Budaya dan nilai-nilai yang ada, pertanyaan yang sejak jaman mahasiswa. Dan hingga sekarang masih belum terjawab.
Dulu jaman mahasiswa anak-anak TI belajar tentang sistem produksi gaya barat dan gaya jepang. Dan kami dulu mempelajari kenapa sistem produksi yang satu tepat untuk di barat dan yang satu tepat untuk di jepang. Semua berakar dari budaya. Ketika muncul pertanyaan, bagaimana untuk Indonesia? Langsung hancur lebur deh. Isinya debat yang tak ada ujung, karena semua berbeda pendapat tentang apa itu budaya indonesia.
Bahkan aku secara khusus bertanya kepada Pak Senator (sekarang beliau udah Professor, dulu baru Doktor), beliau cuman jawabnya normatif "Budaya Indonesia itu mengikuti pada pimpinannya". Saat itu aku berpikir mengiyakan, maklum.. kalah ilmu :D. Tapi kemudian aku berpikir lagi.. perasaan kalau pimpinannya buruk, anak buahnya ngikut. Tapi kalau pimpinan baik, belum tentu anak buah ngikut. Kemudian aku bertanya lagi kepada Pak Frans Mardi, beliau guru besar di TI ITB. Jawabannya beliau lebih keras malah "Indonesia tidak ada budaya!" (beneran ngomongnya sambil membentak:p). Aku masih bertanya lagi "Bukannya budaya itu terlihat melalui pendidikan?", dan beliau menjawab lebih keras lagi (beneran ini ngomong keras, ngebentak) "di Indonesia tidak ada pendidikan!". Dah langsung terdiam deh aku.
Nggak tahu pagi ini kok aku tiba-tiba melihat suatu arahan pemikiran. Dalam bayanganku budaya Indonesia mungkin lebih tepat dikatakan budaya kosmetik. Orang lebih berpikir tentang pandangan orang lain terhadap dirinya. Karena itu segala macam usaha dilakukan untuk itu. Dan ini berlaku tidak hanya di level yang educated, namun juga banyak orang yang berpendidikan tinggi melakukan seperti itu. Mungkin ini sisa budaya feodal bercampur budaya materialistis???
Yang terjadi kemudian orang berusaha sebatas pandangan orang yang akan timbul padanya. Kalau perlu, men-setup pandangan orang terhadap dirinya.
Hmm.. panjang kalau menguraikan tentang hal ini. Pagi ini aku masih banyak yang perlu aku kerjakan, nanti aku sambung lagi deh tulisan ini. Tapi yang jelas titik itu, aku yakin bisa sebagai titik awal untuk menguraikan budaya Indonesia.