Aku tergelitik juga, tadi pas mampir ke BEC (Bandung Electronic Center) mendengar ada ABG ngobrol ".. kan anak-anak di Bandung pada pake Esia.. ". Obrolan yang cuman kutangkap sepotong. Kayaknya sih mereka berbicara tentang cara berkomunikasi yang murah.
Aku kemudian teringat khayalanku dulu.. Seandainya telekomunikasi murah, bayanganku orang akan banyak berbicara. Setelah banyak berbicara, yang tadinya cuman ngerumpi / omong kosong doang, pada akhirnya omong kosong itu akan mencapai kebosanan dan orang akan terdorong untuk berbicara yang produktif, dan itu akan meningkatkan perekonomian bangsa. Sehingga bayanganku, peningkatan telekomunikasi akan menghasilkan peningkatan ekonomi.
Saat ini akhirnya telekomunikasi murah mulai terwujud di Indonesia(meski aku masih agak tanda tanya, ini adalah suatu kecenderungan jangka panjang atau hanya fenomena sesaat?). Nah, sekarang pertanyaannya, seberapa besar efek murahnya telekomunikasi ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi? (note: pertumbuhan ekonomi disini tidak memperhitungkan bisnis di sektor telekomunikasinya ya.. tapi dorongan sektor telekomunikasi ke sektor lain).
Kalau melihat para ABG yang berbicara itu, aku kok jadi tandatanya.. apakah benar terjadi suatu pertumbuhan positif? Atau malah negatif? Artinya, tidak tercipta ide-ide positif tapi malah ngerumpi yang semakin hebat (alias foya-foya / aktifitas tidak bermanfaat semakin tambah).
Jika melirik ke bisnis, yang aku lihat untuk para pengusaha kecil, jelas murahnya komunikasi ini cukup membantu aktifitas mereka. Dari yang aku temui, sebagian besar pengusaha kecil mempersenjatai diri dengan handset CDMA, sebagai perangkat kedua selain GSM (yang masih mahal). Termasuk juga orang-orang IT yang untuk kerjaannya perlu menggunakan chating, memanfaatkan jaringan GPRS CDMA untuk online terus menerus dengan biaya yang sangat murah.
So, what’s next to do?
Harapanku sih efek positif yang ditimbulkan lebih besar daripada efek negatif. Dan ini mungkin perlu di-drive oleh operator.
Sedikit komentar: memperhatikan iklan-iklan operator telepon yang ada di Indonesia, kayaknya sebagian besar menampilkan gaya hidup konsumtif aja deh. Sedikit (atau sedikit sekali?) yang menampilkan efek positif. Lihat aja yang terbaru, iklan 3G Telkomsel dan XL, bukannya mengedukasi penggunaan bandwith untuk sesuatu yang positif (saling kirim kerjaan atau apalah lainnya..) tetapi lebih menonjolkan fitur Video yang konsumtif.
So, please para operator.. dukunglah budaya yang positif, jangan cuman yang konsumtif. Utopia??