Baru kemarin aku nulis masalah Serakah Membawa Sengsara, sekarang Lapindo menunjukkan hal itu..
Tadi malam pipa gas di Sidoarjo meledak. Kebodohan besar!!! Kenapa? Karena hal ini sudah diprediksikan jauh hari sebelumnya!
Coba lihat tulisan ini :
atau ini :
http://www.icmi.or.id/ind/content/view/452/60/
(semoga link2 itu tidak hilang nanti..)
Ini potongan-potongan berita itu :
— Walhi Jawa Timur memperingatkan adanya rangkaian jalur pipa gas yang membentang sejauh 430 kilometer dari Pagerungan Sumenep hingga Gresik melalui Sidoarjo. Pipa gas ini memasok sekitar 80-100 ribu meter kubik gas per hari ke beragam sentra industri di Jatim. Pipa gas bersuhu 60-70 derajat Celcius. —-….
– Penting pula dihitung berapa kekuatan pipa. Apakah reruntuhan tanah bisa memicu bending (bengkok) pada pipa atau tidak. Jika ya, apakah itu dapat memicu fracture (retak) atau tidak. –..
Berita itu tertanggal 20 Juni 2006, dan itu adalah 5 bulan yang lalu!
Keterlaluan sekali tim penanggulangan Lapindo ini. Suatu kecelakaan yang sudah diprediksikan 5 bulan yang lalu, kok tidak diantisipasi?
Aku mencatat, kesalahan-kesalahan yang dilakukan Lapindo akibat keserakahan adalah :
1. Di saat pengeboran tidak menggunakan casing. Mungkin jika Lapindo menggunakan casing, cerita akan berbeda.
2. Ketika muncul masalah, tidak segera melakukan tindakan malah menyalahkan orang lain. Kemarin aku sempat ngobrol dengan orang urusan pengeboran, dia cerita bahwa hal-hal seperti Lapindo ini mungkin ditemui dalam pengeboran. Tetapi mestinya jika segera diambil tindakan, tidak akan separah saat ini. Aku inget, dulu saat pertama kali lumpur muncul di rumah penduduk, Lapindo tidak mau mengakui itu akibat perbuatannya dia.
3. Mencoba lepas tangan, dengan menjual Lapindo ke pihak lain. Yang terbaru, Lapindo di jual ke Freehold, perusahaan berbasis di Virgin Island. Secara kasat mata, kita tahulah ini upaya untuk lepas tangan. Dan menarik, komentar semua pihak, termasuk Jusuf Kalla adalah "Siapapun pemiliknya, yang bertanggung jawab adalah Lapindo Brantas". Ini kata-kata yang konyol.
Secara ngawurpun, bagaimana kalau Lapindo dijual ke seorang buruh tani yang nggak tahu apa-apa? kemudian dikasih perjanjian bahwa keluarganya akan disantuni, diberi harta yang banyak? Jelas buruh tani itu akan mau, dia akan berpikir paling banter dia dipenjara or dihukum mati. Tapi kalau pengorbanan dia bisa untuk menghidupi keluarga, dia akan jalani.
Jadi kalau mau lepas tangan, ke orang Indonesiapun juga bisa.
Namun yang terjadi sekarang Lapindo dijual ke perusahaan berbasis di luar negeri, dengan pemilik orang luar negeri. Lha kok pura-pura bodoh? Lha jelas-jelas koruptor yang WNI yang lari keluar negeri nggak bisa ditangkep aja banyak kok. Kemudian kasus terbaru, korupsi BNI, pelakunya berkewarganegaraan Belanda, sampai saat ini juga tidak bisa ditangkap. So, siapa bisa garansi bahwa pembeli Lapindo ini akan bertanggung jawab? Dan bagaimana mengejarnya jika ternyata tidak bertanggung jawab? Jadi ini jelas upaya untuk melempar tanggung jawab!
4. Kurang bersungguh-sungguh dalam menangani kecelakaan. Terlihat dari kejadian pipa gas meledak. Sesuatu yang sudah diramalkan 5 bulan lalu, kok ya tidak diantisipasi dan akhirnya terjadi? Hati-hati.. pipa meledak ini akan berpengaruh ke industri yang produksinya bakal terganggu. Apakah industr-industri ini akan menuntut kerugian ke Lapindo? Sangat mungkin. Coba bayangkan, kalau sampai industri ini jadi terlambat melakukan delivery, kemudian dituntut membayar biaya keterlambatan oleh customernya, apakah industri mau menanggung sendiri? Mari kita lihat bersama saja…
Menurutku, penanganan Lapindo saat ini seharusnya menggunakan asumsi bahwa lumpur sudah tidak bisa dihentikan. Solusi yang dipikirkan adalah: hitung kedepan semburan lumpur ini akan sampai kapan dan seperti apa, kemudian penanganan semua korban dan efek-efeknya seperti apa. Aku nggak yakin dengan usaha untuk menghentikan semburan lumpur.