Akhirnya aku pindah ke wordpress mengikuti saran Budi. Ini adalah posting terakhir di FS (capek kalo maintain 2 blog:p). Berikut adalah blog baruku : Idea Blog.
Kemarin aku diskusi dengan Nodi. Tadinya cuman ngobrol santai urusan kerjaan, kok malah akhirnya kita ketemu topik yang menarik.
Kita melihat, ternyata kampanye anti narkoba yang ada sekarang ini nggak bermanfaat. Karena kampanyenya tanpa arah. Dimana-mana kita melihat "katakan tidak pada narkoba", "narkoba membawa sengsara", dll yang intinya mah sama saja. Cuman mengatakan tidak pada narkoba dan narkoba membawa sengsara.
Dari sisi kampanye mencegah pengguna pemula narkoba, kita analisa iklan-iklan itu tidak bermanfaat. Karena bahasa di antara para pengguna narkoba dan pemula adalah "Ah anak mami loe, nggak berani pake narkoba", "ah pengecut loe.. ", dan semacamnya. Jadi seolah anak yang nggak pake narkoba adalah anak yang tidak hebat. Ini persis seperti bagaimana anak-anak merokok pertama kali. Karena lingkungan pertemanan yang mengatakan seperti itu sehingga anak yang bermental lemah akan luluh.
Dengan kondisi ini, maka kampanye narkoba harus bisa membalik persepsi itu! Kampanye narkoba, supaya berhasil, harus diarahkan pada pencitraan bahwa kalo pake narkoba itu lemah! Kalo pake narkoba itu chicken! Jadi kira-kira kita menyebar tag seperti ini
Kira-kira semacam itulah (kalau tim kreatif pastilah ide-idenya lebih menarik). Sayang nggak bisa diskusi panjang. Tapi sempat memetakan langkah-langkah apa yang harus dilakukan lebih lanjut dengan ide ini. Selanjutnya tergantung Nodi. Aku nggak punya energi untuk menindaklanjutinya. Semoga dia bisa mengembangkan ide ini lebih jauh. Jika diseriusi, aku yakin ini bisa jadi langkah besar. Semoga…
Barusan aku membaca blog Sayap Ade. Nyasar sehabis menengok blognya Budi.
Duh.. indah tulisannya. Thanks buat Ade, yang berbagi keindahan melalui tulisan-tulisannya.
Ternyata, ada juga sisi halus dalam diriku. Aku sering merasa aku ini orang yang kasar, lugas, blak-blakan. Tapi ternyata aku begitu menikmati keindahan. Aku senang kehalusan bahasa. Aku senang terbuai..
Sayang aku sendiri tidak bisa menulis indah. Tapi biarlah.. Tuhan menciptakan manusia beraneka ragam. Semua ada kelebihan dan kekurangannya. Dengan segala kekuranganku, pastilah ada sedikit kelebihan yang diberikan Tuhan padaku. Dan aku bersyukur untuk itu. Berharap kelebihan yang ada didiriku bisa bermanfaat bagi sekelilingku, bagi ummat manusia, Amien..
Terimakasih Ade, untuk penyegaran jiwanya:)
Aku barusan sedih,
kemarin naik angkot pas mau tennis ke Sabuga, dan melihat sopir angkot dikasih koran oleh orang (salah satu parasit ekonomi:(). Kemudian penumpang yang disebelah sopir, anak SMA, membuka koran itu untuk dibaca. Dan aku yang dibelakang sopir ikut mencuri lihat berita di koran, dan langsung trenyuh..
Dengan jelas terpampang di pojok kanan atas, gambar yang jelas-jelas telanjang, hanya sedikit disamarkan dengan agak blur. Di bagian bawah juga ada yang serupa. Aku heran, pada kemana aktifis anti pornografi yang dulu teriak-teriak melawan playboy itu ya? Beneran mereka anti pornografi atau cuman mencari sensasi melawan playboy? Kalau cuman cari sensasi.. maka mereka tidak jauh lebih baik dari playboy:(.
Berbicara pornografi, ada hal-hal yang ingin aku tulis. Hal yang SANGAT SERING dijadikan akar perdebatan. Perdebatan pada masalah hak publik atau hak pribadi. Sebenernya itu masalah yang amat sangat sederhana. "Publik" itu ya sesuatu yang berada di "publik", terpampang di muka "publik", atau mudah dijangkau "publik". Jadi kalau bicara kita bebas bertelanjang, ya jelas kita bebas! Selama kita berada di kamar mandi atau di kamar kita sendiri! Tapi kalau kita bertelanjang dan keluyuran di jalanan, artinya bertelanjang di muka "publik". Maka pada saat itu hukum publik yang berhak mengaturnya! Tidak berlaku hukum individual!
Jadi kalau ada para aktifis pornografi yang menyatakan pornografi bagian dari kebebasan berekspresi, bagian dari kebebasan individu, itu namanya konyol! Namanya nggak bisa membedakan mana individu dan mana publik!
Salah satu kasus yang menurutku menarik adalah foto telanjang Anjasmara dan artis … (lupa aku siapa namanya). Disini terjadi salah kaprah. Foto yang hanya dipamerkan didalam pameran seni, dengan ada kurator seni sebelumnya (jadi ada yang menyeleksi produk mana saja yang dapat dipamerkan di situ. Kalau salah istilah, silahkan dikoreksi aja), kok malah diramaikan dan dinyatakan sebagai pornografi. Seharusnya ini dibebaskan dari tuntutan pornografi, karena jelas areanya hanya dibatasi di dunia seni. Kecuali jika ada pasal yang menyatakan pelarangan pornografi dalam seni.
Berbeda kasusnya dengan dulu kasus foto telanjang Sophia Latjuba yang dipasang di majalah …. (Popular kali ya? Lupa aku euy). Foto itu ketika diprotes banyak orang, berkedok itu produk seni, bukan pornografi. Nah ini baru yang namanya cari gara-gara. Kalau memang itu produk seni, mestinya ditampilkannya di majalah Horizon, yang memang terkenal sebagai majalah seni dan budaya. Kalau dipasangnya di majalah yang terkenal mengumbar nafsu; kalau pembelinya sebagian besar terangsang; masa itu tujuannya seni? Seni macam apa??? (Disini ada komentar lugas W.S. Rendra "Seni itu ya seni! Porno itu air seni!!!" Ngakak banget aku baca komentar itu :)))
Kalau kemudian aktifis pornografi mencela para penentangnya dengan mengatakan: munafik lah! bla bla bla… jawabannya adalah : Bullshit!!! Bedakan antara "pribadi" dan "publik"!!! Bahwa ada pribadi-pribadi tertentu dengan effort yang diluar kewajaran umum tetap bisa mendapatkan pornografi (dan tidak tersentuh hukum), ya biarkan saja! Namanya system kan juga ada bocornya! (Seperti pencurian dilarang, ada juga kasus pencurian dan tidak tertangkap). Yang jelas adalah, harus ditarik garis yang tegas antara pribadi dan publik! Jangan sampai pribadi menindas publik! Pribadi harus tunduk dibawah kepentingan publik! Bukan publik tunduk dibawah kepentingan pribadi!
Judulnya.. Huh!
Jangan coba-coba tanya arti judul itu deh, aku sendiri juga nggak ngerti:D
Itu sengaja pake judul biar keliatan keren kok. Nggak tahu keren beneran atau malah ngawur:D
Intinya sih, aku pengen me-review bagaimana cerita-cerita Kho Ping Ho dibandingkan kehidupan saat ini. Ternyata dari hasil perenunganku, aktifitas-aktifitas yang diungkap di Kho Ping Ho ternyata secara prinsip juga terjadi di masa kini. Yang ada mungkin hanya perbedaan "baju"nya alias beda latar belakangnya aja. Berikut point-point temuanku :
Itulah beberapa point yang aku lihat dalam karya Kho Ping Ho
Alhamdulillah, hari ini diriku bertambah tua. Syukur atas semua rahmat-Nya.. (meski sedih merasa diri makin tua. Aku jadi mengerti perasaan orang-orang yang takut tua, karena aku juga mengalaminya. Tapi gimana lagi.. Itu sudah ayat-Nya yang tidak bisa dilawan).
Hari ini aku bahagia, karena ternyata masih cukup banyak sahabat yang ingat hari ulang tahunku. Keluargaku sendiri, sudah pastilah ingat. Adikku, Iim, adalah penelpon pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Disusul orang tuaku. Kemudian SMS bermunculan. Ada dari Ari (ini adiknya Ardi), dari Ike (ini ngirim SMSnya kecepetan, salah tanggal. tapi aku juga suka salah tanggalnya Ike sih:D). Ada dari kakak-kakakku, dan ponakanku yang paling bangor, Hana, kirim ucapan selamat sambil pesen "Traktir aku dong!". Gina adalah sahabat yang tidak aku kira masih inget. Duh.. sahabat baikku ini, seneng deh dia masih inget diriku. Dina di kantor tadi pagi langsung ngasih ucapan selamat. Kemarin Ibunya Dina malah dah ngasih kado duluan :D. Terus Nitha tadi pagi nelpon, sebelum meetingku yang pertama di awal minggu dengan client:D. Penia juga kirim SMS. Beberapa teman juga mengucap selamat lewat YM (ada Nanang, Teguh, Buhud, Erwin, Yuni). Dan yang barusan persis, Sophie, sahabatku sejak SMA, mengirimkan SMS juga! Nggak ngira banget dia masih inget. Kami ulang tahunnya deket, dia tgl 19, jadi beberapa hari diatasku. Kemarin aku mau send greetings, tapi dah telat 2 hari, jadinya malu:D.
Duh senengnya.. Thanks all my friends, brothers and sisters for all your greetings. It’s touchy to find that so many people still remember my birthday and send greetings. It’s only a proof that they love me. Thankyou all.. and I love you too… Hoping that sometimes I can show my love to you..
Demi masa..
Sesungguhnya manusia itu merugi,
Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal sholeh, dan saling mengingatkan tentang kebenaran, dan saling mengingatkan tentang kesabaran.
(Al Qur’an, Surat Al-Ashr)
Ada dua point yang aku lihat dalam surat tersebut. Pertama tentang masa. Kedua tentang bagaimana supaya tidak rugi menghadapi masa.
Aku tertarik tentang masa (waktu). Aku merasakan betapa takdir kita berjalan diatas masa. Tuhan mengendalikan takdir kita dengan menghadirkan kejadian satu demi satu dalam masa kita masing-masing. Betapa sering kita merasa "kok waktunya nggak pas sih?". Itulah kekuasaan Tuhan. Tuhan sengaja memberikan "waktu yang tidak pas" untuk kita. Artinya, memang itu bukan takdir kita. Meski sering juga kita merasakan "kok pas waktunya!". Artinya, yang "pas waktunya" itulah takdir kita.
Cukup banyak aku mengalami kebetulan-kebetulan yang dalam probabilitas sangat-sangat kecil. Namun probabilitas yang sangat kecil itu terjadi! Hanya kebesaran Tuhan lah yang membuat itu semua terjadi.
Aku sedang banyak merenung. Entah sebenarnya merenungi masa, takdir, atau Tuhan, aku nggak tahu. Yang jelas aku merasa takjub. Terkadang merasa sayang (tapi aku mencoba mematikan perasaan ini, karena ini seperti menggugat kebesaran Tuhan), terkadang aku merasa sangat bersyukur (bagaimanapun, masih jauh lebih banyak kebaikan yang aku terima daripada kesulitan/ cobaan/ hukuman yang aku terima).
Aku sekarang mengembangkan semua indra yang ada di didiriku. Mencoba menangkap pesan-pesan Tuhan yang disampaikan padaku. Pesan yang disampaikan melalui berbagai kejadian yang ada padaku. Berharap aku tidak melakukan kesalahan membaca pesan. Berharap tidak tertinggal masa.
Bismillah, jalani aja semuanya. Semua sudah ketentuan-Nya
Aku belum baca bukunya Huntington tentang The Clash of Civilization, cuman membaca berbagai tulisan yang mengupasnya aja. Melihat gejala-gejala yang ada saat ini, mau nggak mau aku kok jadi merasa berpikir bahwa perang peradaban memang benar-benar telah terjadi ya..
Coba lihat kejadian-kejadian berikut ini :
Apakah itu kejadian-kejadian yang terpisah, hanya kebetulan yang terjadi satu demi satu? Jika berpikir seperti itu, itu sama dengan kasus ada kenaikan suhu di seluruh dunia, tapi menolak kalau itu disebut pemanasan global. Alias mengingkari kenyataan! Sekali lagi ingat hukum statistik : tidak ada kebetulan yang terus menerus!
Yang menjadi pertanyaanku sekarang, bagaimana menghadapi perang peradaban ini? Haruskah kita mendiamkannya saja, atau membalasnya? Please note: sebagian besar serangan dimulai dan dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa dan keturunannya (Amerika dan Australi), yang sejak jaman dahulu memang senang berperang dan menganeksasi bangsa lain! (Silahkan baca history bangsa Eropa, mulai dari perang kastil antar bangsawan, hingga kolonialisme Portugis, Prancis, Inggris, Spanyol, Belanda, dll. Kalau masih kurang puas, lihat juga siapa yang saat ini melakukan investasi besar dalam persenjataan dan terus mengembangkan teknologi perang. Masih mau membela mereka bukan bangsa yang suka perang?).
Untuk bermain hancur-hancuran, aku sih sudah ada berbagai ide berlintasan di kepalaku. Masalahnya.. apakah hancur-hancuran itu yang akan kita lakukan? Jika kita menolak skenario hancur-hancuran, pertanyaannya kemudian : bagaimana supaya serangan yang terus menerus tersebut berhenti?
Kalau membaca sejarah Nabi, ada berbagai cara Nabi menghadapi serangan (fisik atau hinaan). Ada kasus Nabi menghadapi serangan/hinaan dengan kelembutan. Ada kasus Nabi menghadapi hinaan dengan menghindar, dan ada kasus Nabi menghadapi serangan dengan pedang. Masing-masing tentu dengan pertimbangan seorang Rasul dan petunjuk Tuhan. Itu kasus Nabi di jaman dahulu. Kembali ke pertanyaan sebelumnya, bagaimana menghadapi perang peradaban ini? Haruskah kita mendiamkannya atau membalasnya? Atau mungkin ada strategi yang lain?
Aku belum tahu jawabannyaL
Aku kok bingung dengan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) dan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Apa bedanya dua badut ini?
Yang bikin aku heran juga, sebenernya kerjaan mereka apa sih? Bukannya denger mereka melakukan perlindungan pada anak-anak yang katanya dipekerjakan secara paksa di jermal-jermal di tengah lautan di Medan sana, atau bagaimana mereka mendorong penanganan anak-anak jalanan oleh pemerintah, yang terjadi malah kerjaannya ngikutin gosip. Kerjaannya malah ngurusin anaknya Tommy dan anaknya Tamara. Kalau kayak gini, mending jadi Komisi Perlindungan Anak Artis dan Selebritis Indonesia aja deh. Jelas, nama sesuai dengan pekerjaan!
Note : tulisan ini dibuat oleh orang yang nggak tahu Komnas PA ataupun KPAI. Hanya melihat berita-berita gosip bertebaran di media tentang Komnas PA dan KPAI.
Aku baca ini kok jadi terharu :
http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0705/31/085530.htm
Bagaimana semut mengorbankan dirinya untuk kelancaran kelompok besarnya. Subhanallah..