Aku barusan membaca buku Japan’s Big Bang. Belum selesai sih, baru pendahuluan. Isinya tentang analisa ekonomi jepang, yang dianggap oleh penulisnya tidak efisien, kemudian dia menunjukkan langkah-langkah yang harus dilakukan agar jepang bisa melakukan Big Bang. Isi buku ini tidak begitu menarik, hanya sebagai pelajaran saja. Yang membuatku tertarik adalah bagaimana cara penulis ini menganalisa makro ekonomi jepang. Aku kemudian mencoba membandingkannya, dan aku membuka buku “Makro Ekonomi Indonesia” terbitan Lembaga Penelitian Ekonomi IBII.
Di bagian pengantar, ada tulisan dari Kwik Kian Gie yang sangat mendasar yaitu : bahwa buku itu hanyalah mencoba sebuah model makro ekonomi Indonesia hasil penelitian mereka. Ada kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi :
Pertama, terjadi kesalahan model. Apakah koefisien-koefisien yang digunakan telah tepat untuk Indonesia.
Kedua, terjadi kesalahan data. Seandainya data-data yang digunakan tidak valid, maka kesimpulannya juga tidak valid (garbage in garbage out).
Ini adalah pengakuan jujur seorang ekonom. Memang melihat Indonesia, sepertinya sulit sekali membuat model. Karena sistem di Indonesia masih belum rapi. Permasalahan dalam sistem masih tinggi. Korupsi dan kolusi di sektor pendapatan (perpajakan, BUMN, dll) maupun pengeluaran (anggaran proyek) tinggi. Sistem ekonomi informal juga tinggi (akibat pemerintah tidak becus administrasi?). Akibatnya data-data yang ada pun diragukan validitasnya.
Aku sangat berharap para ekonom itu memiliki kesadaran seperti yang diungkap oleh Kwik ini. Aku sebel melihat para ekonom yang pongah dengan teori-teorinya, pongah dengan data-datanya, tetapi semua yang dikatakannya hanyalah sebuah black box, yang dia sendiri tidak bisa menguraikannya hingga ke dasar. Seandainya para ekonom itu jujur dan rendah hati, setiap menelurkan kebijakan ekonomi mereka seharusnya meyakinkan data yang mereka pegang. Jangan sampai setelah di keluarkan kebijakan baru berkata : “kami terkejut dengan perkembangan ini” (ini kata2 Aburizal Bakrie, sebagai menko Ekuin waktu kenaikan BBM, ketika melihat kenaikan inflasi yang dihasilkan di bulan berikutnya).
Aku pernah diskusi dengan dosen sipil di perjalanan dengan kereta api jakarta-bandung, beliau berkata “Para ekonom itu berani ngawur, soalnya mereka tidak dihukum jika terjadi kesalahan. Beda dengan Engineer yang salah membuat desain dan mengakibatkan kecelakaan, bisa dihukum. Begitu juga dengan dokter yang malpraktek, bisa dihukum”.
Dulu ketika aku jalan-jalan ke Jerman, hal yang aku takjub adalah, betapa aku bisa melihat keteraturan ekonominya. Betapa sistem ekonominya begitu tertata, sehingga mudah dilihat dan mudah dianalisa (padahal aku cuman jalan-jalan, tanpa melihat data, hanya melihat aktivitas umum aja. Tapi begitupun aku sudah bisa melihat benang merah perekonomiannya). Dalam kondisi seperti itu, berbagai analisa ekonomi jadi sangat dimungkinkan. Jika dibandingkan dengan di Indonesia, maka ketika akan membuat analisa, sangat-sangatlah sulit. Indonesia ini besar (penduduk dan wilayahnya), sistem belum rapi, dan perilaku tidak jujur cukup banyak (membuat sistem menjadi tidak kelihatan bentuknya).
Untuk menegaskan, aku menulis ini bukan untuk menjelek-jelekkan ekonom kita. Aku cuman pengen melihat para ekonom kita itu rendah hati, tidak hanya bermain dengan black box tetapi mau mencoba untuk menelusur hingga ke bawah. Buat para birokrat, cobalah kalian bekerja, membuat sistem di Indonesia ini lebih rapi. Jangan cuman memikirkan perut sendiri aja, tapi penuhilah tanggung jawabmu pada pemberi kerja (negara). Utopia?