Aku banyak melakukan kesalahan dalam hidup ini, baik sengaja atau tidak. Namun aku selalu mencatat dalam hatiku bahwa yang aku lakukan itu salah. Dengan demikian, aku akan terdorong untuk suatu saat harus mengoreksi kesalahan tersebut.
Hal yang aku amati dari banyak orang adalah, ketika melakukan kesalahan, untuk menutupi perasaan bersalahnya, orang menganggap apa yang dilakukannya itu benar. Berjuta alasan disusunnya sebagai pembenaran. Tindakan ini (membenarkan yang salah) menurutku adalah kesalahan yang sangat fatal. Jika orang bersikap seperti ini, maka dirinya akan menjadi nyaman, dan tindakan tersebut (yang sesungguhnya salah) akan dilakukan berulang-ulang. Dan ini menutup pintu bagi dia untuk mengoreksi tindakannya.
Aku sering menyerukan ini ke teman-temanku. Aku tidak menyeru untuk tidak melakukan kesalahan, karena manusia itu lemah, pasti ada kesalahan. Yang penting selalu sadar bahwa kita telah melakukan suatu kesalahan, sehingga suatu saat kita akan memperbaikinya.
Aku menuliskan hal ini karena ada berita terbaru, seorang tokoh agama yang poligami. Aku jadi tergoda untuk membaca, dan terus terang aku sangat menyesalkan. Karena yang aku lihat, dia bisa tergelincir untuk membolak-balikkan agama demi kebutuhan nafsunya. Naudzubillah min dzalik! Semoga beliau dan kita semua terhindar dari hal itu.
Tentang poligami, istrinya temanku ada yang memberikan jawaban yang sangat-sangat cerdas. Sebagai ketentuan di dalam Al-Qur’an, poligami tidak boleh dibantah (siapa kita, berani membantah Al-Qur’an?). Namun jika memang benar acuan kita menikah lagi (poligami) adalah karena menjalankan perintah Al-Qur’an, Lillahi ta’ala, bukan karena nafsu, maka itu harus diuji. Mengujinya sederhana, sang istri akan mencarikan perempuan yang tidak satu laki-lakipun mau menikahinya, dan suami dipersilahkan untuk menikahi wanita tersebut. Jika suami tidak mau, maunya malah dengan seorang perempuan yang banyak laki-laki juga mau, maka jelas poligaminya berdasar nafsu, bukan berdasar Lillahi ta’ala. Kalau suami mau, sang istri akan mengihlaskan hatinya. Aku rasa ini adalah suatu kesimpulan yang sangat cerdas sekaligus berani.
Jika mempelajari dalam pernikahan Nabi, maka sebagian besar yang dinikahi Nabi adalah janda dan ada juga yang karena strategi dakwah (CMIIW). Pernikahan Nabi yang pertama dengan Khadijah, tidak ada istri kedua sehingga Khadijah wafat. Pernikahan Nabi dengan wanita yang masih perawan hanya dengan Aisyah. Dan inipun karena perintah Tuhan (Coba perhatikan kisah ketika ada fitnah terhadap Aisyah. Ada salah seorang sahabat yang bertanya "Apakah dulu Nabi menikahi Aisyah karena perintah Allah?" dan Nabi menjawab "Ya". Dan selanjutnya…).
Aku tidak tahu banyak lah tentang bagaimana poligami itu, keadilan dalam berumah tangga, dll. Aku hanya bisa membedakan (dugaan awam), tindakan itu berdasar nafsu atau benar Lillahita’ala. Akan lebih baik mungkin jika sang tokoh itu berani berkata "iyah saya memang ada nafsu, dan saya menikah lagi". Dan silahkan jika dia menafsirkan bahwa menikah karena dorongan nafsu itu diperbolehkan, selama tidak lebih dari 4. Yang penting, kalau salah bilang salah, meskipun kita melakukan kesalahan.
Note: Ini tulisan seseorang yang pengetahuan agamanya sangat kurang, pengetahuan sosialnya juga rendah. Tulisan ini hanyalah apa yanga terlintas di kepala, tidak bisa dijadikan rujukan. Mohon maaf sebelumnya jika ada yang keberatan,
Budaya dan nilai-nilai yang ada, pertanyaan yang sejak jaman mahasiswa. Dan hingga sekarang masih belum terjawab.
Dulu jaman mahasiswa anak-anak TI belajar tentang sistem produksi gaya barat dan gaya jepang. Dan kami dulu mempelajari kenapa sistem produksi yang satu tepat untuk di barat dan yang satu tepat untuk di jepang. Semua berakar dari budaya. Ketika muncul pertanyaan, bagaimana untuk Indonesia? Langsung hancur lebur deh. Isinya debat yang tak ada ujung, karena semua berbeda pendapat tentang apa itu budaya indonesia.
Bahkan aku secara khusus bertanya kepada Pak Senator (sekarang beliau udah Professor, dulu baru Doktor), beliau cuman jawabnya normatif "Budaya Indonesia itu mengikuti pada pimpinannya". Saat itu aku berpikir mengiyakan, maklum.. kalah ilmu :D. Tapi kemudian aku berpikir lagi.. perasaan kalau pimpinannya buruk, anak buahnya ngikut. Tapi kalau pimpinan baik, belum tentu anak buah ngikut. Kemudian aku bertanya lagi kepada Pak Frans Mardi, beliau guru besar di TI ITB. Jawabannya beliau lebih keras malah "Indonesia tidak ada budaya!" (beneran ngomongnya sambil membentak:p). Aku masih bertanya lagi "Bukannya budaya itu terlihat melalui pendidikan?", dan beliau menjawab lebih keras lagi (beneran ini ngomong keras, ngebentak) "di Indonesia tidak ada pendidikan!". Dah langsung terdiam deh aku.
Nggak tahu pagi ini kok aku tiba-tiba melihat suatu arahan pemikiran. Dalam bayanganku budaya Indonesia mungkin lebih tepat dikatakan budaya kosmetik. Orang lebih berpikir tentang pandangan orang lain terhadap dirinya. Karena itu segala macam usaha dilakukan untuk itu. Dan ini berlaku tidak hanya di level yang educated, namun juga banyak orang yang berpendidikan tinggi melakukan seperti itu. Mungkin ini sisa budaya feodal bercampur budaya materialistis???
Yang terjadi kemudian orang berusaha sebatas pandangan orang yang akan timbul padanya. Kalau perlu, men-setup pandangan orang terhadap dirinya.
Hmm.. panjang kalau menguraikan tentang hal ini. Pagi ini aku masih banyak yang perlu aku kerjakan, nanti aku sambung lagi deh tulisan ini. Tapi yang jelas titik itu, aku yakin bisa sebagai titik awal untuk menguraikan budaya Indonesia.
Aku rasa, perlu ada yang menuliskan tentang momen-momen peralihan tanggung jawab dari Lapindo ke Pemerintah.
Coba perhatikan comment-comment ini :
Menko Kesra: Ledakan Pipa Gas adalah Bencana Alam - KOMPAS CYBER MEDIA.
JAKARTA, KOMPAS–Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie menyatakan bencana semburan lumpur panas akibat operasi PT Lapindo Brantas merupakan bencana alam. Sehingga, ledakan pipa gas yang sejauh ini telah merenggut tujuh korban jiwa pun dikategorikan sebagai bencana alam.
Coba perhatikan isi berita itu juga :
Menurut Aburizal, ledakan pipa gas yang terjadi Rabu (22/11) malam tidak diperkirakan sebelumnya oleh Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Lapindo. "Kalau diperkirakan, pipa sudah dipindahkan," ujarnya.
Coba aja bandingkan dengan tulisanku sebelum ini, sejak 5 bulan lalu sudah ada peringatan. Sayang sih disini pejabat yang melakukan kebohongan publik tidak ada sanksi.
Coba perhatikan link ini juga :
Isinya : "Yang tanggung jawab adalah Lapindo," cetus Ketua DPR Agung Laksono usai Silaturahmi Semiloka Nasional Perempuan Parlemen se-Indonesia di Hotel Sahid, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2006).
Jadi ketua DPR juga mendukung bahwa tanggung jawab hanya sampai Lapindo saja.
Perhatikan juga ini :
"Siapapun pembelinya tetap bertanggung jawab," ujar Wapres Jusuf Kalla (JK) dalam keterangan pers rutin usia salat Jumat di kantornya, Jakarta, Jumat (17/11/2006).
Namun Wapres meyakinkan, lapindo tidak akan lepas tanggung jawab kepada negara, meskipun perusahaaan yang membeli belum jelas trade record-nya.
"Yang bertanggung jawab kan Lapindo. Lapindonya kan tidak pergi," ujar pria yang selalu memakai baju koko berwarna putih itu.
Melihat tanda-tanda ini, bayanganku yang akan terjadi adalah :
1. Pelan-pelan image akan diubah, bahwa yang bertanggung jawab adalah Lapindo Brantas (dan pemiliknya). Pemilik lama, setelah menjual, menjadi lepas tanggung jawab.
2. Selama masa awal-awal ini, tetap akan diperlihatkan bahwa Group Bakrie tetap bertanggung jawab dengan menyediakan pembiayaan bagi Freehold. Dengan ini citra Group Bakrie akan terlihat terjaga.
3. Setelah semua pihak yakin, bahwa Lapindo lah yang bertanggung jawab, dan pemilik lama sudah tidak diungkit-ungkit lagi, akan mulailah pemilik baru bermasalah. Kemungkinan pemilik baru akan menyatakan diri pailit atau menghila ng, tidak bisa ditagih.
4. Setelah Lapindo pemilik barunya pailit / hilang, masalah akan membesar, akhirnya negara yang akan menanggung semuanya. Hmm.. miriplah dengan kasus penyertaan modal pemerintah di perbankan.
Baru kemarin aku nulis masalah Serakah Membawa Sengsara, sekarang Lapindo menunjukkan hal itu..
Tadi malam pipa gas di Sidoarjo meledak. Kebodohan besar!!! Kenapa? Karena hal ini sudah diprediksikan jauh hari sebelumnya!
Coba lihat tulisan ini :
atau ini :
http://www.icmi.or.id/ind/content/view/452/60/
(semoga link2 itu tidak hilang nanti..)
Ini potongan-potongan berita itu :
— Walhi Jawa Timur memperingatkan adanya rangkaian jalur pipa gas yang membentang sejauh 430 kilometer dari Pagerungan Sumenep hingga Gresik melalui Sidoarjo. Pipa gas ini memasok sekitar 80-100 ribu meter kubik gas per hari ke beragam sentra industri di Jatim. Pipa gas bersuhu 60-70 derajat Celcius. —-….
– Penting pula dihitung berapa kekuatan pipa. Apakah reruntuhan tanah bisa memicu bending (bengkok) pada pipa atau tidak. Jika ya, apakah itu dapat memicu fracture (retak) atau tidak. –..
Berita itu tertanggal 20 Juni 2006, dan itu adalah 5 bulan yang lalu!
Keterlaluan sekali tim penanggulangan Lapindo ini. Suatu kecelakaan yang sudah diprediksikan 5 bulan yang lalu, kok tidak diantisipasi?
Aku mencatat, kesalahan-kesalahan yang dilakukan Lapindo akibat keserakahan adalah :
1. Di saat pengeboran tidak menggunakan casing. Mungkin jika Lapindo menggunakan casing, cerita akan berbeda.
2. Ketika muncul masalah, tidak segera melakukan tindakan malah menyalahkan orang lain. Kemarin aku sempat ngobrol dengan orang urusan pengeboran, dia cerita bahwa hal-hal seperti Lapindo ini mungkin ditemui dalam pengeboran. Tetapi mestinya jika segera diambil tindakan, tidak akan separah saat ini. Aku inget, dulu saat pertama kali lumpur muncul di rumah penduduk, Lapindo tidak mau mengakui itu akibat perbuatannya dia.
3. Mencoba lepas tangan, dengan menjual Lapindo ke pihak lain. Yang terbaru, Lapindo di jual ke Freehold, perusahaan berbasis di Virgin Island. Secara kasat mata, kita tahulah ini upaya untuk lepas tangan. Dan menarik, komentar semua pihak, termasuk Jusuf Kalla adalah "Siapapun pemiliknya, yang bertanggung jawab adalah Lapindo Brantas". Ini kata-kata yang konyol.
Secara ngawurpun, bagaimana kalau Lapindo dijual ke seorang buruh tani yang nggak tahu apa-apa? kemudian dikasih perjanjian bahwa keluarganya akan disantuni, diberi harta yang banyak? Jelas buruh tani itu akan mau, dia akan berpikir paling banter dia dipenjara or dihukum mati. Tapi kalau pengorbanan dia bisa untuk menghidupi keluarga, dia akan jalani.
Jadi kalau mau lepas tangan, ke orang Indonesiapun juga bisa.
Namun yang terjadi sekarang Lapindo dijual ke perusahaan berbasis di luar negeri, dengan pemilik orang luar negeri. Lha kok pura-pura bodoh? Lha jelas-jelas koruptor yang WNI yang lari keluar negeri nggak bisa ditangkep aja banyak kok. Kemudian kasus terbaru, korupsi BNI, pelakunya berkewarganegaraan Belanda, sampai saat ini juga tidak bisa ditangkap. So, siapa bisa garansi bahwa pembeli Lapindo ini akan bertanggung jawab? Dan bagaimana mengejarnya jika ternyata tidak bertanggung jawab? Jadi ini jelas upaya untuk melempar tanggung jawab!
4. Kurang bersungguh-sungguh dalam menangani kecelakaan. Terlihat dari kejadian pipa gas meledak. Sesuatu yang sudah diramalkan 5 bulan lalu, kok ya tidak diantisipasi dan akhirnya terjadi? Hati-hati.. pipa meledak ini akan berpengaruh ke industri yang produksinya bakal terganggu. Apakah industr-industri ini akan menuntut kerugian ke Lapindo? Sangat mungkin. Coba bayangkan, kalau sampai industri ini jadi terlambat melakukan delivery, kemudian dituntut membayar biaya keterlambatan oleh customernya, apakah industri mau menanggung sendiri? Mari kita lihat bersama saja…
Menurutku, penanganan Lapindo saat ini seharusnya menggunakan asumsi bahwa lumpur sudah tidak bisa dihentikan. Solusi yang dipikirkan adalah: hitung kedepan semburan lumpur ini akan sampai kapan dan seperti apa, kemudian penanganan semua korban dan efek-efeknya seperti apa. Aku nggak yakin dengan usaha untuk menghentikan semburan lumpur.
Aku barusan melewati Semanggi. Dari arah Sudirman menuju ke Gatot Subroto arah ke Cawang. Macettttt… Hal yang mungkin sudah dianggap biasa.
Tetapi ketika aku lihat, menyebalkan sekali. Ternyata salah satu biangnya adalah di Plaza Semanggi. Antrian kendaraan yang masuk menyebabkan kendaraan dari arah sudirman susah maju.
Kemudian aku berpikir.. apa yang terjadi seandainya Plaza Semanggi itu tidak ada ?
1. Pembangunan semacam Plaza Semanggi (PS) akan didirikan di tempat lain (Plaza Semanggi Lain / PSL), sehingga meningkatkan penyebaran pembangunan.
2. Keuntungan para tenant, pemilik modal, dll tidak didapat dari PS, tetapi mereka akan mendapat keuntungan yang lebih kecil dari PSL.
3. Gangguan lalu lintas tidak separah saat ini di Sudirman. Di tempat lain (PSL) lalu lintas akan meningkat, tetapi masih dalam kapasitasnya.
4. Para karyawan yang bekerja di Plaza Semanggi, tidak bekerja disitu, tetapi bekerja di PSL.
Dengan gambaran umum ini, terlihat, seandainya tidak ada keserakahan sesaat, tentunya orang tidak akan membangun Plaza Semanggi disitu. Dan tentunya kesengsaraan masyarakat tidak akan setinggi saat ini.
Sory, Plaza Semanggi disini hanya aku jadikan contoh. Inti yang aku ingin sampaikan adalah, bahwa serakah pada akhirnya akan membawa kesengsaraan bagi kita semua.
Dan hal ini berlaku general. Tidak hanya di kasus bisnis saja. Tetapi juga di kebijakan, juga di personal.
Kemarin aku sempat melakukan sesuatu. Kujalani semua langkah demi langkah dengan etik. Tetapi ditengah jalan aku menemukan ternyata aku tanpa sengaja telah melanggar etik. Seharusnya saat itu aku harus langsung mundur, membatalkan semua langkah yang sudah terjadi. Namun karena saat itu sedang emosi, terlupa dengan etika, termakan keserakahan, sehingga terus berjalan. Dan akhirnya.. menemukan kesulitan di ujung. Ketika aku introspeksi, ini adalah kesalahanku, akibat serakah. Seandainya aku strict dengan etika, tentunya aku tidak akan bertemu kesulitan di akhir.
Tulisan ini bukan untuk mengata-ngatai siapapun. Tulisan ini hanya sebagai pengingat, termasuk diriku juga, untuk tidak serakah. Bahwa pada saatnya keserakahan akan menghasilkan kesengsaraan.
Link: Profesor Samaun Samadikun Akan Dimakamkan di TMP Kalibata - KOMPAS CYBER MEDIA.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..
Telah berpulang salah satu putra terbaik bangsa, Prof. Dr. Samaun Samadikun, pagi ini, 15 November 2006. Semoga beliau diterima di sisi-Nya, Amien..
Ada satu rasa yang terbersit di hatiku.. sukar aku lukiskan. Ya sedih, ya.. bagaimana lagi, manusia pasti kembali pada Tuhannya.
Kesanku yang kuat tentang beliau adalah.. semangat yang beliau tularkan ke mahasiswanya untuk bisa berkarya. Saat aku awal mengembangkan Dot System, kemudian sempat berbincang dengan beliau, aku sangat terkesan dengan perhatian beliau. Beliau, sebagai seorang sesepuh, berbincang dengan aku seolah tanpa batas. Bahkan beliau tertawa ketika pendapatnya aku bantah, tidak ada perasaan tersinggung. Beliau kemudian berkata "Kamu yang menjalani pastilah lebih tahu situasinya".
Di lain waktu (beberapa bulan yang lalu), aku melihat betapa beliau di usianya yang sudah senja, masih juga menyoldir rangkaian. Semangat yang tak pernah surut. Subhanallah.
Salah satu cita-cita beliau (bersama dengan Pak Iskandar Alisyahbana, dll) adalah melihat Bandung Hight Tech Valley terbentuk. Meskipun saat ini mungkin itu belum terbentuk, aku termasuk yang percaya cita-cita besar itu akan terwujud. Dot System adalah perusahaan yang aku kembangkan dengan semangat untuk mewujudkan BHTV. Termasuk pengembangan bisnis dari software hingga ke Digital Device. Jika Dot System dan kembangannya akhirnya sukses nanti, aku mencatat bahwa beliau telah menyumbangkan spiritnya.
Selamat jalan Pak Samaun, semoga tenang di sisi-Nya..
Kami yang muda akan melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak awali..
Aku tergelitik juga, tadi pas mampir ke BEC (Bandung Electronic Center) mendengar ada ABG ngobrol ".. kan anak-anak di Bandung pada pake Esia.. ". Obrolan yang cuman kutangkap sepotong. Kayaknya sih mereka berbicara tentang cara berkomunikasi yang murah.
Aku kemudian teringat khayalanku dulu.. Seandainya telekomunikasi murah, bayanganku orang akan banyak berbicara. Setelah banyak berbicara, yang tadinya cuman ngerumpi / omong kosong doang, pada akhirnya omong kosong itu akan mencapai kebosanan dan orang akan terdorong untuk berbicara yang produktif, dan itu akan meningkatkan perekonomian bangsa. Sehingga bayanganku, peningkatan telekomunikasi akan menghasilkan peningkatan ekonomi.
Saat ini akhirnya telekomunikasi murah mulai terwujud di Indonesia(meski aku masih agak tanda tanya, ini adalah suatu kecenderungan jangka panjang atau hanya fenomena sesaat?). Nah, sekarang pertanyaannya, seberapa besar efek murahnya telekomunikasi ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi? (note: pertumbuhan ekonomi disini tidak memperhitungkan bisnis di sektor telekomunikasinya ya.. tapi dorongan sektor telekomunikasi ke sektor lain).
Kalau melihat para ABG yang berbicara itu, aku kok jadi tandatanya.. apakah benar terjadi suatu pertumbuhan positif? Atau malah negatif? Artinya, tidak tercipta ide-ide positif tapi malah ngerumpi yang semakin hebat (alias foya-foya / aktifitas tidak bermanfaat semakin tambah).
Jika melirik ke bisnis, yang aku lihat untuk para pengusaha kecil, jelas murahnya komunikasi ini cukup membantu aktifitas mereka. Dari yang aku temui, sebagian besar pengusaha kecil mempersenjatai diri dengan handset CDMA, sebagai perangkat kedua selain GSM (yang masih mahal). Termasuk juga orang-orang IT yang untuk kerjaannya perlu menggunakan chating, memanfaatkan jaringan GPRS CDMA untuk online terus menerus dengan biaya yang sangat murah.
So, what’s next to do?
Harapanku sih efek positif yang ditimbulkan lebih besar daripada efek negatif. Dan ini mungkin perlu di-drive oleh operator.
Sedikit komentar: memperhatikan iklan-iklan operator telepon yang ada di Indonesia, kayaknya sebagian besar menampilkan gaya hidup konsumtif aja deh. Sedikit (atau sedikit sekali?) yang menampilkan efek positif. Lihat aja yang terbaru, iklan 3G Telkomsel dan XL, bukannya mengedukasi penggunaan bandwith untuk sesuatu yang positif (saling kirim kerjaan atau apalah lainnya..) tetapi lebih menonjolkan fitur Video yang konsumtif.
So, please para operator.. dukunglah budaya yang positif, jangan cuman yang konsumtif. Utopia??