Kata kunci untuk perubahan di Indonesia sebenarnya adalah PERUBAHAN BUDAYA.
Sayangnya sampai sekarang aku nggak tahu / belum menemukan lieratur untuk perubahan budaya. Paling banter adanya referensi Perubahan Budaya dalam lingkup Perusahaan (Corporate Culture).
Dulu di TI ada dosen mata kuliah Perilaku Organisasi, Pak Hari Lubis, beliau pernah berkata bahwa untuk melakukan perubahan budaya caranya adalah : basmi semua orang yang berumur 40 tahun ke atas (angka persis umurnya aku lupa, intinya seperti itulah). Jika Polpot di Kambodja dulu itu berhasil, maka itu akan menjadi pelajaran yang menarik buat manusia (Polpot membunuh semua orang yang tidak sealiran dengan dia agar pendidikan ke generasi berikut bisa dia tentukan). Sayangnya Polpot kalah duluan, sebelum tujuannya berhasil. (NOTE: ini kata-kata dosenku yang aku tulis ulang dalam bahasa bebas ya, bukan pendapatku pribadi:p).
Tadinya aku dan teman-teman sekelas pada ketawa mendengar kata-katanya. Kupikir ini dosen bergurau aja, meski wajahnya serius. Dan dia pun juga cuek aja, terus bicara dengan serius meski kita pada ketawa.
Tapi aku kaget ketika membaca tafsir Al Azhar, karya Hamka, yang mengisahkan tentang Nabi Musa yang membawa umatnya (Yahudi) untuk berkeliling, hidup nomaden, terlebih dahulu selama 40 tahun setelah lepas dari penjajahan Mesir (Fir’aun). Baru kemudian menetap di tanah Palestina. Penjelasan Hamka adalah, ini adalah cara Nabi Musa untuk membersihkan budaya budak yang sudah tertanam di jiwa bangsa Yahudi waktu itu. Jiwa budak itu terlihat ketika mereka mengeluh bahwa di Mesir dulu mereka aman, roti ada, semua terpenuhi, kehidupan lebih baik daripada saat nomaden (Keluh kesah ini ada tertulis di Al-Qur’an kalau gak salah). Mereka lupa bahwa pada saat itu mereka hanyalah budak, bukan orang merdeka seperti saat dengan Nabi Musa.
Dengan kehidupan nomaden ini, maka budaya dari orang-orang tua yang berjiwa budak ini tidak sempat untuk tertanam ke generasi berikutnya. Yang terjadi adalah justru Musa yang bisa menanamkan budaya pada generasi baru tersebut. Kehidupan nomaden berhenti setelah 40 tahun, yang dalam penjelasan Hamka, sudah terbentuk generasi baru yang terlepas dari budaya orang tuanya yang berjiwa budak.
Aku melihat penjelasan Hamka dan dosenku tadi sama, intinya adalah potong generasi. Jika Nabi Musa menjalankannya dengan kehidupan nomaden, sementara Polpot dengan.. beneran memotong leher:p.
Nah, bagaimana untuk Indonesia? Strategi apa yang bisa dilakukan?
Kalau menurutku sih.. melalui pendidikan. Soalnya sekarang nggak mungkin hidup nomaden dan nggak mungkin memotong leher orang semau gue.
Pendidikan itu harus dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menanamkan nilai-nilai positif dan membendung nilai-nilai negatif yang diajarkan lingkungannya. Pendidikan seperti apa??? Pekerjaan besar untuk menjawabnya.
Yang mesti kalau melihat perkembangan saat ini, belum terlihat ada tanda untuk melakukan perubahan budaya dari Departemen Pendidikan. Materi pendidikan kita masih mengarah ke pelatihan ketrampilan, bukan pendidikan jiwa/ sikap. Mungkin ada baiknya juga jika isu perubahan budaya ini bukan menjadi agenda Pemerintah, tetapi agenda ormas-ormas (LSM, Ulama, Gereja, Media, dll). duh.. pusing euy kalau berpikir perubahan budaya.
Sekarang, apa yang bisa kita lakukan? Minimal kita saling menjaga orang-orang terdekat kita dulu deh. Mari kita jaga anak kita, keponakan kita, anak tetangga kita, dan anak-anak lain di dekat kita, agar mereka mendapat budaya yang baik. Ajarkan kejujuran, kerja keras, dll. Hindarkan nilai-nilai materialisme merasuk ke kepala mereka. Insyaallah jika banyak orang-orang yang berpikir seperti ini, sedikit demi sedikit, akhirnya perubahan budaya sebagai bangsa bisa terjadi juga.
Tara
(yang sedang melihat hari libur sebegitu banyak sebagai ajang menambah kemalasan bangsa)
hei, thx y postingannya,,!
bagus..
salam kenal! ![]()