Tiba-tiba aja aku keinget Busway, Transjakarta.
Dulu aku termasuk yang mendukung pelaksanaan busway. Dicari-cari hitungannya, busway memang menguntungkan. Coba aja bandingkan bus di jalan umum dengan di busway. Bus di busway bisa memotong waktu tempuh 1/2 dari bus umum untuk rute yang sama. Artinya.. dengan cost yang hampir sama, dia bisa mendapat pendapatan lebih dari bus umum, alias cost/penumpang lebih kecil. Itu keuntungan bagi operator bus. Bagi penumpang, jelas.. busway memberikan layanan yang lebih manusiawi bagi penumpang. Bagi lingkungan, jelas juga.. pengurangan polusi. Dengan berbagai perhitungan itu, jelas aku mendukung pelaksanaan proyek busway (note: urusan tuduhan korupsi adalah hal lain, tidak ada hubungannya disini)
Saat ini busway sudah diterima masyarakat, ditandai dengan semakin banyaknya penumpang dan sedikitnya (hilang?) penolakan dari masyarakat. Pertanyaan berikutnya adalah.. what next to do?
Saat ini penumpang busway pada jam puncak (pagi dan sore hari) sangat penuh. Dan untuk dapat terangkutpun, penumpang mungkin harus antri beberapa menit (mungkin sampe 1/2 jam? sory, aku belum menghitung kondisi terakhir nih). Jika tidak ada perubahan, maka nasib busway akan sama dengan kereta jabotabek. Akan sama dengan bus umum pendahulunya, yaitu TIDAK MANUSIAWI lagi. Ukuran manusiawi adalah jelas: manusia ya manusia, bukan ikan sarden yang mesti dijejalkan dalam kaleng. Juga tidak bisa membiarkan mereka menunggu berlama-lama hingga mendapat angkutan.
Mau tidak mau, maka busway harus menambah armadanya. Penambahan armada ini memang akan mengakibatkan idle capacity pada saat low hours (saat penumpang sedikit, jam 10-16). Idle ini sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam sistem transportasi manapun. Jadi tidak perlu takut dengan idle. Yang penting angka idle nya bisa dipertanggung jawabkan. Berapa angka yang dapat dipertanggungjawabkan?
Bayanganku, penumpang pada saat peak maksimal 150% dari kapasitas transportasi. Kalau nggak salah di Jepang ada angka, dalam 1 meter persegi maksimum berisi 8 orang. Berbasis angka itu, kita bisa hitung berapa banyak armada yang harus disediakan pada saat jam puncak. Kemudian pada saat low, jumlah armada yang beroperasi bisa dikurangi.
Pada saat low ini, armada yang diistirahatkan bisa berganti-ganti. Dengan cara ini maka life time armada dapat dijaga untuk setara secara keseluruhan, sehingga maintenance mudah dilakukan.
Bagaimana dengan karyawan ? Saat low, ketika jumlah armada beroperasi dikurangi, karyawan tidak dibiarkan menganggur. Bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia dapat melakukan berbagai pelatihan. Baik pelatihan yang terkait langsung dengan keperluan bisnis perusahaan (misal: pelatihan trouble shooting terhadap kendaraan, pelatihan jika ada kecelakaan, pelatihan jika ada penumpang yang menghadapi kondisi darurat, dll). Jikapun sudah habis, semua yang diperlukan langsung untuk bisnis udah dipenuhi, bisa diberikan pelatihan untuk meningkatkan kemanusiaan mereka. Misalnya, pelatihan menggunakan komputer, diberi kesempatan untuk membaca buku yang akan menambah pengetahuan, dll. Kalaupun pelatihan terus sudah dilakukan dan bosen (bayangin aja, dalam setahun bisa jadi 100 hari training, karena tiap hari selalu ada yang tidak beroperasi pada siang hari), karyawan bisa diarahkan untuk melakukan kerja sosial.
Jika kebijakan ini dijalankan, aku yakin sekali bahwa busway akan menjadi kebanggaan masyarakat jakarta. Mungkin malah bisa menjadi agen perubahan (jika Pengembangan SDM dikelola dengan baik). Dari sisi biaya.. idle capacity merupakan hal normal yang sudah diperhitungkan dalam cost, jadi seharusnya Pemerintah (pengusaha??) tidak perlu mengejar keuntungan tinggi dari busway. Ambillah keuntungan secukupnya, dan strategi operasi dan pengembangan SDM yang aku uraikan tersebut tetap bisa terlaksana (tanpa membebani masyarakat banyak).
Note :Usulan ini hanyalah solusi jangka pendek dalam pengelolaan transportasi, dalam memberikan transportasi yang layak bagi warga. Namun dalam jangka panjang Pemda Jakarta tetap harus memikirkan strategi yang tepat, karena dengan aktivitas seperti ini, jelas busway tidak efisien. Mass Rapid Transport semacam mono rail dll, dan strategi tata kota harus diperhatikan benar sebagai solusi jangka panjang)