di langit), maka sebenarnya semua yang akan terjadi itu sudah ada ketentuan-Nya. Termasuk kita berdoa dan kemudian dikabulkan.. semua itu sudah ada dalam kitab-Nya. Dengan demikian doa sebenarnya tidak mengubah apapun.
  • Jika memang seperti dua point diatas, terus apa artinya doa? Dua point diatas seolah-olah mengatakan "Doa itu tidak ada efeknya" dan "Tuhan akan memutuskan apapun yang menjadi kehendak-Nya, dengan atau tanpa doa kita". Aku akhirnya mengambil kesimpulan bahwa doa itu sebenarnya adalah ibadah. Berdoa adalah perintah-Nya ==> menjalankan perintah-Nya berarti ibadah. Doa itu juga sebenarnya merupakan pengakuan kita terhadap Tuhan (tauhid), yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Silahkan baca Al-Qur’an, dan sebagian besar isinya menyadarkan bahwa kita ini harus mengakui bahwa Tuhan itu satu, Allah. Bahkan aku sampai berkesimpulan, bahwa intinya Al-Qur’an itu memberi petunjuk bahwa Tuhan itu satu, Allah.
  • Kalau memang Tuhan akan bertindak sesuai kehendak-Nya, terus bagaimana janji-Nya "berdoalah pada-Ku, niscaya akan aku kabulkan" (surat apa dan ayat berapa, lupa aku) ? Yah di point pertama telah aku jelaskan, tentunya yang dikabulkan yang terutama adalah doanya hamba-hamba yang sholeh. Dan hamba-hamba-Nya yang sholeh pastilah doa-doanya pun doa yang baik, yang sopan, dan memang itu akan diberikan oleh Tuhan, meski waktunya merupakan ketentuan Tuhan. Kalau sampai berdoa yang aneh-aneh, mungkin ini terhitung sebagai suatu dosa dan orang itu menjadi tidak sholeh, dan Tuhan tidak terikat lagi untuk harus memenuhi doa orang yang tidak sholeh tersebut.
  • So, what next? Kalau mau berdoa, ya berdoalah. Nggak mau berdoa, ya nggak usah berdoa. Toh Tuhan itu Maha Besar. Berdoa ataupun tidak, tidak akan mengubah ketentuan yang tertulis di "Lauhul Mahfudz". Bahwa kita tidak berdoa, tentunya tindakan itupun sudah tertulis di "Lauhul Mahfidz". Begitupun jika kita berdoa. Jika kita berdoa, tidak perlulah terlalu memaksa. Cukuplah dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Rahman, Maha Rahim. Tuhan akan memberi kita, jauh diatas doa kita. Doa kita itu hanyalah sebuah ibadah yang tidak akan mengikat pemberian Tuhan. Berdoalah dengan ihlas, tanpa mengharap Tuhan akan mengabulkan sesuai doa kita. Karena Tuhan memberi kita adalah yang terbaik yang Tuhan lihat sesuai diri kita. Bahwa Tuhan mengabulkan kurang atau lebih dari doa kita, itu pastilah Tuhan melihat kekuatan diri kita juga untuk menerimanya.

Itulah sekelumit kesimpulanku tentang doa. Doa hanyalah sebuah ibadah. Maka.. lakukanlah :-). Hasil dari doa.. lupakanlah, karena Tuhan akan memberi lebih dari yang kita panjatkan. Bukankah kita tidak pernah memohon diberi oksigen? Bukankah kita tidak pernah memohon dilancarkan buang air besar? Toh terbukti Tuhan tetap memberi kita anugerah tersebut:-)

Dec
16
Filed Under (Ek Sos Pol) by dotindo on 16-12-2006

Melanjutkan tulisanku terdahulu, tentang budaya kosmetik. Barusan aku berbicara lebih jauh lagi dengan Gina. Dia keberatan kosmetik itu disebut sebagai budaya, tetapi lebih disebut sebagai gaya hidup.

Aku kemudian mengajukan argumen, bahwa ini sudah pada level budaya, karena ini sudah menjadi nilai-nilai yang diyakini oleh banyak orang, menyebar baik di semua tempat dan di semua strata pendidikan ataupun strata ekonomi. Budaya kosmetik ini dapat ditemukan mayoritas di semuanya!

Sebagai bukti adalah sebagai berikut :

1.       Perhatikan situasi saat lebaran. Betapa banyak orang yang mudik dan bergaya untuk terlihat sukses? Coba aja baca berita-berita di berbagai media. Perhatikan juga masyarakat di kita.

Dalam fenomena lebaran ini, ada yang pamer dan ada yang dipamerin. Mereka semua menganut nilai yang sama! Karena jika yang dipamerin ternyata tidak ada efek, aku yakin upaya pamer itu tidak akan terus berjalan. Ini membuktikan bahwa sebaran budaya kosmetik tidak hanya di kota, tetapi juga mencapai masyarakat pedesaan!

2.       Dari sisi strata ekonomi, budaya kosmetik juga menghinggapi mulai dari tukang becak, tukang ojeg, pedagang pasar, artis hingga pejabat! Dari level yang rendah hingga level tinggi, kita akan jumpai mayoritas berbudaya kosmetik. Hanya berbeda cara bermainnya aja kali.

3.       Dari strata pendidikan, budaya kosmetik juga menghinggapi orang yang berpendidikan tinggi. Jadi mulai dari mereka yang tidak bersekolah, lulus SD, SMP, perguruan tinggi hingga master dan doktor sekalipun, kita bisa banyak jumpai budaya kosmetik. Meskipun doktornya lulusan luar negeri sekalipun, sepertinya budaya dalam negeri lebih membekas daripada budaya di tempat yang dia pelajari!

(Sekedar intermezzo : beberapa waktu yang lalu, dalam pembicaraan telepon, temenku bercerita tentang seorang teman yang “sukses”. Orang yang bercerita ke aku ini adalah orang yang berpendidikan cukup tinggi dan tidak terkategori orang miskin. Mungkin masyarakat akan mengatakan dia orang terhormat lah. Aku penasaran, dan kutanya “Emang dia kenapa kok dibilang sudah sukses?”. Dan jawabnya “Barusan dia beli rumah seharga 800 juta, dan dia punya beberapa rumah yang lain juga yang semacam itu”. Aku masih penasaran, kutanya lagi “Memang dia bisnis apa?”, ternyata dia bisnis mebel dan dieksport. Aku langsung menjawab “Kalau dia terbukti berhasil meningkatkan pendapatan karyawannya diatas rata-rata umum, OK itu dibilang sukses. Atau dia memberikan perhatian pada pendidikan anak-anak karyawannya, OK dia dibilang sukses. Atau sesuatu tindakan positif lainnya lah. Kalau cuman beli rumah harga 800 juta, apa suksesnya? Apalagi kalau ternyata untuk itu dia dengan memeras karyawannya, apakah itu sukses?”. Kira-kira begitulah percakapanku. Kejadian ini semakin menguatkan aku, bahwa masalah kosmetik ini melintasi berbagai strata. Bahkan kalau dipandang orang yang “santri/ beragama” dan “tidak santri/ beragama” mungkin juga hasilnya sama, mayoritas berbudaya kosmetik. Sadar ataupun tidak sadar)

4.       Bukti dari sisi bisnis, beberapa bisnis ini memperlihatkan bukti peranan budaya kosmetik :

-          Penjualan motor. Perhatikan kata-kata menteri perhubungan menjelang lebaran kemarin “Mudik dengan motor sulit dibendung karena pulang dengan mengendarai motor merupakan ukuran kesuksesan mereka”. Perhatikan kata-kata itu, artinya pembelian motor juga didorong budaya kosmetik, supaya terlihat sukses!

-          Penjualan handphone. Perhatikan betapa banyak orang yang membeli handphone kualitas tinggi, dengan banyak feature, padahal mereka nggak banyak keperluan dengan feature-feature tersebut. Mereka lebih memilih yang handphone canggih karena akan menaikkan image mereka.

-          Indonesian Idol, AFI dan semacamnya. Orang berebutan ikut karena itu adalah cara cepat untuk terkenal.

Jadi bisa dicatat, bahwa bisnis gaya hidup adalah bisnis yang prospektif di Indonesia. Dan itu merupakan efek dari budaya kosmetik!

Bukti-bukti diatas menurutku cukup kuat untuk mengatakan bahwa kosmetik sudah menjadi budaya bangsa Indonesia saat ini!

Dengan demikian, masalah identifikasi budaya sudah menjadi cukup jelas.

Selanjutnya adalah: Apa yang kita akan lakukan setelah menyadari ini?

Bayanganku, ada dua alternatif setelah identifikasi budaya ini :

1.       Susun strategi untuk berbagai keperluan berdasar budaya ini.

Asumsi, kita menerima budaya ini apa adanya.

Diatas telah diperlihatkan beberapa contoh bisnis yang berjalan dengan mengikuti budaya kosmetik ini.

Hal lain, mungkin dalam keperluan pendidikan, pertahanan, politik, dll, mungkin kita bisa menemukan suatu clue / kunci yang memanfaatkan budaya ini.

(BTW, aku kok jadi inget Pak Harto, mantan Presiden RI. Sepertinya beliau orang yang sangat mengerti budaya Indonesia dan tahu strategi yang tepat berdasar budaya itu. Jangan-jangan segala macam korupsi, dll yang kita timpakan kesalahannya ke beliau, sebenarnya adalah kesalahan bangsa Indonesia? Dan jangan salah, mungkin pendekatan klompencapir, PKK, dll sebenarnya adalah suatu pendekatan berbasis budaya yang tepat dilaksanakan untuk Indonesia? Who knows???)

2.       Pelajari plus minus budaya ini, dan susun strategi jika memang harus mengkoreksi budaya ini.

Aku sih lebih cenderung untuk tindakan ini ya.. Rasanya kok tidak tega membiarkan budaya kosmetik, budaya menipu diri dan orang lain dikembangkan. Tapi kurasa hanya orang-orang gila yang berpikiran seperti aku ini. Perubahan budaya bukanlah sesuatu yang sederhana. Aku tidak terbayang, bagaimana mesti melakukannya (meski Nabi Muhammad SAW telah memperlihatkan bagaimana merubah ummat. Tapi aku bukan nabi!).

Mungkin suatu saat, ketika tangan-tangan telah terjalin, ketika langkah terbangunkan, orang akan bersama-sama bergerak untuk melakukan perubahan budaya. Semoga saat itu tidak lama lagi. Aku hanya bisa berharap… (dan apatis???).

===

Note: tulisan ini sebenarnya aku buat kemarin di laptop, sebelum terhubung dengan internet. Kemudian aku penasaran dengan pemikiran ini, dan aku jalan-jalan ke Gramedia. Disana menemukan buku tentang Social Capital. Aku sudah membacanya sekilas, suatu saat aku coba deh bikin resumenya di sini. Secara umum, isinya sama dengan apa yang aku tulis ini. Cuman namanya juga buku, dia ditulis dengan jauh lebih lengkap dan konsep berpikir yang jauh lebih ilmiah dibandingin blog yang sekedar pikiran terlintas ini.

Dec
13
Filed Under (Religion) by dotindo on 13-12-2006

Aku sekarang sedang ber-eksperimen, untuk mematikan kehendak. Jadi kalau sedang ingin sesuatu, aku langsung membatin "matikan itu". Dan aku coba ikutin batinku.

Nggak tahu itu baik atau buruk. Inti utamanya sih, aku tidak ingin hancur oleh nafsu. Lebih baik aku hancurkan nafsu daripada dia menghancurkan aku.

Tapi tentu saja aku tidak akan berlaku konyol. Aku tetap makan, minum, dll. Mencoba hidup normal lah. Begitu juga dalam kerja, aku tetap semangat tinggi dan pantang menyerah.

Aku hanya mencoba ini untuk hal-hal yang bersifat pribadi dan berpengaruh di diri sendiri. Semoga rahmat Allah terlimpah atasku.. Amien!

(Note: Nggak apa berdoa untuk diri sendiri ya:p)

Dec
05
Filed Under (Education) by dotindo on 05-12-2006

e-Learning memiliki banyak wajah. Salah satu yang sedang dipopulerkan saat ini adalah mobile-Learning. Temen kostku, Tamim, mahasiswa S-2 di ITB telah melakukan testing mobile learning. Di awal puasa kemarin dia membuat materi tentang berbagai hukum tentang puasa dan di pasang di internet. Ternyata ketika dia lihat, materi itu sudah didownload ribuan kali! (kalau nggak salah sekitar 8000 kali, lupa persis aku angkanya). Jumlah yang luar biasa untuk sebuah pembelajaran gaya baru.

Kemarin aku presentasi ke BPK Penabur. Saat menunggu giliran presentasi kok tiba-tiba otakku bekerja. Saat itu didepanku menggeletak MP3 Player. Kemudian pikiranku terusik, apa yang bisa dilakukan dengan alat itu? Dan.. wow! Mengapa tidak mempopulerkan MP3-Player sebagai alat pembelajaran?

Dalam pendidikan, pasti ada beberapa point dimana kita memang harus menghapal. Selama ini kebanyakan orang menghapal melalui bacaan. Kenapa tidak menggunakan suara? Bukankah hierarki efektifitas pembelajaran adalah

Membaca >> Mendengar >> Melihat >> Melakukan.

Dengan mendengar, maka pembelajaran akan cenderung lebih baik.

Aku membayangkan, suatu saat ketika akan ujian biologi, sejarah atau mata pelajaran lainnya, para siswa terlihat hening dan semua menggunakan earphone. Ternyata mereka semua sedang belajar.

Ini menurutku bukan hal yang tidak mungkin. Saat ini MP3 Player sudah banyak beredar. Atau anak-anak mendengarkan musik melalui handphone juga banyak kita temui. So, MP3-Learning ini hanyalah masalah waktu. Ketika ada pihak-pihak yang menyediakan medianya, aku yakin ini akan meledak.

Mungkin akan lebih baik lagi ketika ada pihak yang menyediakan fasilitas sharing untuk media MP3-Learning? Anybody interes???

So, mari kita lihat:)

Dec
01
Filed Under (General) by dotindo on 01-12-2006

Jangan heran kalau aku banyak nulis blog.

Bukan nggak ada kerjaan, kerjaan lagi banyak:(.  Tapi karena isengnya lagi kumat.

Dec
01
Filed Under (Religion) by dotindo on 01-12-2006

Hari ini aku pengen menulis tentang nafsu. Nafsu, adalah binatang yang telah lama diketahui, tetapi tetap saja menjadi jembatan kehancuran manusia. Baik pribadi per pribadi maupun kelompok. Sepertinya selama manusia masih memiliki kepala, maka nafsu akan tetap ada. Kalau mau menghilangkan nafsu, maka kepala harus dicopot.

Sekarang, bagaimana caranya mencopot kepala? Cara paling mudah adalah, ditebas hingga kepala terlepas, maka terlepas pula nafsu itu (alias mati). Cara yang kedua adalah, melepas kepala (kontrol terhadap kepala) dan menggantikannya dengan yang lain. Ada beberapa cara untuk ini. Yang pertama kali aku pelajari adalah "teori kosong " dari buku-bukunya Kho Ping Ho (sepertinya dia mengambil nilai dari ajaran Khong Hu Cu. Silahkan baca deh cerita silat Kho Ping Ho, hampir selalu nilai ini disisipkannya. Yang kedia, ada buku "Jiwa yang tenang (An Nafsul Mutmainnah)", karangan Prof. Dr. Dasteghib, orang Iran. Ini buku yang luar biasa, isinya menginspirasi orang untuk mencapai jiwa yang tenang. Caranya, dengan berserah diri kepada-Nya. Begitu membaca buku ini, kesanku adalah, jika orang telah mencapai tahap jiwa yang tenang, maka orang itu akan memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia akan tetap bisa makan, minum dan tersenyum dengan tenang meski pistol berisi peluru siap ditembakkan mengancam di depan matanya. Subhanallah. Dan ini cukup dicapai dengan berserah diri pada-Nya.

Meski isinya luar biasa, ternyata sangat-sangat sulit untuk mencapai seperti itu. Entah kapan aku bisa mencapainya…

Tentang nafsu, Hamka menuliskan dalam Tafsir Al-Azhar, biangnya itu 3 yaitu : mata, perut dan kelamin. Jadi sebenarnya kalau mau berpikir mengendalikan nafsu, ya kendalikan 3 hal itu saja.

Cara mengendalikan yang sederhana adalah.. hilangkan semuanya. Kalau tidak ada mata, tidak ada perut dan tidak ada kelamin, maka nafsu tidak akan ada:D.

Sebuah cerita di waktu aku kecil lah yang memberiku ide dalam mengendalikan nafsu. Ceritanya sewaktu SD (kelas 3 atau 4, lupa) aku naik bis dengan teman-temanku ke sekolah. Ketika mau bayar ke kondektur, aku merasa sayang karena uang lembaran yang aku pegang masih baru. Kemudian temanku meminta uang itu. Kupikir dia mau menukar dengan uang yang jelek, jadi uang yang baru dia simpan dan uang yang jelek aku bayarkan. Ternyata… uangku itu langsung di remas-remas sampai kucel, kemudian dia kasihkan ke aku sambil tertawa "Nih, sekarang kamu tidak akan merasa sayang lagi, hehe…". Waktu itu kami satu rombongan tertawa bersama.. Tapi aku mencatat dalam hatiku, bahwa ini adalah salah satu cara untuk mengendalikan perasaan sayang. Ketika ada sesuatu yang memberati, solusi sederhananya adalah : hilangkan itu! Sekarang tinggal bagaimana cara cerdas menerapkan prinsip itu, karena ternyata banyak hal tidak bisa kita hancurkan :(.